Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jika Jurusan Dihapus, Apakah Mahasiswa Harus Pindah Kampus?
ilustrasi mahasiswa sedang persiapan menuju jam pertama kuliah (magnific.com/freepik)
  • Pemerintah berencana menutup sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan, memicu kekhawatiran mahasiswa soal kelanjutan kuliah dan kemungkinan pindah kampus.
  • Mahasiswa aktif umumnya tetap bisa menyelesaikan studi karena kampus wajib menyediakan masa transisi dan layanan akademik hingga lulus meski prodi akan ditutup.
  • Pindah kampus hanya dilakukan jika prodi tak bisa dijalankan lagi, sementara beberapa jurusan bisa digabung atau diubah namanya agar sesuai kebutuhan zaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rencana pemerintah untuk mengevaluasi dan menutup sejumlah program studi yang dianggap tidak lagi relevan memunculkan kegelisahan baru di kalangan mahasiswa. Banyak yang bertanya-tanya apakah penutupan jurusan berarti mereka harus mencari kampus baru dan memulai kembali proses kuliah? Kekhawatiran itu wajar karena pendidikan tinggi menyangkut biaya besar, waktu panjang, dan rencana studi di masa depan. Ketika status jurusan dipertanyakan, mahasiswa tentu menjadi pihak pertama yang merasa terdampak.

Di tengah ramainya isu jurusan dihapus, penting dipahami bahwa penutupan program studi tidak selalu berarti mahasiswa aktif langsung kehilangan tempat belajar. Dalam sistem pendidikan tinggi, biasanya ada mekanisme transisi untuk melindungi hak mahasiswa yang sedang menempuh studi. Kampus dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses akademik tetap berjalan. Karena itu, skenario pindah kampus bukan satu-satunya kemungkinan yang terjadi. Lantas, kalau memang jurusannya dihapus, apakah mahasiswa harus pindah kampus?

1. Mahasiswa aktif biasanya tetap diprioritaskan

ilustrasi mahasiswa selesai mengikuti perkuliahan semester pendek (pexels.com/LinkedIn Sales Navigator)

Dalam banyak kasus, kampus lebih dulu menghentikan penerimaan mahasiswa baru ketika sebuah prodi bermasalah atau akan ditutup. Sementara itu, mahasiswa yang sudah terdaftar biasanya tetap diberi kesempatan untuk menyelesaikan studi hingga lulus. Langkah ini dilakukan agar mahasiswa tidak menjadi korban perubahan kebijakan yang datang di tengah jalan. Dengan kata lain, penutupan program studi sering berjalan bertahap,

Selama masa transisi, kampus tetap berkewajiban menyediakan layanan akademik seperti perkuliahan, dosen pembimbing, administrasi, hingga sidang akhir. Mahasiswa aktif umumnya masih bisa menuntaskan kurikulum sesuai aturan yang berlaku saat mereka masuk. Tentu pelaksanaannya bisa berbeda di tiap kampus, tergantung kondisi internal dan keputusan Kemendiktisaintek. Namun, prinsip dasarnya adalah menjaga hak mahasiswa yang sudah terlanjur kuliah.

2. Kapan mahasiswa bisa diminta pindah kampus?

ilustrasi presentasi skripsi (pexels.com/Kampus Production)

Perpindahan kampus biasanya menjadi opsi jika perguruan tinggi benar-benar tidak mampu lagi menjalankan program studi tersebut. Misalnya, jumlah dosen inti tidak mencukupi, fasilitas akademik tidak memenuhi syarat, atau izin operasional mengalami masalah serius. Dalam kondisi seperti itu, melanjutkan kuliah di tempat yang sama justru bisa merugikan mahasiswa. Karena itu, relokasi kadang dianggap jalan keluar yang lebih aman.

Jika perpindahan dilakukan, mahasiswa umumnya tidak dibiarkan mencari jalan sendiri. Biasanya ada skema pengalihan ke kampus lain yang memiliki prodi sejenis, termasuk penyesuaian mata kuliah yang sudah ditempuh. Meski demikian, proses ini tetap bisa menimbulkan tantangan seperti adaptasi lingkungan baru, biaya tambahan, atau perbedaan kurikulum. Itulah sebabnya opsi pindah kampus lazim diposisikan sebagai solusi terakhir.

3. Tidak semua jurusan yang ditutup benar-benar hilang

ilustrasi peralatan laboratorium (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Dalam beberapa situasi, jurusan yang dihapus bukan berarti keilmuannya lenyap sama sekali. Ada kemungkinan program studi digabungkan dengan jurusan lain yang lebih luas atau diubah namanya agar sesuai perkembangan zaman. Model seperti ini sering dipakai ketika bidang ilmu lama masih relevan, tetapi perlu penyesuaian pendekatan dan kebutuhan industri. Jadi, yang berubah bisa jadi hanya struktur dan label akademiknya.

Contohnya, jurusan dengan cakupan sempit dapat dilebur ke dalam program studi yang lebih multidisipliner. Langkah tersebut dianggap lebih efisien sekaligus memberi lulusan kompetensi yang lebih luas. Dari sudut pandang kampus, merger prodi juga bisa membantu pengelolaan sumber daya dosen dan fasilitas. Namun, dari sisi mahasiswa, perubahan seperti ini tetap perlu dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan kebingungan.

4. Apa yang sebaiknya dilakukan mahasiswa?

ilustrasi mahasiswa kedokteran sedang menjalani Koas (freepik.com/freepik)

Mahasiswa tidak perlu langsung panik setiap kali mendengar kabar bahwa jurusan akan ditutup. Yang paling penting adalah memeriksa informasi resmi dari kampus dan kementerian, bukan sekadar rumor media sosial. Banyak isu pendidikan tinggi terdengar dramatis di publik, padahal implementasinya sering melalui proses panjang dan bertahap. Sikap tenang justru membantu mahasiswa mengambil keputusan lebih rasional.

Selain itu, mahasiswa sebaiknya aktif menanyakan status akreditasi, keberlanjutan prodi, dan kemungkinan skenario transisi jika memang ada perubahan. Semakin cepat informasi diperoleh, semakin mudah pula menyiapkan langkah cadangan. Pada akhirnya, apakah mahasiswa harus pindah kampus atau tidak ketika jurusan dihapus sangat bergantung pada kondisi masing-masing prodi dan kampus. Jadi, jawaban singkatnya bukan selalu harus pindah, melainkan melihat bagaimana kebijakan itu dijalankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team