Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi puasa (pexels.com/Sami Abdullah)
ilustrasi puasa (pexels.com/Sami Abdullah)

Intinya sih...

  • Ramadan adalah jeda lembut di tengah riuhnya dunia, ruang sunyi untuk merenung dan mendekatkan hati kepada Sang Pencipta.

  • Puisi Ramadan mengajarkan nilai-nilai kesabaran, pengendalian diri, dan ketulusan berbagi.

  • Melalui puisi, Ramadan dapat dirasakan lebih dalam sebagai perjalanan jiwa yang penuh makna.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi setiap tahun. Ia adalah jeda yang lembut di tengah riuhnya dunia, ruang sunyi untuk merenung, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Sang Pencipta. Di bulan inilah, setiap doa terasa lebih hangat, setiap air mata terasa lebih bermakna.

Bagi para pelajar SMA, Ramadan juga menjadi momen pembentukan karakter tentang kesabaran, pengendalian diri, dan ketulusan berbagi. Melalui puisi, nilai-nilai Ramadan dapat dirangkai menjadi untaian kata yang indah dan penuh makna. Berikut lima contoh puisi Ramadan yang dapat dijadikan inspirasi untuk lomba.

1. Di Bawah Langit Ramadan

ilustrasi berdoa (pexels.com/Anna Tarazevich)

Ramadan datang dengan langkah perlahan,

membawa cahaya di sela kegelisahan.

Langit seakan lebih teduh dari biasa,

menyimpan doa-doa yang tak bersuara.

Dalam lapar yang menahan diri,

aku belajar arti cukup dan berbagi.

Dalam dahaga yang mengeringkan bibir,

aku temukan sabar yang tak pernah hadir.

Ya Allah, di bulan yang suci ini,

jadikan aku hamba yang lebih mengerti

bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki,

tetapi tentang memberi dan mensyukuri.

2. Puasa dan Perjalanan Jiwa

ilustrasi berdoa (pexels.com/RDNE Stock Project)

Fajar menyingsing, azan berkumandang,

niat terucap dalam hati yang tenang.

Sehari penuh kutapaki waktu,

bersama sabar yang kupeluk erat selalu.

Puasa bukan sekadar menahan lapar,

melainkan menahan amarah yang bergetar.

Bukan hanya menunggu waktu berbuka,

tetapi menunggu jiwa kembali terbuka.

Ramadan, ajari aku tentang makna,

bahwa kemenangan lahir dari jiwa yang sederhana.

3. Cahaya di Sepertiga Malam

ilustrasi berdoa (pexels.com/Alena Darmel)

Di sepertiga malam yang sunyi,

kuangkat tangan, memohon ampunan-Mu, ya Rabbi.

Hening menjadi saksi bisu,

atas rindu yang kupendam untuk-Mu.

Air mata jatuh tanpa suara,

menghapus dosa yang terasa nyata.

Dalam sujud panjang penuh harap,

aku temukan cahaya yang tak pernah redup.

Ramadan adalah pelukan-Mu yang hangat,

bagi jiwa yang ingin kembali taat.

4. Takjil di Ujung Senja

ilustrasi bulan ramadan (pexels.com/PNW Production)

Senja menggantung jingga di langit kota,

aroma takjil menyapa penuh rasa.

Anak-anak tertawa riang,

menanti azan yang segera datang.

Namun di balik riuh kebahagiaan,

ada hati yang menahan kerinduan.

Ramadan mengajarkanku melihat lebih dalam,

pada mereka yang hidup dalam diam.

Karena berbagi bukan soal jumlah,

melainkan tentang hati yang tulus dan ramah.

5. Menuju Hari Kemenangan

ilustrasi bulan ramadan (pexels.com/Thirdman)

Hari-hari berlalu tanpa terasa,

Ramadan hampir sampai di penghujung masa.

Setiap detik menjadi saksi,

atas doa dan harapan yang kupanjatkan pasti.

Jika esok tak lagi kutemui bulan ini,

izinkan amal menjadi saksi diri.

Semoga fitrah kembali suci,

membawa hati yang lebih berarti.

Ramadan, kau bukan sekadar tamu,

kau adalah perjalanan menuju diriku yang baru.

Melalui puisi, Ramadan dapat dirasakan lebih dalam, bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai perjalanan jiwa yang penuh makna. Semoga kelima contoh puisi ini dapat menginspirasi para pelajar untuk mengekspresikan rasa syukur, harapan, dan refleksi diri dalam lomba Ramadan. Karena pada akhirnya, kata-kata yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya ke hati yang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team