Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Perusahaan Mengadakan Exit Interview?
ilustrasi exit interview (unsplash.com/Resume Genius)
  • Exit interview membantu perusahaan memahami alasan sebenarnya karyawan resign, termasuk faktor budaya kerja, hubungan dengan atasan, dan peluang karier yang dirasa terbatas.
  • Melalui exit interview, perusahaan bisa menemukan masalah internal yang tidak terlihat selama karyawan masih bekerja, seperti komunikasi buruk atau sistem kerja yang membuat stres.
  • Hasil exit interview digunakan HR untuk menganalisis pola penyebab resign, menurunkan turnover, serta memperbaiki kebijakan dan budaya kerja agar retensi karyawan meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika seorang karyawan memutuskan untuk resign, prosesnya kadang tidak berhenti setelah surat pengunduran diri disetujui. Di banyak perusahaan, ada satu tahapan terakhir yang sering kali dianggap formalitas semata, yaitu exit interview. Ini adalah wawancara yang dilakukan saat karyawan akan keluar.

Bagi sebagian orang, exit interview terasa seperti percakapan biasa sebelum benar-benar meninggalkan kantor untuk terakhir kalinya. Ada juga yang menganggap sesi ini tidak terlalu penting karena keputusan resign sudah bulat dan tidak mungkin diubah lagi.

Bagi perusahaan, exit interview justru dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Jadi, mengapa perusahaan repot-repot mengadakan exit interview, ya?

1. Untuk mengetahui alasan sebenarnya seorang karyawan resign

ilustrasi seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya (pexels.com/RDNE Stock project)

Alasan yang tertulis di surat pengunduran diri sering kali sangat umum. Misalnya, ingin mencari tantangan baru, pindah domisili, atau ingin fokus pada keluarga. Namun, pada kenyataannya, alasan seseorang meninggalkan pekerjaan bisa jauh lebih kompleks.

Bisa jadi karyawan merasa peluang kariernya mentok, beban kerjanya terlalu berat, memiliki masalah dengan atasan, atau merasa budaya kerja di perusahaan tidak cocok dengannya. Melalui exit interview, perusahaan berharap bisa mendapat gambaran yang lebih jujur mengenai penyebab seseorang memutuskan pergi. Informasi ini penting karena jika alasan yang sama terus muncul dari banyak karyawan, berarti ada masalah yang memang perlu dibenahi.

2. Mencari tahu masalah yang mungkin tidak terlihat oleh manajemen

ilustrasi exit interview (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Tidak semua karyawan merasa nyaman menyampaikan kritik saat masih bekerja di perusahaan tersebut. Ada yang khawatir dianggap tidak loyal, ada yang takut hubungannya dengan atasan menjadi buruk, dan ada pula yang merasa pendapatnya tidak akan mengubah apa pun.

Ketika sudah memutuskan untuk resign, biasanya karyawan menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat mereka. Mereka mungkin lebih berani bercerita tentang budaya kerja yang kurang sehat, komunikasi yang buruk antartim, atau sistem kerja yang membuat stres. Masukan seperti ini sering kali menjadi cermin bagi perusahaan untuk melihat kondisi internal yang sebelumnya tidak terlihat.

3. Membantu menurunkan angka turnover karyawan

ilustrasi exit interview (unsplash.com/Resume Genius)

Turnover yang tinggi bisa menjadi masalah besar bagi perusahaan. Setiap kali ada karyawan yang keluar, perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk proses rekrutmen, pelatihan, hingga penyesuaian karyawan baru.

Jika perusahaan mengetahui penyebab utama banyak karyawan resign, mereka bisa mengambil langkah untuk memperbaikinya. Misalnya, jika banyak orang keluar karena gaji dianggap tidak kompetitif, perusahaan bisa mulai meninjau ulang struktur kompensasi.

Kalau penyebabnya kurangnya peluang promosi, perusahaan mungkin perlu memperbaiki jalur karier karyawan. Dengan kata lain, exit interview bisa menjadi alat pencegahan agar lebih sedikit orang yang memutuskan pergi di masa depan.

4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan perusahaan dari sudut pandang karyawan

ilustrasi exit interview (unsplash.com/Mina Rad)

Menariknya, exit interview tidak selalu berisi kritik. Banyak mantan karyawan juga memberikan apresiasi terhadap hal-hal yang menurut mereka sudah berjalan dengan baik. Misalnya, lingkungan kerja yang nyaman, rekan kerja yang suportif, program pelatihan yang bagus, atau fleksibilitas jam kerja.

Informasi positif ini juga penting karena membantu perusahaan memahami apa yang perlu dipertahankan. Kadang perusahaan terlalu fokus memperbaiki kekurangan hingga lupa menjaga hal-hal yang sebenarnya menjadi alasan karyawan betah bekerja di sana.

5. Sebagai bahan evaluasi untuk tim HR

ilustrasi exit interview (unsplash.com/Van Tay Media)

Departemen HR biasanya mengumpulkan data dari berbagai exit interview, lalu mencari pola yang muncul. Jika dalam 1 tahun ternyata banyak karyawan dari divisi tertentu yang resign karena alasan serupa, hal itu bisa menjadi sinyal adanya masalah di unit tersebut.

Data ini jauh lebih berguna dibanding sekadar menebak-nebak penyebab tingginya angka resign. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin mudah pula perusahaan mengambil keputusan yang berdasarkan fakta, bukan asumsi.

Pada akhirnya, exit interview bukan sekadar ritual sebelum menyerahkan kartu akses kantor untuk terakhir kalinya. Bagi perusahaan, percakapan singkat ini bisa menjadi sumber informasi yang sangat berharga untuk memperbaiki budaya kerja, meningkatkan retensi karyawan, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan seseorang untuk pergi. Jadi, kalau kamu harus menjalani exit interview, jangan anggap perusahaan mempersulit kamu untuk resign, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article