Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Resiliensi Perempuan Patahkan Stigma Negatif di Lingkungan Kerja
ilustrasi berkarier (pexels.com/Alwyn Dias)
  • Perempuan menunjukkan resiliensi tinggi di dunia kerja dengan membuktikan profesionalitas dan kemampuan setara pria, meski masih menghadapi stigma negatif sejak proses rekrutmen.
  • Jiwa kepemimpinan perempuan terbukti mampu menciptakan terobosan dan menjaga kepercayaan tim, meskipun sering kali harus bekerja lebih keras untuk diterima sebagai pemimpin.
  • Resiliensi membuat perempuan mampu menjadi pencari solusi, penjaga harmoni, hingga menembus bidang kerja maskulin serta meraih posisi strategis tanpa bergantung pada relasi pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Resiliensi adalah ketangguhan. Ini ditunjukkan dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga seseorang dapat bertahan di situasi yang paling sulit sekalipun. Setiap orang hendaknya membangun resiliensi dalam dirinya karena situasi hidup bisa sewaktu-waktu berubah.

Tidak terkecuali di lingkungan kerja yang masih diwarnai stigma negatif terkait perempuan. Perempuan menghadapi tantangan ekstra dibandingkan pria karena adanya berbagai stigma tersebut. Bahkan sejak perekrutan karyawan, ada beberapa pihak yang berpikir lebih untung mempekerjakan pria daripada perempuan.

Tidak perlu ada cuti hamil dan melahirkan. Juga tak usah menyediakan ruang laktasi di kantor. Di tengah masih kuatnya stigma negatif terhadap perempuan di lingkungan kerja, resiliensi mereka akan membuktikan fakta yang berbeda.

1. Perempuan mampu bekerja profesional seperti pria

ilustrasi tenaga medis ambulans (pexels.com/Mikhail Nilov)

Profesionalitas perempuan ketika bekerja kerap diragukan karena keyakinan bahwa sisi emosionalnya lebih kuat daripada logika. Perempuan terlalu terbawa perasaan sehingga menyulitkannya bertindak cepat serta tepat. Kenyataan di lapangan menunjukkan pandangan tersebut tidak benar.

Perempuan yang terdidik dan terlatih dengan baik untuk bekerja di suatu bidang paham betul kapan dapat memperturutkan perasaan atau harus mengendalikannya. Sebagai contoh, banyaknya tenaga medis berjenis kelamin perempuan. Apabila perempuan senantiasa dikuasai perasaan sehingga gampang gak tega melihat penderitaan, tentu seharusnya mereka menghindarinya.

Namun, berkat pendidikan serta pelatihan yang tepat plus minat, tenaga medis perempuan tetap bisa menangani setiap keluhan pasien dengan baik. Perempuan juga tidak meminta perlakuan istimewa di lingkungan kerja cuma karena jenis kelaminnya. Profesionalitas kerja tidak dipengaruhi oleh gender, melainkan training, sikap mental, pengawasan, dan jam terbang.

2. Perempuan juga punya jiwa kepemimpinan

ilustrasi di kantor (pexels.com/Manuel Guillén Vega)

Pria sebagai pemimpin merupakan pandangan yang umum di masyarakat Indonesia. Seakan-akan perempuan tidak pernah memiliki kualitas yang setara apalagi melebihi pria dalam hal ini. Akan tetapi, jika perempuan diberi kesempatan buat menduduki posisi tersebut bakal tampak bahwa jiwa kepemimpinan dapat berada dalam diri siapa pun.

Tinggal orang yang dipimpin bisa atau tidak menerima kepemimpinan perempuan tanpa mereka merasa direndahkan. Khususnya pada pria yang biasa ditempatkan di posisi lebih tinggi daripada perempuan. Perempuan di posisi pemimpin juga tidak akan menyerah menghadapi sejumlah penolakan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Ia akan bekerja lebih keras dan menciptakan terobosan-terobosan baru guna memperoleh kepercayaan dari anak buah. Gaya kepemimpinan perempuan barangkali memang berbeda dari pria. Seperti sisi lembut dan kehati-hatiannya lebih terasa. Namun, itu tidak berarti perempuan tak mampu menjadi leader yang mumpuni.

