Di dunia kerja modern, pemutusan hubungan kerja gak selalu dilakukan secara terang-terangan. Ada perusahaan yang memilih cara lebih halus, tapi dampaknya justru lebih menguras mental karyawan. Alih-alih memecat langsung, mereka menciptakan kondisi kerja yang bikin seseorang merasa gak diinginkan. Pola inilah yang belakangan dikenal sebagai quiet firing.
Praktik ini sering dibungkus rapi dengan dalih profesionalisme, efisiensi, atau penyesuaian organisasi. Padahal, di balik itu ada strategi sistematis yang mendorong karyawan untuk resign dengan sendirinya. Kalau gak peka, kamu bisa terjebak lama dalam lingkungan kerja yang merugikan. Yuk simak lima tanda budaya quiet firing yang perlu kamu waspadai sejak dini.
