Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta di Balik Tantangan Gen Z Hadapi Karier dan Kesehatan Mental
ilustrasi Gen Z (dok. Jakpat)
  • Survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z menunjukkan mereka menghadapi tantangan besar dalam karier, dengan gaji, lingkungan kerja suportif, dan work-life balance sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan.
  • Tekanan ekonomi dan otomatisasi mendorong banyak Gen Z beralih ke gig economy, membuat mereka harus menjadi ‘manusia multi peran’ yang mengelola pendapatan fluktuatif tanpa jaminan sosial tetap.
  • Gen Z lebih terbuka membahas kesehatan mental dan aktif mencari bantuan profesional, dengan kekhawatiran masa depan serta tekanan finansial menjadi pemicu utama gangguan emosional seperti mood swing dan kecemasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat, gen Z saat ini memainkan peran penting dalam membentuk tren serta dinamika baru di Indonesia. Meskipun begitu, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi gen Z dalam meniti karier dan proses mencapai kesehatan mental mereka.

Tekanan sosial, ketidakstabilan ekonomi, pengaruh media sosial, dan perubahan lain yang terjadi begitu cepat merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental gen Z. Untuk itu, Jakpat melakukan survei terhadap 1.158 responden berusia 17-28 tahun guna memahami pola hidup dan pandangan mereka.

1. Gen Z Indonesia saat ini berada dalam fase produktif yang penuh tantangan

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Armin Rimoldi)

Berdasarkan hasil survei, saat ini gen Z Indonesia berada dalam fase produktif yang penuh tantangan. Ketika memilih pekerjaan, 71 persen di antara mereka yang ikut serta dalam survei ini tetap menempatkan gaji dan kompensasi sebagai pertimbangan utama. Namun, faktor lain juga memiliki pengaruh besar, seperti lingkungan kerja yang suportif (57 persen), peluang pengembangan karier jangka panjang (55 persen), dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance (50 persen).

Pilihan-pilihan tersebut tidak lain karena mereka sebagai angkatan kerja baru harus berbenturan dengan stagnasi lapangan kerja formal. Menurut Aska Primadi, Head of Research di Jakpat, meskipun pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan angka positif, ekspansi tersebut lebih banyak didorong oleh sektor padat modal yang mengandalkan peran teknologi tinggi, dibandingkan sektor padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga manusia.

2. Tekanan ekonomi memaksa mereka menjadi ‘manusia multi peran’

ilustrasi bekerja (pexels.com/Antoni Shkraba)

Karena semakin banyak perusahaan yang mengandalkan otomatisasi dan teknologi canggih, ditambah tekanan ekonomi yang terus meningkat, akibatnya banyak gen Z yang beralih ke jalur gig economy. Hasil survei juga menunjukkan, sebanyak 63 persen gen Z yang ikut serta dalam survei ini mengaku bahwa kompetisi yang semakin ketat menjadi tantangan utama.

Jalur gig economy, yaitu sistem kerja kontrak jangka pendek atau proyek lepas yang dikelola melalui platform digital sering dipilih oleh gen Z. Meskipun memberikan sejumlah keuntungan, seperti fleksibilitas kerja dan peluang dalam mengembangkan berbagai keterampilan, gig economy tetap menyimpan berbagai tantangan, khususnya dari sisi pendapatan dan stabilitas karier.

“Dinamika ini memaksa mereka menjadi ‘manusia multi-peran’ yang harus mengelola jadwal, pendapatan yang fluktuatif, dan jaminan sosial secara mandiri tanpa perlindungan tetap dari perusahaan konvensional,” tambah Aska, dalam rilis yang diterima IDN Times.

3. Gen Z cenderung lebih terbuka terhadap kesehatan mental

ilustrasi bicara berdua (pexels.com/John Diez)

Akan tetapi, di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas, gen Z menunjukkan sikap yang lebih terbuka terkait kesehatan mental. Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menutup diri, Aska menerangkan bahwa gen Z lebih terbuka dalam mengaku kerentanan emosional karena memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dalam diri mereka.

Berlandaskan dari kesadaran tersebut, sebagian besar gen Z akhirnya merasa terdorong untuk lebih proaktif mencari bantuan profesional, mulai dari konseling lewat aplikasi kesehatan hingga terapi tatap muka demi membantu pemulihan kondisi emosional mereka.

Adapun faktor pemicu gangguan kesehatan mental gen Z, antara lain; kekhawatiran akan masa depan (60 persen), tekanan finansial (57 persen), tuntutan sosial atau ekspektasi orang lain (42 persen), serta rasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi yang tidak dapat mereka kendalikan (36 persen). Sedangkan, bentuk gangguan yang paling sering dialami, yakni mood swing (62 persen), masalah tidur (50 persen), kecemasan berlebih (38 persen), dan kesulitan mengatur emosi (38 persen).

Berdasarkan temuan survei di atas, dapat disimpulkan bahwa gen Z adalah generasi yang paling rentan secara ekonomi formal. Namun di balik tantangan tersebut, mereka justru menunjukkan ketangguhan emosional yang kuat. Dengan kata lain, meskipun dihadapkan oleh ketidakpastian karier dan kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, gen Z tetap berusaha beradaptasi dan bangkit demi mencapai keseimbangan hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team