3. Perempuan sebagai pencari solusi sekaligus penjaga harmoni antarpihak

ilustrasi bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

Saat perempuan bekerja, ia memiliki dua senjata sekaligus. Satu sisi, perempuan mampu mencari berbagai alternatif solusi atas masalah yang dihadapi kantor. Di sisi lain, mereka juga memiliki sifat alami sebagai penjaga harmoni.

Kecenderungan perempuan adalah menginginkan segala sesuatunya relatif stabil dan baik-baik saja. Perempuan tidak menyukai konflik apalagi melibatkan banyak pihak. Maka dari itu, mereka kerap berperan sebagai penghubung berbagai kepentingan.

Supaya semua pihak merasa cukup puas dan tak dirugikan. Mereka tidak suka menang sendiri, melainkan mengutamakan win-win solution. Ditambah dengan cara berkomunikasi yang jelas, detail, sekaligus tetap lembut banyak urusan selesai dengan baik di tangan perempuan.

4. Perempuan bisa berpenghasilan lebih tinggi dari pria

ilustrasi berkarier (pexels.com/Poli Godoy)

Pada akhirnya, resiliensi karyawan berjenis kelamin apa pun akan mendapatkan ganjarannya. Tidak ada kerja keras tanpa hasil. Demikian pula ketika perempuan sudah membuktikan ketangguhannya di banyak situasi yang membutuhkan peran lebihnya.

Berbeda dengan zaman lampau, kini makin banyak perempuan sukses mencapai penghasilan yang lebih tinggi daripada teman pria sekantor atau pasangannya. Walaupun stigma negatif awalnya masih kuat serta menghambat langkah perempuan, mereka tidak menyerah. Dengan tekad yang bulat, seumpama kompetisi, perempuan mampu membalik keadaan dari kalah menjadi menang.

5. Kiprah perempuan di bidang yang dahulu dianggap hanya untuk pria

ilustrasi bekerja (pexels.com/Kindel Media)

Ketangguhan perempuan di dunia kerja kian tak terbantahkan ketika sebagian dari mereka memilih terjun ke bidang-bidang yang semula seperti dunia pria. Contohnya, pertambangan, militer, konstruksi, dan sebagainya. Memang untuk terwujudnya hal ini juga butuh kesempatan yang terlebih dahulu dibuka oleh pihak-pihak terkait.

Misal, perusahaan pertambangan membuka kesempatan yang sama baik untuk pelamar pria maupun perempuan. Akan tetapi, setelah kesempatan diberikan, perempuan sendiri yang harus membuktikan. Resiliensi menentukan mereka dapat bertahan lama di bidang tersebut atau tidak.

Banyak perempuan tak lagi gentar adu skill bahkan tenaga dengan rekan prianya. Mereka menjawab keraguan dengan pembuktian. Bukan mundur teratur.

6. Perempuan dapat naik jabatan tanpa affair dengan atasan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Eric Moura)

Perempuan dengan karier cemerlang tidak selalu seketika dihargai di lingkungan kerja. Apalagi atasannya pria. Tak jarang kariernya yang terus berkembang dicurigai hasil dari hubungan tak profesional dengan bos.

Kalau perempuan tidak memiliki ketangguhan, ia akan tumbang diterpa gosip miring seperti ini. Namun, perempuan yang sudah menapaki anak tangga dalam kariernya satu demi satu tentu juga mempunyai resiliensi buat menghadapi pikiran serta komentar buruk rekan kerjanya. Mereka bakal terdorong untuk menunjukkan kompetensi pada setiap jabatan yang dipercayakan padanya.

Mereka mengerti betul bahwa tuduhan tidak bisa dihentikan hanya dengan penyangkalan. Butuh bukti yang tak terbantahkan bahwa mereka adalah orang yang tepat untuk posisi tersebut. Mereka akan lebih cepat serta lebih banyak belajar sampai orang-orang berdiri dan mengakui kemampuannya.

Resiliensi perempuan dalam mematahkan stigma negatif di lingkungan kerja bukan tanpa halangan. Malah makin mereka berusaha untuk tahan banting, sering makin besar juga tantangannya. Akan tetapi, banyaknya perempuan yang menduduki posisi strategis di kantor masing-masing membuktikan mereka bukan sekadar ambisius apalagi penggembira. Mereka mempunyai kemampuan yang melampaui perkiraan orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team