Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membaca sambil mendengarkan musik
ilustrasi membaca sambil mendengarkan musik (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Terlalu fokus menghafal rumus daripada memahami makna

  • Perbedaan pola dengan bahasa ibu

  • Takut salah yang berlebihan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang merasa grammar bahasa Inggris seperti hutan penuh aturan yang membingungkan. Kamu mungkin sudah menghafal rumus tenses, tetapi tetap saja ragu saat harus berbicara atau menulis. Secara teori semuanya tampak jelas, namun praktiknya sering berbeda dari buku. Perasaan pusing itu bukan tanda kamu bodoh, melainkan proses alami saat otak bertemu sistem bahasa baru. Setiap pembelajar di dunia hampir pernah mengalami fase yang sama. Grammar memang logis, tetapi cara otak menyerapnya gak selalu linear. Di sinilah letak tantangan sebenarnya.

Di sekolah, grammar sering diajarkan seperti rumus matematika yang harus dihafal mati. Kamu diminta mengisi soal pilihan ganda tanpa memahami konteks penggunaannya. Akibatnya, aturan terasa kaku dan jauh dari kehidupan nyata. Padahal bahasa adalah alat komunikasi yang hidup dan fleksibel. Ketika praktik gak sejalan dengan teori, otak mudah kelelahan. Banyak orang akhirnya menyerah sebelum menikmati prosesnya. Enam alasan berikut bisa menjelaskan kenapa belajar grammar sering terasa memusingkan.

Belajar Grammar Bikin Pusing

1. Terlalu fokus menghafal rumus daripada memahami makna

ilustrasi merasa sendiri (freepik.com/freepik)

Sejak awal belajar, kamu mungkin diperkenalkan pada tabel tenses yang panjang. Otak dipaksa mengingat pola tanpa benar-benar mengerti fungsinya. Cara ini membuat grammar terasa seperti beban hafalan. Padahal setiap aturan lahir untuk menyampaikan makna tertentu. Rasul bahasa sehari-hari justru gak berbicara dengan rumus di kepala. Ketika kamu hanya mengejar benar salah, rasa takut pun muncul. Grammar akhirnya menjadi momok menakutkan.

Banyak buku latihan menekankan bentuk, bukan pesan. Kamu sibuk memikirkan verb berapa tanpa tahu ingin mengatakan apa. Metode ini membuat bahasa kehilangan jiwanya. Otak manusia lebih mudah mengingat makna daripada simbol. Kalau pemahaman konteks diabaikan, kebingungan pasti datang. Grammar seharusnya menjadi alat bantu, bukan tujuan utama. Inilah sumber pusing pertama yang paling umum.

2. Perbedaan pola dengan bahasa ibu

ilustrasi ngobrol (pexels.com/Monstera Production)

Bahasa Inggris memiliki logika yang sering berbeda dengan bahasa Indonesia. Kamu terbiasa tanpa perubahan bentuk kata kerja sesuai waktu. Tiba-tiba harus mengenal verb dua dan verb tiga yang asing. Otak memerlukan waktu menyesuaikan sistem baru ini. Perbedaan struktur kalimat juga membuatmu ragu menyusun ide. Apa yang terasa alami dalam bahasa ibu belum tentu berlaku di Inggris. Benturan dua sistem inilah yang memicu kebingungan.

Selain itu, beberapa konsep gak punya padanan langsung. Kamu mungkin bingung membedakan present perfect dan past simple. Dalam bahasa Indonesia keduanya sering diterjemahkan sama. Perbedaan makna halus ini sulit ditangkap di awal. Otak bekerja keras mencari jembatan pemahaman. Proses adaptasi memang melelahkan. Namun ini fase normal bagi semua pembelajar.

3. Takut salah yang berlebihan

ilustrasi mengobrol (freepik.com/freepik)

Banyak orang belajar grammar dengan bayang-bayang kesalahan. Kamu menahan diri berbicara karena takut kalimatnya gak sempurna. Ketakutan ini membuat otak tegang dan sulit menyerap. Padahal bahasa tumbuh justru dari keberanian mencoba. Grammar yang terlalu disakralkan berubah menjadi tembok. Setiap kali ingin bicara, kamu sibuk mengoreksi diri. Akhirnya proses belajar terasa berat.

