Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya
ilustrasi seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Terlalu sering resign bikin CV terlihat gak konsisten dan susah dipercaya.

  • Karier jadi dangkal karena skill dan relasi gak sempat matang.

  • Mental dan keuangan ikut goyah karena terbiasa lari dari tekanan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat ini, berpindah kerja sudah gak lagi dianggap tabu. Di media sosial, cerita resign sering dibungkus dengan narasi “demi pertumbuhan” atau “mencari lingkungan yang lebih sehat”. Kedengarannya keren, progresif, dan penuh kesadaran diri. Namun, di balik itu semua, ada satu kebiasaan yang sering luput dibahas secara jujur, yakni resign terlalu mudah, cepat, dan sering.

Masalahnya, resign bukan cuma soal keluar dari kantor lama, lalu masuk ke kantor baru. Ada efek berantai yang pelan-pelan bisa merusak karier ke depannya kalau dilakukan tanpa pertimbangan matang. Bukan berarti resign itu salah. Akan tetapi, kalau sedikit capek langsung cabut atau sedikit gak cocok langsung angkat kaki, konsekuensinya bisa lebih panjang dari yang dibayangkan. Biar kamu gak gegabah ambil keputusan, yuk, lihat apa yang bisa terjadi kalau kamu terlalu mudah resign!

1. CV terlihat lompat-lompat dan sulit dijelaskan

ilustrasi curriculum vitae atau CV (pexels.com/Lukas)

HR memang makin terbuka, tapi bukan berarti mereka tutup mata dengan riwayat pelamar kerja. CV dengan riwayat kerja hanya 3 bulan, 6 bulan, atau maksimal 1 tahun tetap akan memicu pertanyaan. Ini bukan soal toksik atau tidak, melainkan soal konsistensi. HR jadi curiga jangan-jangan kamu gampang bosan dan kabur saat tantangan datang.

Semakin sering resign, semakin berat beban penjelasannya. Sekali dua kali masih bisa dimaklumi. Namun, kalau polanya berulang, kamu harus siap dengan jawaban yang solid dan masuk akal. Kalau gak, label “kurang tahan tekanan” atau “tidak loyal” bisa menempel tanpa kamu sadari.

2. Skill dangkal karena kerjaan gak pernah tuntas

ilustrasi bekerja sebagai staf lapangan (pexels.com/Kindel Media)

Kerja itu bukan cuma soal belajar hal baru, tapi juga menuntaskan proses. Banyak skill penting, seperti pemecahan masalah kompleks, kepemimpinan kecil-kecilan, atau menghadapi konflik tim, baru terasa setelah kamu cukup lama di satu tempat. Kalau keburu resign, yang kamu dapat cuma permukaannya.

Akibatnya, kamu terlihat punya banyak pengalaman, tapi minim kedalaman. Saat masuk ke level lebih tinggi, gap ini akan terasa. Kamu tahu banyak hal, tapi gak benar-benar ahli pada satu area. Ini berbahaya dalam jangka panjang karena karier butuh spesialisasi, bukan sekadar koleksi pengalaman singkat.

3. Jaringan profesional jadi setengah matang

ilustrasi makan siang dengan teman sekantor (pexels.com/fauxels)

Jejaring bukan soal kenal nama, tapi soal kepercayaan. Kepercayaan dibangun dari waktu, konsistensi, dan kontribusi. Kalau kamu sering resign, relasi yang terbentuk sering kali berhenti pada tahap “sekadar rekan kerja”. Padahal, peluang besar, seperti rekomendasi, proyek sampingan, atau ajakan pindah ke posisi strategis, biasanya datang dari orang yang pernah kerja bareng cukup lama dan tahu kualitasmu. Terlalu cepat pergi bisa bikin kamu kehilangan potensi dukungan jangka panjang.

4. Mental jadi gak terlatih menghadapi tekanan

ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat (pexels.com/Yan Krukau)

Ironisnya, terlalu sering resign bisa bikin toleransi stres makin rendah. Setiap kali ada konflik, target berat, atau atasan yang menyebalkan, otakmu otomatis mencari jalan keluar tercepat: resign. Padahal, kemampuan bertahan dan menyelesaikan masalah justru salah satu aset paling berharga dalam karier. Belajar bertahan bukan berarti pasrah, tapi melatih diri menghadapi realitas kerja yang memang gak selalu ideal. Kalau ini gak dilatih, kamu akan terus mengulang siklus yang sama di mana pun kamu bekerja.

5. Stabilitas finansial bisa terganggu

ilustrasi dompet kosong (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Resign bukan cuma soal mental, tapi juga uang. Masa menganggur, adaptasi di tempat baru, atau gaji yang diulang dari bawah bisa bikin kondisi finansial gak stabil. Apalagi, kadang resign dilakukan tanpa persiapan dana darurat yang matang. Dalam jangka panjang, pola ini bisa menghambat target finansial, seperti menabung, investasi, atau rencana besar lainnya. Karier yang lompat-lompat sering kali sejalan dengan keuangan yang ikut goyah.

Intinya, resign merupakan hak, tapi juga keputusan besar. Mudah resign tanpa refleksi bisa membawa konsekuensi yang diam-diam menumpuk. Sebelum memutuskan keluar, ada baiknya bertanya ke diri sendiri. Ini benar-benar jalan terbaik atau cuma cara cepat lari dari ketidaknyamanan? Karena di dunia kerja, yang bikin naik level bukan cuma berani pindah, tapi juga berani bertahan dan menyelesaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