Pidato hari lahir Pancasila (Unsplash.com/Anggit Rizkianto)
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.
Hadirin yang saya hormati,
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa pada pagi hari ini kita dapat berkumpul menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila. Upacara ini meneguhkan komitmen kita agar lebih mendalami, menghayati =, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pancasila bukanlah sekadar rangkaian kata, tetapi hasil dari perjalanan panjang yang dimulai dari momen penting dalam sejarah kita. Dimulai dari perumusan resmi Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bapak Bangsa, Ir. Soekarno, hingga dituangkannya dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945, dan akhirnya mencapai rumusan finalnya pada tanggal 18 Agustus 1945. Semua ini tidak terlepas dari semangat besar para founding fathers, dukungan ulama, dan perjuangan gigih para pahlawan kemerdekaan dari berbagai daerah di Nusantara. Mereka bersama-sama membentuk fondasi yang kokoh bagi kesepakatan nasional yang mengikat kita semua sebagai bangsa yang satu.
Perlu diingat bahwa keberagaman adalah kodrat yang melekat dalam bangsa Indonesia. Keberagaman bukanlah sekadar ciptaan manusia, tetapi anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Dalam keberagaman tersebut, beragam etnis, bahasa, adat istiadat, agama, kepercayaan, dan golongan bersatu padu membentuk kekuatan Indonesia yang sejati. Inilah yang menjadi ciri khas dan kekuatan utama kita, dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Hadirin yang saya hormati,
Kita perlu belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme dan perang saudara. Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI, kita bisa terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri. Dengan Pancasila, Indonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat internasional untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur di tengah kemajemukan.
Oleh karena itu, saya mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, biksu, pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila.
Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Komitmen pemerintah terhadap penguatan Pancasila telah terbukti jelas dan kokoh. Berbagai langkah telah diambil untuk memperkuatnya, salah satunya adalah dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 yang menetapkan pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Unit kerja ini diberi mandat untuk meningkatkan praktik Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang diintegrasikan dengan program-program pembangunan nasional. Dalam konteks ini, upaya-upaya pengentasan kemiskinan, pencapaian kesejahteraan yang merata, dan berbagai program lainnya dianggap sebagai bagian integral dari praktik nilai-nilai Pancasila.
Hadirin yang saya hormati,
Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran.
Marilah kita bersama-sama menjaga perdamaian, persatuan, dan persaudaraan. Mari kita saling bersikap santun, menghormati, toleran, dan membantu untuk kepentingan dan kemajuan bangsa Indonesia.
Terima kasih,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera bagi Kita Semua,
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya.