Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Mengatasi Impostor Syndrome di Dunia Kerja Profesional
ilustrasi diskusi kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Impostor syndrome sering muncul di lingkungan kerja kompetitif, membuat individu berprestasi merasa tidak pantas meski memiliki rekam jejak dan kemampuan nyata.
  • Mengatasinya bisa dimulai dengan menyadari bahwa rasa tidak layak hanyalah pola pikir, mencatat pencapaian, serta membangun lingkungan kerja yang suportif.
  • Mengubah perfeksionisme menjadi fokus pada progres bertahap dan melatih dialog internal realistis membantu menjaga kepercayaan diri serta kesehatan mental di dunia profesional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Merasa gak pantas berada di posisi sekarang, padahal rekam jejak dan pencapaian sudah jelas, adalah gambaran klasik dari impostor syndrome. Fenomena ini sering muncul di dunia kerja profesional, terutama saat berada di lingkungan yang kompetitif dan penuh standar tinggi. Ironisnya, kondisi ini justru sering dialami oleh individu yang kompeten dan berprestasi.

Di tengah budaya kerja yang serba cepat dan penuh target, rasa ragu terhadap diri sendiri bisa muncul kapan saja. Pikiran seperti “apa benar sudah cukup layak di sini?” sering datang tanpa undangan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menggerus kepercayaan diri dan performa kerja secara perlahan. Yuk, kenali cara mengatasinya supaya karier tetap berkembang tanpa bayang-bayang keraguan diri!

1. Sadari bahwa impostor syndrome adalah pola pikir, bukan fakta

ilustrasi muslim fokus kerja (pexels.com/Ron Lach)

Langkah pertama untuk menghadapi impostor syndrome adalah menyadari bahwa rasa tidak layak itu hanyalah pola pikir, bukan kenyataan objektif. Pikiran tersebut sering muncul dari standar pribadi yang terlalu tinggi atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, posisi profesional yang diraih sudah melalui proses seleksi dan penilaian yang objektif.

Menyadari perbedaan antara fakta dan persepsi membantu mengurangi tekanan internal. Alih-alih menganggap keberhasilan sebagai kebetulan, lebih baik melihatnya sebagai hasil usaha dan kompetensi nyata. Kesadaran ini menjadi fondasi penting untuk membangun rasa percaya diri yang lebih stabil.

2. Catat pencapaian dan progres secara konsisten

ilustrasi muslim fokus menulis (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sering kali rasa ragu muncul karena lupa terhadap pencapaian yang sudah diraih. Mencatat keberhasilan, proyek yang selesai dengan baik, atau apresiasi dari atasan bisa membantu melihat progres secara lebih jelas. Dokumentasi ini menjadi bukti konkret bahwa kapasitas profesional memang berkembang.

Kebiasaan mencatat progres juga membantu menyeimbangkan perspektif saat menghadapi kegagalan kecil. Satu kesalahan gak otomatis menghapus seluruh pencapaian sebelumnya. Dengan rekam jejak yang terdokumentasi, rasa percaya diri bisa tumbuh lebih realistis dan terukur.

3. Bangun lingkungan kerja yang suportif

ilustrasi rekan kerja kompak (pexels.com/fauxels)

Lingkungan kerja yang sehat punya peran besar dalam mengurangi impostor syndrome. Diskusi terbuka dengan rekan kerja sering membuka fakta bahwa banyak orang mengalami keraguan serupa. Kesadaran kolektif ini membuat rasa ragu terasa lebih manusiawi dan gak terasa sendirian.

Relasi profesional yang suportif membantu menciptakan ruang aman untuk bertanya dan belajar. Ketika komunikasi berjalan terbuka, tekanan untuk selalu tampil sempurna bisa berkurang. Lingkungan yang positif memberi ruang untuk berkembang tanpa rasa takut berlebihan.

4. Ubah standar perfeksionisme menjadi progres bertahap

ilustrasi wanita muslim fokus kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Perfeksionisme sering menjadi akar munculnya impostor syndrome. Standar yang terlalu tinggi membuat pencapaian terasa gak pernah cukup. Padahal, dunia kerja profesional lebih menghargai konsistensi dan progres daripada kesempurnaan mutlak.

Mengubah fokus dari hasil sempurna menjadi progres bertahap membantu menurunkan tekanan internal. Setiap langkah kecil yang konsisten lebih bermakna dibanding menunggu momen ideal. Pendekatan ini membantu menjaga kesehatan mental sekaligus performa kerja tetap stabil.

5. Latih dialog internal yang lebih realistis

ilustrasi pria berpikir (pexels.com/cottonbro studio)

Dialog internal yang negatif sering memperkuat impostor syndrome. Pikiran seperti “semua orang lebih hebat” atau “ini cuma keberuntungan” muncul tanpa disaring secara rasional. Pola ini perlu dilatih ulang agar lebih seimbang dan realistis.

Mengganti narasi negatif dengan kalimat yang lebih objektif membantu membentuk perspektif baru. Mengakui kekuatan dan kelemahan secara proporsional adalah bentuk kedewasaan profesional. Dengan dialog internal yang sehat, rasa percaya diri bisa tumbuh tanpa perlu validasi berlebihan.

Impostor syndrome bukan tanda ketidakmampuan, melainkan refleksi tekanan dan ekspektasi yang tinggi. Menghadapinya perlu kesadaran, strategi, dan keberanian untuk menerima diri secara utuh. Dengan pendekatan yang tepat, rasa ragu bisa berubah menjadi dorongan untuk terus berkembang. Dunia kerja profesional bukan soal menjadi paling sempurna, tapi tentang bertumbuh secara konsisten dan percaya pada kapasitas diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian