Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi negosiasi kerja
ilustrasi negosiasi kerja (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)

Intinya sih...

  • Alasan awal resign perlu diingat kembali, terutama jika masalahnya bukan hanya soal kompensasi.

  • Menerima counter offer bisa memengaruhi stabilitas dan kepercayaan jangka panjang, serta perlu dipertimbangkan prospek pengembangan karier.

  • Faktor emosional dan kenyamanan juga penting, namun dampak terhadap reputasi profesional harus diperhatikan dengan serius.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen ketika surat resign sudah diajukan lalu perusahaan lama datang dengan counter offer sering terasa membingungkan. Di satu sisi ada rasa dihargai karena kontribusi selama ini akhirnya diakui. Di sisi lain, sudah ada komitmen baru yang menanti di tempat kerja berikutnya dengan harapan dan tantangan berbeda.

Situasi ini bukan sekadar soal nominal gaji yang lebih tinggi atau jabatan yang terdengar lebih prestisius. Keputusan menerima atau menolak counter offer menyangkut arah karier, stabilitas emosional, hingga reputasi profesional jangka panjang. Tanpa pertimbangan matang, langkah yang diambil bisa berujung penyesalan. Yuk, telaah beberapa pertimbangan penting sebelum menentukan sikap!

1. Alasan awal ingin resign

ilustrasi wanita burnout (pexels.com/Anna Tarazevich)

Keputusan resign biasanya gak muncul secara tiba-tiba. Ada akumulasi alasan seperti beban kerja yang kurang sehat, budaya kerja yang gak sejalan, atau peluang pengembangan yang terasa buntu. Penting untuk mengingat kembali apa pemicu utama keinginan tersebut.

Jika masalahnya hanya soal kompensasi, counter offer mungkin terasa relevan. Namun, kalau alasan utamanya adalah lingkungan kerja, kepemimpinan, atau arah karier yang stagnan, kenaikan gaji belum tentu menjadi solusi. Mengabaikan alasan awal hanya karena tawaran baru bisa membuat situasi lama terulang dalam waktu dekat.

2. Stabilitas dan kepercayaan jangka panjang

ilustrasi negosiasi sukses (pexels.com/Werner Pfennig)

Menerima counter offer berarti tetap berada di perusahaan yang sudah mengetahui rencana resign sebelumnya. Secara profesional, ini bisa memengaruhi tingkat kepercayaan manajemen terhadap loyalitas. Beberapa perusahaan mungkin tetap profesional, tapi ada juga yang mulai memposisikan karyawan sebagai risiko.

Selain itu, perlu mempertimbangkan apakah tawaran tersebut benar-benar komitmen jangka panjang atau hanya respons reaktif agar posisi tidak kosong mendadak. Dalam banyak kasus, karyawan yang menerima counter offer tetap keluar dalam waktu kurang dari satu tahun. Stabilitas karier perlu dipikirkan secara realistis, bukan hanya berdasarkan emosi sesaat.

3. Prospek pengembangan karier

ilustrasi pria berpikir (pexels.com/cottonbro studio)

Setiap keputusan karier sebaiknya dilihat dalam perspektif beberapa tahun ke depan. Apakah perusahaan lama benar-benar menawarkan jalur pengembangan yang lebih jelas, atau sekadar penyesuaian gaji tanpa perubahan tanggung jawab? Pertumbuhan profesional gak selalu sejalan dengan peningkatan nominal.

Bandingkan juga dengan peluang di perusahaan baru, baik dari sisi jaringan, proyek, maupun eksposur industri. Kadang lingkungan baru memberi ruang belajar dan tantangan yang lebih luas. Tanpa pertimbangan matang, keputusan bertahan bisa menghambat perkembangan yang sebenarnya sudah menanti.

4. Faktor emosional dan kenyamanan

ilustrasi pria lelah kerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Rasa nyaman sering menjadi alasan kuat untuk tetap bertahan. Relasi dengan rekan kerja, familiaritas sistem, dan rutinitas yang sudah terbentuk memang terasa aman. Namun, kenyamanan gak selalu identik dengan pertumbuhan.

Perlu membedakan antara rasa aman dan stagnasi terselubung. Terkadang zona nyaman membuat seseorang menunda potensi berkembang lebih jauh. Keputusan yang hanya didorong rasa haru atau tekanan emosional bisa berujung pada kekecewaan di kemudian hari.

5. Dampak terhadap reputasi profesional

ilustrasi pria berpikir (pexels.com/Gustavo Fring)

Menerima counter offer setelah menyatakan resign bisa berdampak pada reputasi di mata perusahaan baru. Dalam dunia profesional yang saling terhubung, konsistensi dan integritas menjadi nilai penting. Keputusan yang berubah secara mendadak dapat memengaruhi persepsi pihak lain.

Selain itu, reputasi internal juga perlu diperhatikan. Rekan kerja dan atasan mungkin memandang situasi ini dengan sudut pandang berbeda. Menimbang dampak reputasi membantu memastikan keputusan yang diambil tetap sejalan dengan citra profesional jangka panjang.

Menerima atau menolak counter offer bukan keputusan sederhana. Ada faktor rasional, emosional, dan strategis yang saling berkelindan dalam satu momen krusial. Dengan mempertimbangkan alasan awal resign, stabilitas, prospek karier, kenyamanan, dan reputasi, keputusan bisa terasa lebih objektif. Pada akhirnya, arah karier adalah tanggung jawab pribadi yang perlu ditentukan dengan kesadaran penuh dan perhitungan matang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian