Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi narrative designer
ilustrasi narrative designer (freepik.com/DC Studio)

Intinya sih...

  • Memasuki usia 30-an, banyak orang mempertanyakan arah kariernya

  • Skill lebih luas dari job title, temukan titik temu antara pengalaman lama dan industri baru

  • Upgrade skill secara strategis, bangun narasi karier yang jujur, coba langkah kecil sebelum pindah jalur

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki usia 30-an, banyak orang mulai mempertanyakan arah kariernya. Pekerjaan yang dulu terasa menantang kini justru terasa datar dan melelahkan. Di titik ini, keinginan untuk pindah jalur karier sering muncul diam-diam. Namun, rasa takut kehilangan stabilitas bikin langkah terasa berat.

Pindah kerja usia 30 bukan tanda gagal, melainkan sinyal bahwa kamu sedang bertumbuh. Pengalaman kerja yang sudah terkumpul sebenarnya adalah aset besar, bukan beban. Tantangannya hanya satu, yaitu bagaimana melakukan career pivot tanpa merasa harus mengulang dari nol. Berikut lima strategi realistis agar perpindahan karier terasa lebih masuk akal dan manusiawi.

1. Sadari bahwa skill-mu lebih luas dari job title

ilustrasi perempuan menulis (freepik.com/freepik)

Banyak orang terjebak pada label jabatan yang tertulis di kartu nama. Padahal, yang dibutuhkan industri baru sering kali bukan gelar, melainkan keterampilan yang bisa dipindahkan. Misalnya, kamu dari dunia media tapi ingin pindah ke corporate communication. Skill menulis, riset, dan storytelling tetap relevan.

Saat kamu memetakan ulang kemampuan, career pivot terasa lebih ringan. Kamu tidak sedang memulai dari nol, hanya memindahkan konteks penggunaan skill. Cara pandang ini penting agar mental tetap kuat. Karier sukses sering lahir dari keberanian melihat potensi diri secara lebih luas.

2. Temukan titik temu antara pengalaman lama dan industri baru

ilustrasi perempuan membuat design (freepik.com/freepik)

Pindah kerja usia 30 akan terasa lebih aman jika kamu tidak melompat terlalu jauh. Cobalah mencari industri yang masih punya irisan dengan pengalaman sebelumnya. Contohnya, dari HR ke people development, atau dari sales ke business development. Perpindahan ini terasa lebih natural.

Irisan tersebut membuat proses adaptasi lebih cepat dan minim guncangan. Kamu tetap membawa nilai dari pekerjaan lama ke peran baru. Ini juga memudahkan kamu menjelaskan arah career pivot ke rekruter. Karier sukses jarang dibangun dari lompatan buta.

3. Upgrade skill secara strategis, bukan impulsif

ilustrasi laki-laki belajar data science (freepik.com/pressfoto)

Godaan terbesar saat ingin career pivot adalah mengambil semua kursus sekaligus. Padahal, tidak semua skill baru benar-benar dibutuhkan. Fokuslah pada satu atau dua kemampuan yang paling relevan dengan industri tujuan. Misalnya, belajar data analysis dasar jika ingin pindah ke product.

Pendekatan ini lebih realistis dan tidak menguras energi. Kamu tetap bisa bekerja sambil mempersiapkan pindah kerja usia 30 dengan tenang. Skill baru juga terasa lebih aplikatif karena langsung terhubung dengan pengalaman lama. Prosesnya pelan, tapi arahnya jelas.

4. Bangun narasi karier yang jujur dan masuk akal

ilustrasi berbicara dengan hrd (freepik.com/tonodiaz)

Saat wawancara, yang dinilai bukan hanya CV, tapi cerita di baliknya. Banyak orang gagal career pivot karena tidak bisa menjelaskan alasannya dengan meyakinkan. Hindari narasi klise seperti “ingin mencari tantangan baru” tanpa konteks. Ceritakan perjalananmu secara jujur dan logis.

Misalnya, kamu merasa skill lama tidak lagi berkembang dan menemukan ketertarikan baru lewat proyek sampingan. Cerita seperti ini terasa manusiawi dan relevan. Rekruter lebih menghargai kejelasan arah dibanding kesempurnaan. Karier sukses dibangun dari cerita yang konsisten.

5. Coba langkah kecil sebelum benar-benar pindah jalur

ilustrasi freelance writer (pexels.com/Vlada Karpovich)

Tidak semua career pivot harus langsung resign. Kamu bisa mulai dari proyek freelance, volunteer, atau side project kecil. Cara ini memberi gambaran nyata tentang industri baru tanpa risiko besar. Kamu juga bisa menguji apakah minat tersebut benar-benar cocok.

Langkah kecil ini penting untuk menjaga kewarasan finansial dan mental. Pindah kerja usia 30 bukan soal buru-buru, tapi soal kesiapan. Dari pengalaman kecil, kamu bisa mengambil keputusan lebih matang. Karier sukses sering lahir dari eksperimen yang sadar.

Melakukan career pivot di usia 30-an memang penuh pertimbangan emosional. Namun, bertahan di pekerjaan yang tidak lagi sejalan juga punya risiko jangka panjang. Selama kamu memanfaatkan transferable skills dan bergerak dengan strategi, perubahan bukan sesuatu yang menakutkan. Yuk, percayai prosesmu dan izinkan karier berkembang sesuai versi terbaikmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian