Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi dua wanita mengobrol sambil minum kopi
ilustrasi dua wanita mengobrol sambil minum kopi (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Intinya sih...

  • Otak lebih terlatih memahami daripada memproduksi bahasa

  • Terlalu banyak menerjemahkan di dalam kepala

  • Takut salah dan terlalu perfeksionis

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih kamu merasa bahasa Inggris itu sebenarnya kamu pahami, tapi entah kenapa susah banget keluar saat harus ngomong? Di kepala, kalimatnya sudah rapi, kosakatanya terasa pas, bahkan jawabannya sudah siap. Tapi begitu mulut mulai bergerak, yang keluar justru jeda panjang, kata 'eee…', atau senyum canggung. Situasi ini sering bikin kita mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Padahal, kondisi seperti ini dialami oleh banyak orang, bukan kamu saja.

Fenomena bahasa Inggris lancar di kepala tapi macet di mulut sebenarnya punya penjelasan yang cukup masuk akal. Ini bukan semata soal kurang pintar atau kurang belajar. Ada proses mental, kebiasaan belajar, sampai faktor psikologis yang saling berkaitan. Kalau kamu pernah merasa frustrasi karena hal ini, berarti kamu sedang berada di fase belajar yang sangat umum. Nah, biar gak terus-terusan menyalahkan diri sendiri, yuk kita bahas satu per satu penyebabnya.

1. Otak lebih terlatih memahami daripada memproduksi bahasa

ilustrasi seseorang sedang berbicara (freepik.com/freepik)

Pernah gak sih kamu ngerasa paham banget waktu baca atau denger bahasa Inggris, tapi begitu disuruh ngomong malah blank? Kondisi ini sebenarnya wajar karena otak kita sering dilatih untuk menerima bahasa, bukan mengeluarkannya. Sejak sekolah, kebanyakan dari kita lebih sering ngerjain soal pilihan ganda, baca teks, atau denger audio daripada latihan ngomong. Akibatnya, bagian otak yang bertugas memahami bahasa jadi lebih aktif dibanding bagian yang memproduksi ucapan. Bahasa Inggris pun terasa lancar di kepala, tapi belum otomatis mengalir ke mulut. Kamu jadi tahu jawabannya, tapi butuh waktu lama untuk mengucapkannya.

Selain itu, memahami bahasa dan berbicara adalah dua skill yang berbeda meski saling berkaitan. Saat memahami, otak hanya perlu mengenali makna, bukan menyusun struktur kalimat secara real-time. Tapi saat berbicara, otak harus mikir kosakata, tata bahasa, pengucapan, dan konteks sosial sekaligus. Proses ini terjadi dalam hitungan detik dan cukup menguras energi mental. Kalau belum terbiasa, wajar kalau otak terasa 'macet' di tengah jalan. Jadi, masalahnya bukan kamu gak bisa bahasa Inggris, tapi karena otakmu belum cukup dilatih untuk memproduksinya.

2. Terlalu banyak menerjemahkan di dalam kepala

ilustrasi seseorang berbicara (freepik.com/freepik)

Salah satu penyebab utama bahasa Inggris terasa macet saat diucapkan adalah kebiasaan menerjemahkan kata per kata. Banyak orang berpikir dalam bahasa Indonesia dulu, lalu menerjemahkannya ke bahasa Inggris sebelum berbicara. Proses ini kelihatannya sepele, tapi sebenarnya memakan waktu dan bikin otak kewalahan. Akibatnya, kamu jadi ragu-ragu, sering berhenti, atau malah kehilangan inti pembicaraan. Semakin panjang kalimat yang ingin diucapkan, semakin besar kemungkinan kamu tersendat. Ujung-ujungnya, kamu memilih diam karena takut salah.

Masalahnya, bahasa Inggris punya struktur yang berbeda dari bahasa Indonesia. Kalau dipaksakan diterjemahkan mentah-mentah, hasilnya sering terasa janggal atau membingungkan. Otakmu pun jadi sibuk memperbaiki kalimat sebelum keluar dari mulut. Di sinilah kelancaran di kepala berubah jadi kemacetan saat ngomong. Idealnya, kamu perlu mulai berpikir langsung dalam bahasa Inggris, meski dengan kalimat sederhana. Pertanyaannya, berani gak kamu ngomong meski kalimatnya belum sempurna?

