ilustrasi bicara berdua (pexels.com/John Diez)
Akan tetapi, di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas, gen Z menunjukkan sikap yang lebih terbuka terkait kesehatan mental. Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menutup diri, Aska menerangkan bahwa gen Z lebih terbuka dalam mengaku kerentanan emosional karena memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dalam diri mereka.
Berlandaskan dari kesadaran tersebut, sebagian besar gen Z akhirnya merasa terdorong untuk lebih proaktif mencari bantuan profesional, mulai dari konseling lewat aplikasi kesehatan hingga terapi tatap muka demi membantu pemulihan kondisi emosional mereka.
Adapun faktor pemicu gangguan kesehatan mental gen Z, antara lain; kekhawatiran akan masa depan (60 persen), tekanan finansial (57 persen), tuntutan sosial atau ekspektasi orang lain (42 persen), serta rasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi yang tidak dapat mereka kendalikan (36 persen). Sedangkan, bentuk gangguan yang paling sering dialami, yakni mood swing (62 persen), masalah tidur (50 persen), kecemasan berlebih (38 persen), dan kesulitan mengatur emosi (38 persen).
Berdasarkan temuan survei di atas, dapat disimpulkan bahwa gen Z adalah generasi yang paling rentan secara ekonomi formal. Namun di balik tantangan tersebut, mereka justru menunjukkan ketangguhan emosional yang kuat. Dengan kata lain, meskipun dihadapkan oleh ketidakpastian karier dan kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, gen Z tetap berusaha beradaptasi dan bangkit demi mencapai keseimbangan hidup.