Lingkungan belajar sering memperparah keadaan. Guru atau teman menertawakan kesalahan kecil. Kamu jadi mengaitkan grammar dengan rasa malu. Otak pun menolak materi yang memicu emosi negatif. Seharusnya kesalahan dipandang sebagai data belajar. Tanpa ruang aman, grammar memang bikin pusing. Rasa takut lebih mematikan daripada aturan itu sendiri.

4. Belajar tanpa paparan nyata

ilustrasi mengobrol santai dengan teman (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

Grammar di buku berbeda dengan bahasa di dunia asli. Kamu mungkin jago mengerjakan soal, tetapi bingung saat menonton film. Tanpa paparan nyata, aturan terasa mengawang. Otak membutuhkan contoh hidup untuk membangun pola. Membaca dialog, mendengar podcast, atau berbicara langsung jauh lebih efektif. Kalau hanya mengandalkan modul, pemahaman mudah buntu.

Banyak pembelajar menunda praktik sampai merasa siap. Padahal kesiapan justru lahir dari praktik itu sendiri. Grammar bukan ilmu teoritis murni. Kamu perlu merasakannya dalam percakapan. Tanpa pengalaman nyata, aturan sulit melekat. Inilah alasan pusing yang sering tak disadari. Bahasa harus dihirup, bukan hanya dipikirkan.

5. Terlalu ingin cepat mahir

ilustrasi belajar (pexels.com/Louis Bauer)

Kamu mungkin berharap menguasai grammar dalam hitungan minggu. Ketika target gak tercapai, frustrasi muncul. Padahal proses berbahasa mirip dengan belajar berjalan. Anak kecil pun butuh waktu bertahun-tahun. Ekspektasi yang terlalu tinggi membuat perjalanan terasa berat. Otak memerlukan pengulangan santai, bukan tekanan. Grammar gak bisa dikebut seperti mengejar ujian semalam.

Media sosial sering menjanjikan metode instan. Kamu tergoda berpindah dari satu trik ke trik lain. Akibatnya, fondasi gak pernah benar-benar kuat. Belajar menjadi maraton yang disangka sprint. Ketika realita tak sesuai janji, kepala ikut pusing. Konsistensi kecil justru lebih masuk akal. Inilah jebakan modern yang banyak dialami.

6. Cara belajar gak sesuai gaya pribadi

ilustrasi perempuan sedang mengalami stres (pexels.com/energepic.com)

Setiap orang memiliki gaya belajar berbeda. Kamu mungkin tipe visual, tetapi dipaksa menggunakan metode hafalan. Ketidaksesuaian ini membuat otak cepat lelah. Ada yang butuh contoh audio, ada yang perlu menulis. Grammar bukan paket seragam untuk semua orang. Menemukan cara paling nyaman adalah kunci. Tanpa itu, proses terasa seperti memanjat tembok licin.

Banyak pembelajar meniru cara teman tanpa mengenal diri. Kamu akhirnya menyalahkan kemampuanmu sendiri. Padahal masalahnya ada pada metode. Ketika gaya belajar cocok, grammar menjadi lebih ramah. Otak bekerja sesuai jalurnya. Pusing perlahan berubah menjadi penasaran. Inilah langkah penting yang sering dilupakan.

Belajar grammar bikin pusing sebenarnya tanda kamu sedang bertumbuh. Otak sedang membangun jaringan baru yang belum pernah ada. Enam alasan tadi menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kecerdasan kamu. Lebih sering karena metode dan cara pandang yang kurang tepat. Grammar memang butuh waktu, bukan sulap semalam. Setiap pembelajar hebat pun melewati fase ini.

Daripada memusuhi grammar, kamu bisa mengubah pendekatan menjadi lebih bersahabat. Mulailah dari makna, bukan sekadar rumus. Beri ruang untuk salah dan mencoba lagi. Paparan nyata jauh lebih penting daripada tumpukan soal. Perlahan aturan akan terasa logis dengan sendirinya. Pusing itu akan berubah menjadi aha moment.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team