Kata “efisiensi” rupanya tak berhenti di urusan anggaran. Kini kampus ikut merasakannya setelah Kemendiktisaintek mewacanakan penutupan sejumlah program studi yang dinilai tak lagi relevan. Mengutip TEMPO (30/4/2026), wacana ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026. Badri mengatakan rencana ini akan dieksekusi dalam waktu dekat. Ia lantas meminta perguruan tinggi memiliki kerelaan hati untuk menyeleksi prodi apa saja yang perlu ditutup.
Kalau boleh menengok ke belakang, dulu banyak kampus buka jurusan baru. Hampir setiap tren yang muncul di masyarakat seolah bisa diubah menjadi program studi, mulai dari bisnis digital, kewirausahaan, komunikasi, hingga berbagai cabang manajemen. Semakin banyak pilihan jurusan, dianggap semakin besar peluang kampus untuk menarik mahasiswa baru.
Dalam situasi persaingan yang ketat, membuka prodi baru menjadi strategi yang terlihat paling cepat sekaligus menjanjikan. Namun, sejak wacana ini mengemuka, perubahan ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Mengapa dulu kampus didorong berkembang, sekarang justru diminta merampingkan diri? Berikut penjelasannya!
