Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi negosiasi kenaikan gaji
ilustrasi negosiasi kenaikan gaji (pexels.com/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Memiliki bukti hasil kerja yang jelas

  • Mengajukan saat evaluasi kinerja rutin atau 1-on-1

  • Setelah mendapat tanggung jawab baru atau scope kerja naik

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Membahas kenaikan gaji sering bikin tidak enak hati, bahkan saat kamu yakin kontribusimu sudah besar. Banyak orang akhirnya memilih menahan diri karena takut terdengar menuntut atau dianggap tidak peka dengan kondisi perusahaan. Padahal, percakapan soal kompensasi bisa berjalan lebih lancar kalau kamu memilih timing yang tepat.

Waktu penyampaian punya pengaruh besar. Ucapan yang sama dapat dianggap wajar ketika ada alasan dan konteks yang mendukung, tetapi bisa terdengar berat jika muncul di timing yang salah. Berikut ini lima momen yang biasanya paling aman untuk mengangkat topik kenaikan gaji dengan cara yang sopan dan tetap terlihat profesional.

1. Setelah kamu punya bukti hasil kerja yang jelas

ilustrasi menunjukkan hasil kerja pada atasan (pexels.com/RDNE Stock project)

Kalau kamu datang cuma dengan kalimat aku sudah kerja keras, obrolan biasanya cepat melebar ke arah lain. Sebaliknya, ketika kamu menunjukkan capaian yang jelas seperti target terpenuhi, proyek selesai dan terasa manfaatnya, atau performa tim ikut membaik, posisimu jadi lebih aman. Adanya bukti membuat permintaanmu terdengar seperti penyesuaian atas kontribusi, bukan meminta tambahan hanya karena kelelahan.

Kamu tidak harus menyiapkan setumpuk bahan, cukup pilih dua atau tiga contoh paling jelas. Jelaskan hasilnya, lalu beri jeda, karena atasan biasanya butuh waktu memahami poinnya. Terlalu banyak penjelasan justru bisa membuat obrolan terasa membela diri, padahal kamu sedang menawarkan fakta.

2. Saat evaluasi kinerja rutin atau 1-on-1 yang membahas progres

ilustrasi evaluasi kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Waktu performance review, appraisal, atau one on one, biasanya alur diskusinya memang mengarah ke evaluasi kontribusi. Karena temanya seputar peran dan arah kerja, membicarakan kompensasi tidak akan terasa aneh. Kamu hanya perlu memilih celah yang tepat. Kalau transisinya terasa agak canggung, itu wajar terjadi.

Persiapkan ringkasan pencapaian, perubahan beban kerja, serta rentang angka yang kamu nilai masuk akal. Penyampaiannya juga tidak harus seperti presentasi, cukup update singkat lalu hubungkan ke kompensasi. Jika atasan menanyakan dasar perhitungannya, jawab sederhana saja bahwa tanggung jawab meningkat dan dampak kerja kamu juga bertambah.

3. Setelah kamu mendapat tanggung jawab baru atau scope kerja naik

ilustrasi negosiasi kenaikan gaji (pexels.com/Thirdman)

Saat beban tanggung jawabmu naik, wajar jika posisi dan tuntutan pada peranmu ikut bergeser. Misalnya, kamu mulai memimpin tim, menangani klien yang lebih besar, atau mengambil urusan yang sebelumnya bukan bagian dari jobdesk. Itu sudah termasuk perubahan peran yang besar, bukan sekadar tambahan tugas. Jika dibiarkan terlalu lama, perubahan itu bisa dianggap hal biasa dan jadi makin sulit dipakai sebagai bahan negosiasi.

Sampaikan permintaanmu sebagai penyesuaian peran, bukan sekadar minta bonus. Jelaskan apa yang berubah, apa saja yang kini kamu pegang, lalu beri waktu agar atasan mencerna. Kalau jawabannya belum keluar saat itu juga, belum tentu ditolak, karena atasan sering perlu waktu untuk mempertimbangkan.

4. Setelah perform kamu konsisten kuat selama beberapa bulan

ilustrasi negosiasi kenaikan gaji (pexels.com/Gustavo Fring)

Satu pencapaian keren memang membantu, tapi yang membuat atasan lebih yakin biasanya adalah konsistensi. Saat kamu menunjukkan performa yang konsisten selama beberapa bulan, obrolan jadi lebih nyaman dan tidak terlihat menuntut. Yang kamu pamerkan bukan satu pencapaian saja, melainkan bukti pola kerja yang bisa diandalkan.

Sajikan tren capaian, kualitas, dan dampak secara sederhana. Kamu bisa ceritakan proyek yang berkali-kali berjalan tanpa drama, masalah yang kamu atasi sebelum membesar, atau target yang tercapai dengan eksekusi yang rapi. Kalau ada sedikit penurunan sesekali, itu normal, tapi gambaran besarnya tetap menunjukkan performa kamu stabil.

5. Saat kondisi tim atau perusahaan sedang relatif sehat dan kebutuhan peranmu tinggi

ilustrasi negosiasi kenaikan gaji (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ada titik tertentu ketika suasana kerja di kantor terasa agak lega, walaupun aktivitas tetap sibuk. Itu biasanya menandakan kondisi tim sedang baik-baik saja. Saat proyek berjalan lancar, target realistis, atau semua orang lagi fokus mengejar capaian, pembahasan soal kompensasi cenderung lebih mudah diterima karena tidak tabrakan dengan suasana krisis.

Kalau peranmu lagi krusial, misalnya kamu pegang bagian inti atau jadi orang yang paling sering diminta menyelesaikan masalah, posisi tawarmu otomatis menguat. Cukup sampaikan, "Saya ingin memastikan kompensasi saya selaras dengan peran yang saya jalankan sekarang," lalu berhenti sejenak. Biarkan atasan menimbang beberapa detik dan jaga nada tetap tenang.

Tidak perlu menunggu momen sempurna untuk mengajukan pembahasan soal naik gaji. Cari timing yang paling masuk akal, bawa data yang jelas, dan komunikasikan dengan santai tapi tegas. Bila belum ada keputusan saat ini, setidaknya jalur komunikasinya sudah terbentuk untuk pembahasan selanjutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian