Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi laki-laki presentasi (freepik.com/freepik)
ilustrasi laki-laki presentasi (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Empati yang tulus, bukan sekadar respons cepat AI bisa menganalisis data emosi dari kata-kata. Tapi AI gak benar-benar merasakan apa yang orang lain alami.

  • Negosiasi kompleks yang penuh intuisi. Keputusan akhir tetap butuh intuisi manusia. Kemampuan komunikasi saat negosiasi menuntut fleksibilitas.

  • Storytelling yang menyentuh emosi. Cerita yang benar-benar menyentuh biasanya lahir dari pengalaman personal. Dalam presentasi atau pitching, cerita yang kuat lebih diingat daripada slide penuh angka.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan AI semakin cepat dan canggih. Banyak pekerjaan teknis mulai tergantikan otomatisasi. Hal ini bikin sebagian orang cemas soal masa depan karier. Kamu mungkin juga pernah bertanya, masih relevankah skill yang kamu punya sekarang?

Tenang, gak semua hal bisa digantikan mesin. Justru di tengah kemajuan teknologi, skill yang dibutuhkan sekarang makin mengarah ke sisi manusiawi. Soft skill dunia kerja jadi semakin mahal dan dicari. Yuk simak lima kemampuan human touch yang gak bisa digantikan AI dan penting untuk masa depan kariermu.

1. Empati yang tulus, bukan sekadar respons cepat

ilustrasi berbicara dengan rekan kerja (freepik.com/pressfoto)

AI bisa menganalisis data emosi dari kata-kata. Tapi AI gak benar-benar merasakan apa yang orang lain alami. Empati bukan cuma soal tahu seseorang sedih atau marah. Empati adalah kemampuan hadir dan memahami tanpa menghakimi.

Di dunia kerja, empati membuat kamu jadi rekan yang dipercaya. Kamu peka membaca situasi tim, tahu kapan harus mendengar, dan kapan memberi dukungan. Klien pun merasa dihargai, bukan sekadar dilayani. Skill ini bikin kamu punya nilai lebih yang sulit ditiru mesin.

2. Negosiasi kompleks yang penuh intuisi

ilustrasi orang berdiskusi (freepik.com/freepik)

Negosiasi bukan hanya soal angka dan logika. Ada dinamika emosi, kepentingan tersembunyi, dan bahasa tubuh yang harus dibaca. AI mungkin bisa memberi simulasi strategi. Tapi keputusan akhir tetap butuh intuisi manusia.

Kemampuan komunikasi saat negosiasi menuntut fleksibilitas. Kamu harus tahu kapan tegas, kapan kompromi, dan kapan diam. Situasi bisa berubah dalam hitungan detik. Soft skill dunia kerja seperti ini menentukan arah proyek dan masa depan kariermu.

3. Storytelling yang menyentuh emosi

ilustrasi presentasi saat meeting (freepik.com/pressfoto)

AI bisa menulis dengan cepat dan rapi. Tapi cerita yang benar-benar menyentuh biasanya lahir dari pengalaman personal. Storytelling adalah seni menghubungkan data dengan rasa. Di sinilah sentuhan manusia berperan besar.

Dalam presentasi atau pitching, cerita yang kuat lebih diingat daripada slide penuh angka. Kamu bisa membuat audiens merasa terlibat, bukan sekadar mendengar. Skill yang dibutuhkan ini penting di berbagai bidang, dari marketing sampai leadership. Orang akan ingat bagaimana kamu membuat mereka merasa.

4. Kemampuan membangun relasi yang autentik

ilustrasi networking (pexels.com/fauxels)

Networking bukan cuma tukar kartu nama atau follow LinkedIn. Relasi yang kuat dibangun dari kepercayaan dan konsistensi. AI bisa menyarankan koneksi, tapi gak bisa menjaga hubungan secara tulus. Hubungan profesional tetap butuh sentuhan personal.

Kamu perlu kemampuan komunikasi yang hangat dan jujur. Mendengarkan dengan penuh perhatian sering kali lebih penting daripada berbicara panjang lebar. Di era serba digital, koneksi yang autentik justru terasa langka. Dan karena langka, nilainya jadi makin tinggi.

5. Pengambilan keputusan berbasis nilai dan nurani

ilustrasi laki-laki bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

AI bekerja berdasarkan data dan algoritma. Namun hidup gak selalu hitam putih. Ada situasi abu-abu yang butuh pertimbangan etika dan nilai pribadi. Di titik ini, manusia tetap jadi penentu utama.

Keputusan sulit sering melibatkan dampak jangka panjang. Kamu harus menimbang risiko, budaya perusahaan, dan kepentingan banyak pihak. Soft skill dunia kerja seperti integritas dan keberanian moral gak bisa diprogram begitu saja. Inilah pondasi masa depan karier yang berkelanjutan.

Teknologi akan terus berkembang, dan kita gak bisa menghindarinya. Tapi justru di tengah perubahan itu, sisi manusia jadi pembeda paling kuat. Skill yang dibutuhkan ke depan bukan cuma teknis, tapi juga emosional dan sosial. Jadi, sudah siap mengasah human touch-mu mulai sekarang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian