Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
rekomendasi buku tipis critical thinking
rekomendasi buku tipis yang asah critical thinking (Capitalist Realism terbitan Zero Books, Amusing Ourselves to Death terbitan Penguin Random House, dan Hiroshima terbitan Penguin)

Intinya sih...

  • Capitalist Realism (Mark Fisher) - Kritik terhadap kapitalisme yang mengatur kehidupan - Kurang dari 100 halaman, tetapi sangat akurat dan memukau

  • How Fascism Works (Jason F. Stanley) - Mengungkap siklus fasisme dalam demokrasi - Menjelaskan bagaimana fasisme mengeksploitasi kerentanan manusia

  • Washington Bullets (Vijay Prashad) - Mengupas pola imperialisme Amerika Serikat - Menjelaskan berbagai cara praktik imperialisme AS secara global

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya misi membaca buku nonfiksi lebih banyak tahun ini? Gak perlu memaksa diri untuk baca yang tebal, deh. Silakan mulai dari yang singkat dan padat dulu, tepatnya yang setebal 100—200-an halaman.

Ada setidaknya enam rekomendasi buku tipis, tapi berdaging secara isi, yang bantu mengasah critical thinking-mu. Tenang saja, tetap gak bikin tangan pegal saat menggenggamnya, kok. Cocok buat yang ingin mengasah daya pikir kritis, tetapi ogah menyiksa diri.

1. Capitalist Realism (Mark Fisher)

Capitalist Realism (Capitalist Realism karya Mark Fisher diterbitkan Zero Books)

Capitalist Realism adalah sebuah kritik untuk para kapitalis yang berhasil menyakinkan dunia bahwa kapitalisme adalah satu-satunya sistem ekonomi paling sempurna dan paling mudah diaplikasikan dalam kehidupan. Alhasil, orang jadi terbiasa dengan berbagai kekurangannya, menoleransi bahkan membiarkannya mengatur hidup mereka. Buku ini kurang dari 100 halaman tebalnya, tetapi sanggup bikin kamu tertampar akan akurasinya.

2. How Fascism Works (Jason F. Stanley)

How Facism Works ( How Facism Works karya John Stanley diterbitkan Penguin Random House)

Memakai pengalamannya sebagai keturunan Yahudi Eropa yang terpaksa mengungsi saat Perang Dunia II, Jason Stanley mencoba mengupas apa yang bikin negara demokrasi bisa jadi fasis dalam waktu cukup singkat. Fenomena ini seperti siklus yang naik turun dan tak heran masih relevan sampai sekarang.

Lewat pengalaman dan risetnya, Stanley mencoba mengupas bagaimana fasisme bisa mengeksploitasi beberapa kerentanan manusia, terutama dengan mendeskreditkan kekuatan kolektif rakyat serta memelihara segregasi.

3. Washington Bullets (Vijay Prashad)

Washington Bullets (Washington Bullets karya Vijay Prashad terbitan Monthly Review Press)

Apa yang bikin Amerika Serikat begitu kuat dan bertindak ala “polisi” atau bahkan “preman” dalam skala global? Dalam buku tipis ini, Vijay Prashad mengupas pola imperialisme Amerika Serikat yang sebenarnya tidak baru. Ini sudah mereka praktikan bertahun-tahun dengan cara yang juga bervariasi.

Tidak hanya intervensi langsung, tetapi juga sabotase, asasinasi, sampai orkestrasi revolusi. Sayang, terkadang kecenderungan ini pula yang sering dipakai kelompok tertentu untuk mendeskreditkan aksi massa yang asli berakar dari keresahan rakyat.

4. Amusing Ourselves to Death (Neil Postman)

Amusing Ourselves to Death (Amusing Ourselves to Death karya Neil Postman terbitan Penguin Random House)

Terbit perdana pada 1985, Amusing Ourselves to Death memang mengeksplorasi televisi dan dampaknya bagi masyarakat. Namun, belakangan ia kembali relevan seiring dengan pergeseran pasar hiburan ke internet. Polanya masih sama, orang dibikin sibuk menghibur diri sampai perlahan tak lagi punya kemampuan untuk berpikir rasional dan kritis. Isu politik dianggap hiburan belaka sampai-sampai perlahan kita merasakan dampak apatisme itu satu hari nanti.

5. Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (Byung Chul Han)

Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (Psychopolitics karya Byung Chul Han diterbitkan Verso Books)

Sesuai judulnya, buku tipis ini adalah kritik Byung Chul Han terhadap neoliberalisme dan bagaimana disrupsi teknologi ikut andil dalam melancarkan agenda-agendanya. Salah satu pengaruh terbesar yang neoliberalisme berhasil wujudkan adalah psikopolitik. Yakni kondisi ketika kapitalis diam-diam mengontrol pikiran kita lewat doktrin-doktrin mereka. Mereka sebenarnya menyuapi masyarakat awam dengan hal-hal yang kita yakini kita butuhkan, tetapi sebenarnya pada akhirnya bakal menguntungkan kelompok tertentu saja.

6. Hiroshima (John Hersey)

Hiroshima (Hiroshima karya John Hersey diterbitkan Penguin)

Sesuai judulnya, buku ini ditulis John Hersey dari hasil wawancaranya dengan 6 penyintas tragedi kemanusiaan di Hiroshima, Jepang, pada 1945. Lewat kisah mereka, Hersey mencoba mengingatkan kita tentang moralitas dan kemanusiaan tanpa sedikit pun menulisnya dengan nada menggurui. Kita benar-benar hanya diajak membaca cerita mentah para penyintas dan dibebaskan membuat asumsi atau opini apapun. Hiroshima dikemas tak sampai 200 halaman, tetapi begitu kuat dan menggugah.

Jangan terkecoh dengan jumlah halaman saat memilih buku. Buku tebal memang sering diromantisasi, tetapi gak ada yang salah dengan mencoba baca buku-buku tipis. Semuanya soal substansi dan aksesibilitas. Gak perlu minder untuk memenuhi target bacamu tahun ini dengan baca enam buku tipis berbobot di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team