ilustrasi kesenian tanjidor asal Betawi (dok. JabarProv)
Musik tanjidor kemudian dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor, serta Karawang. Bahkan, para pemainnya kebanyakan berasal dari daerah-daerah di luar Jakarta.
Pada zaman dulu, para pemusik tanjidor kebanyakan adalah petani. Saat musim bercocok tanam mereka meninggalkan alat-alat musik di rumah. Tapi setelah panen, mereka datang ke Jakarta untuk mengamen keliling atau memeriahkan pesta atau perayaan.
Kelompok musik tanjidor umumnya terdiri dari 7-10 orang yang memainkan repertoar lagu diatonik, lagu-lagu yang bertangga nada pelog, hingga slendro. Lagu-lagu yang dibawakan antara lain Batalion, Jali-Jali, Surilang, Sirih Kuning, Kicir-Kicir, dan Cente Manis.
Dalam suatu pementasan, kelompok tanjidor biasanya mengikuti pola. Mereka memulai permainan dengan lagu-lagu mars, dan walz. Baru setelah itu memainkan jenis lagu lain, seperti lagu-lagu Betawi, lagu Sunda (jaipongan), lagu Melayu, hingga lagu dangdut.