Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
rumah tanpa kanopi
ilustrasi rumah tanpa kanopi (pexels.com/Mathias Reding)

Intinya sih...

  • Teras terlalu panas, gak enak buat duduk-duduk

  • Di dalam rumah pun dapat terasa silau

  • Air hujan membasahi teras bahkan bisa masuk rumah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sudahkah kamu memasang kanopi untuk rumah barumu? Harga kanopi yang mencapai jutaan rupiah barangkali membuatmu belum menjadikannya prioritas. Tambah bagus materialnya, tambah mahal pula harganya.

Kanopi yang bagus tidak hanya tahan sengatan panas dan hujan ekstrem. Kanopi juga harus kuat dihantam angin, tidak berisik ketika turun hujan, serta tak membuat kamu atau kendaraan kepanasan di musim kemarau. Meski di luar cuaca panas, berdiri di bawahnya mesti tetap cukup sejuk.

Tanpa kanopi, atap rumah memang masih memberikan perlindungan dari panas serta hujan. Namun, ada beberapa akibat rumah belum dipasang kanopi. Kamu sebaiknya mulai menabung untuk memesan dan memasang kanopi.

1. Teras terlalu panas, gak enak buat duduk-duduk

ilustrasi rumah tanpa kanopi (pexels.com/Polina)

Gak perlu menunggu siang hari. Jika hari sedang sangat cerah, baru jam 07.00 pun matahari dapat bersinar garang. Kalau rumahmu menghadap timur, pagi sampai menjelang siang akan tersorot penuh cahaya matahari.

Duduk-duduk di teras tidak nyaman saking panasnya. Sandal yang ditaruh di luar saja terasa menyakitkan di telapak kaki saking panasnya. Apalagi kamu duduk-duduk di terasnya. Kursi teras bakal menganggur terus deh.

Bila ada kanopi, panas terhalau nyaris sempurna. Apalagi panjang kanopi menutupi seluruh halaman atau carport. Sepanas apa pun cuacanya, dirimu tetap nyaman bersantai bersama keluarga. Bila ada anak, mereka juga dapat bermain di luar ruangan dengan nyaman.

2. Di dalam rumah pun dapat terasa silau

ilustrasi rumah tanpa kanopi (pexels.com/Lara Farber)

Permasalahan rumah tanpa kanopi bukan hanya di bagian teras. Saat cahaya matahari begitu kuat, dari dalam rumah pun bakal terasa silau sekali. Apalagi kaca jendela sangat bening dan belum dipasangi gorden.

Saking silaunya, saat kamu memakai gadget pun bayangan diri begitu jelas pada layarnya. Tentu ini menyulitkanmu untuk fokus ke layar. Dirimu akan cepat merasa pusing. Ditambah cat dinding berwarna putih, terangnya bagian dalam rumah tak lagi terasa nyaman.

Terlebih, banyak sekali jendela kaca di rumahmu. Bahkan pintunya saja kaca. Silaunya bakal luar biasa. Dengan penambahan kanopi, cahaya matahari yang masuk ke area rumah jauh lebih bersahabat. Dirimu menyingkap seluruh gorden atau bagian vitrasenya pun tetap tak silau.

3. Air hujan membasahi teras bahkan bisa masuk rumah

ilustrasi rumah tanpa kanopi (pexels.com/Mathias Reding)

Masuk musim hujan, kebutuhan akan kanopi makin sulit ditangguhkan. Apalagi kebanyakan perumahan dengan target konsumen kelas menengah ke bawah biasanya hanya memiliki teras sangat kecil baik di bagian depan maupun belakang.

Akibatnya saat turun hujan, air hujan membasahi seluruh bagian teras. Pintu juga langsung terpapar air hujan sampai basah kuyup. Kemudian air di pintu turun serta pelan-pelan masuk ke rumah melalui celah bagian bawah.

Apabila dapur di belakang terbuka, semua peralatan memasak tidak terselamatkan. Malah dirimu gak bisa memasak sama sekali selama hujan. Kalau anggaran masih minim, kanopi depan dapat separuh halaman atau carport saja.

Tidak perlu mencapai tepi jalan. Cukup supaya air hujan gak membasahi teras, pintu, serta jendela. Begitu pula tambahan kanopi di halaman belakang sekadar cukup buat mencegah air menciprat ke lantai dan meja dapur.

4. Cat kendaraan lebih berisiko rusak

ilustrasi rumah tanpa kanopi (pexels.com/Anna Guerrero)

Rumah tanpa garasi tertutup dan hanya ada carport juga mendesak untuk dipasangi kanopi. Sayang kendaraanmu kalau setiap hari terpapar panas matahari atau hujan deras. Walaupun ada penutup khusus motor atau mobil, memasangnya saja cukup ribet.

Pun ini sulit dilakukan bila dirimu tiba ketika sudah hujan deras. Kadang juga tak semua bagian badan kendaraan dapat ditutup rapat. Penutupnya dapat tersibak oleh angin. Robek sedikit, cat kendaraanmu tidak lagi terlindungi dengan sempurna.

Lebih aman dan simpel dirimu sekalian memasang kanopi. Memang lebih mahal, tapi bertahan bertahun-tahun. Pun bukan hanya satu kendaraan yang terlindungi. Bila ada satu mobil plus satu sepeda motor, dua-duanya aman diparkir di bawah naungan kanopi.

5. Di musim hujan, kurir sulit menurunkan paket

ilustrasi banyak paket (pexels.com/Kindel Media)

Kanopi tidak hanya memberikan perlindungan lebih untuk rumah dan kendaraan. Juga bukan sekadar meningkatkan kenyamanan penghuninya. Jika dirimu kerap menerima paket, pikirkan juga kemudahan kurir dalam menurunkan paketmu.

Tanpa kanopi sementara hujan turun deras, kurir mengambil satu paket saja akan membuat paket lainnya basah. Seperti kamu tahu, tidak semua paket dibungkus rapat dengan plastik. Banyak paket hanya dikemas dalam kardus.

Belum lagi kadang ada robekan atau lubang pada kardus. Paketmu maupun paket orang lain menjadi lebih rawan rusak. Kurir pun cenderung tergesa-gesa supaya dapat segera menutup kembali tas atau karungnya. Jangan sampai kecelakaan terjadi.

Seperti kurir sampai lupa menurunkan standar sepeda motor demi secepatnya berlari ke terasmu. Motornya langsung jatuh dan muatannya bergelimpangan. Bila ada kanopi, kurir justru dapat beristirahat sebentar sambil menunggu hujan agak reda.

Kanopi gak harus ada. Meski begitu, ada beberapa akibat rumah belum dipasang kanopi yang membuatmu sebaiknya memasangnya. Bangunan bakal lebih terlindungi, cat tembok depan, belakang, dan pintu tak mudah terkelupas atau berjamur. Minta tukang kanopi survei dulu ke rumahmu buat mengukur panjang serta lebar kanopi yang dibutuhkan. Jangan kamu mengukurnya sendiri nanti tidak pas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team