Program Media Partnership Bina Nusantara di Taiwan, pada Jumat (22/8/25) (IDNTimes/Dina Salma)
Riset yang dilakukan oleh MIT menunjukkan bahwa menggunakan produk seperti ChatGPT secara berlebihan, dapat membuat otak penggunanya menjadi lebih pasif dan menurunkan fungsi kognitif. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nataliya Kosmyna dan tim, menguji dampak penggunaan AI terutama dalam tugas menulis esai.
Dalam riset ini, peserta didik dibagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama adalah Brain-only atau tanpa alat bantu, kelompok kedua adalah Search Engine yang sebagian menggunakan mesin pencari seperti Google, dan yang terakhir adalah LLM (Large Language Model). Kelompok LLM mengandalkan ChatGPT sepenuhnya untuk menyelesaikan tugas mereka.
Hasilnya, kelompok LLM menunjukkan memori yang lebih lemah, tingkat aktivitas otak yang lebih rendah, dan tulisan yang kurang orisinal. Kelompok ini juga memungkinkan terkena echo chamber, yakni hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinan dan pendapatnya sendiri. Sementara itu, ide yang berlawanan diabaikan. Penggunaan ChatGPT yang lebih masif pada kelompok ini, menunjukkan kinerja yang lebih buruk terkait bahasa dan perilaku. Mereka juga terindikasi lebih malas dan cenderung memilih copy paste pada esai berikutnya.
Sementara untuk kelompok Search Engine yang mengandalkan strategi hybrid, memiliki kontrol regulatif yang menggabungkan kemampuan memilih informasi di internet dengan kontrol informasi.
Berlawanan dengan LLM, kelompok Brain-only menunjukkan penulisan esai yang lebih variatif di semua topik dan kinerja otak yang lebih aktif. Peserta yang tergabung dalam grup ini, menunjukkan konektivitas otak yang lebih tinggi dibanding kelompok lain, terlihat bahwa berbagai bagian otak aktif sekaligus dan saling terhubung. Hasilnya, konten yang diciptakan melalui proses berpikir yang lebih orisinal.
Secara keseluruhan, temuan ini menemukan pandangan bahwa penggunaan alat bantu eksternal seperti AI, turut mengubah kinerja otak dan proses kognitif manusia. Kelompok LLM menunjukkan prestasi yang lebih buruk daripada mereka yang sepenuhnya memanfaatkan otak mereka atau brain only group.
Temuan ini juga menyoroti penggunaan alat eksternal seperti AI dalam praktik pendidikan. Konsekuensi yang ditemukan dalam riset tersebut, jika terlalu sering mengandalkan AI adalah kemampuan berpikir dan mengolah informasi jadi berkurang. Artinya, cara berpikir dan belajar siswa turut terpengaruh oleh intensitas pemanfaatan AI untuk membantu menyelesaikan tugas.