Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi content writer
ilustrasi content writer (pexels.com/Vlada Karpovich)

Intinya sih...

  • Lowongan content writer seringkali tidak mencerminkan pekerjaan sebenarnya

  • Job desk yang berubah karena kebutuhan kerja yang terus bergerak mengikuti situasi

  • Pekerjaan menulis konten sulit dipatok sejak awal, banyak detail baru muncul setelah seseorang benar-benar masuk ke dalam tim

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Job desk content writer sering terdengar sederhana, seolah hanya berkutat pada menulis artikel lalu selesai, padahal kenyataannya justru jauh lebih complicated. Banyak orang masuk ke dunia ini dengan ekspektasi yang dibentuk dari deskripsi lowongan, lalu terkejut ketika pekerjaan yang diemban tidak sepenuhnya selaras dengan yang tertulis.

Perbedaan job desk ini merupakan hasil dari kebutuhan kerja yang terus bergerak mengikuti situasi. Job desk kerap berubah bentuk karena realitas lapangan tidak bisa dipadatkan dalam satu paragraf lowongan. Berikut beberapa alasannya.

1. Perusahaan memilih bahasa aman agar lowongan tetap menarik

ilustrasi lowongan kerja atau loker (pexels.com/Ron Lach)

Lowongan content writer umumnya ditulis dengan bahasa yang dibuat seramah mungkin supaya tidak menakuti pelamar sejak awal. Kalimatnya ringkas, fokus pada inti pekerjaan, dan menghindari daftar tugas yang terlalu teknis. Di tahap ini, job desk lebih berfungsi sebagai gambaran kasar. Tujuannya sederhana, yaitu menarik orang yang tepat untuk melamar dulu.

Masalah baru terasa setelah mulai bekerja karena pekerjaan menulis jarang berdiri sendirian. Selain menulis artikel, ada riset singkat, penyesuaian gaya klien, atau revisi konten lama yang ikut masuk ke tugas kerja. Detail semacam ini sering tidak muncul di lowongan karena dianggap masih satu jalur.

2. Kebutuhan kerja berubah sebelum posisi benar-benar terisi

ilustrasi lowongan kerja atau loker (pexels.com/Ron Lach)

Banyak lowongan dibuat ketika tim sedang butuh bantuan, tetapi proses rekrutmen bisa memakan waktu. Selama itu, arah kerja bisa berubah tanpa disadari pelamar. Topik yang tadinya prioritas bisa bergeser, platform baru mulai digarap, atau target audiens ikut menyesuaikan. Situasi ini lumrah, terutama di tim konten yang kerjanya mengikuti arus.

Ketika content writer akhirnya masuk, job desk yang dijalani sudah menyesuaikan kondisi terbaru. Tugas yang awalnya terlihat fokus menulis artikel saja bisa berkembang ke caption, newsletter, atau pembaruan konten lama. Dari sisi pekerja, ini terasa berbeda dari lowongan. Dari sisi tim, ini sekadar menyesuaikan kebutuhan yang berjalan.

3. Satu posisi menampung beberapa tugas yang dianggap satu paket

ilustrasi content writer (pexels.com/Ron Lach)

Di banyak perusahaan, peran content writer tidak berdiri sendirian secara kaku. Penulisan, penyuntingan ringan, dan penyusunan ide sering dianggap satu paket kerja. Lowongan ditulis untuk satu posisi, tetapi praktiknya mencakup beberapa tugas yang saling beririsan. Hal ini jarang dijelaskan panjang lebar karena dianggap sudah menjadi kebiasaan.

Akhirnya, penulis diminta ikut mengusulkan judul, menyesuaikan alur tulisan, atau mengecek ulang struktur naskah. Dari luar terlihat seperti keluar dari job desk. Padahal di dalam tim kecil atau menengah, pembagian seperti ini justru mempercepat kerja. Bukan soal rangkap jabatan, melainkan cara kerja yang efisien.

4. Tugas berkembang setelah kemampuan penulis mulai terlihat

ilustrasi content writer (pexels.com/Ron Lach)

Job desk di lowongan bersifat netral karena belum tahu siapa yang akan mengisi posisi tersebut. Setelah bekerja, atasan mulai melihat cara menulis, kecepatan adaptasi, dan pemahaman terhadap topik. Dari sini, pembagian tugas bisa berubah secara alami. Bukan karena aturan tertulis, tetapi karena kenyataan di lapangan.

Jika penulis dinilai mampu mengerjakan topik yang lebih rumit atau format tertentu, tugas tambahan bisa muncul. Judul posisi tetap sama, tetapi ruang geraknya bertambah. Hal ini sering disalahartikan sebagai penambahan beban.

5. Pekerjaan menulis konten sulit dipatok sejak awal

ilustrasi content writer (pexels.com/William Fortunato)

Menulis konten tidak punya beban kerja yang selalu sama setiap hari. Ada tulisan yang bisa selesai cepat, ada pula yang perlu riset lebih panjang dan revisi berlapis. Variasi ini membuat job desk content writer sulit ditulis secara presisi sejak awal. Lowongan hanya bisa memberi gambaran umum, bukan simulasi kerja sehari-hari.

Detail pekerjaan baru terasa setelah kerja. Di titik ini, muncul kesan bahwa praktiknya berbeda dari lowongan. Padahal yang berubah bukan definisi pekerjaannya, melainkan situasi yang dihadapi. Dunia konten memang bergerak, dan deskripsi kerja sering tak selaras kenyataannya.

Lowongan kerja jarang bisa menggambarkan seluruh isi pekerjaan secara utuh. Banyak detail baru muncul setelah seseorang benar-benar masuk ke dalam tim. Itulah sebabnya perbedaan sering terasa, meski arahnya masih sama. Kalau sejak awal sudah paham kondisi ini, masihkah perbedaan tersebut terasa sebagai masalah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team