3. Takut salah dan terlalu perfeksionis

ilustrasi berbicara dengan orang tua (pexels.com/Nicole Michalou)

Coba jujur ke diri sendiri, seberapa sering kamu menahan diri buat ngomong karena takut grammar-nya salah? Rasa takut salah ini biasanya lebih menghambat daripada keterbatasan kosakata. Kamu sebenarnya tahu kata yang mau dipakai, tapi ragu apakah tense-nya benar atau pengucapannya tepat. Akhirnya, kamu kebanyakan mikir dan kehilangan momen buat bicara. Padahal, dalam percakapan nyata, orang jarang mempermasalahkan grammar selama pesannya tersampaikan. Ironisnya, ketakutan ini justru bikin kamu makin jarang latihan.

Perfeksionisme dalam belajar bahasa bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kamu ingin berbicara dengan benar dan rapi. Tapi di sisi lain, standar yang terlalu tinggi bikin kamu enggan memulai. Bahasa itu skill praktis, bukan ujian tulis yang harus sempurna. Penutur asli pun sering salah ucap atau mengulang kata saat bicara. Jadi, kalau kamu terus menunggu 'siap', kapan mulai ngomongnya?

4. Minim latihan speaking di situasi nyata

ilustrasi seseorang berbicara (pexels.com/Ron Lach)

Masalah klasik lainnya adalah kurangnya paparan latihan speaking yang konsisten. Banyak orang belajar bahasa Inggris bertahun-tahun, tapi jarang memakainya dalam percakapan sehari-hari. Bahasa akhirnya cuma jadi pengetahuan pasif, bukan keterampilan aktif. Saat disuruh ngomong, otak seperti kaget karena jarang dipakai untuk tugas itu. Ini mirip seperti punya SIM tapi jarang nyetir, begitu turun ke jalan malah grogi. Wajar kalau lidah terasa kaku dan pikiran terasa kosong.

Latihan speaking juga sering terbatas pada situasi formal, seperti presentasi atau ujian. Padahal, ngobrol santai justru butuh kelancaran spontan. Tanpa latihan di situasi nyata, kamu sulit membangun refleks berbicara. Akibatnya, setiap mau ngomong harus mikir lama. Coba deh tanya ke diri sendiri, kapan terakhir kali kamu ngobrol bahasa Inggris tanpa mikirin nilai atau penilaian orang lain? Bisa jadi, jawabannya itulah akar masalahnya.

5. Kosakata pasif lebih banyak daripada kosakata aktif

ilustrasi berbicara. (pexels.com/SHVETS production)

Kamu mungkin mengenal ribuan kata bahasa Inggris, tapi berapa banyak yang benar-benar sering kamu pakai saat ngomong? Inilah perbedaan antara kosakata pasif dan kosakata aktif. Kosakata pasif adalah kata yang kamu pahami saat membaca atau mendengar. Sementara kosakata aktif adalah kata yang langsung muncul saat kamu berbicara. Kebanyakan orang punya kosakata pasif jauh lebih banyak daripada kosakata aktif. Makanya, di kepala terasa kaya, tapi di mulut terasa miskin.

Masalahnya, mengubah kosakata pasif jadi aktif butuh latihan berulang. Kamu harus sering memakainya dalam kalimat, meski terdengar sederhana. Tanpa itu, kata-kata tersebut hanya akan 'tersimpan' tanpa bisa dipanggil cepat. Inilah kenapa kamu sering merasa tahu kata yang tepat, tapi lupa saat dibutuhkan. Pernah gak ngerasa, 'Aduh, tadi tahu katanya apa, kok sekarang hilang'? Itu tanda kosakata aktifmu masih perlu diperkuat.

6. Kurangnya kepercayaan diri saat berbicara

ilustrasi seseorang berbicara (pexels.com/Kampus production)

Faktor terakhir yang sering diremehkan adalah kepercayaan diri. Banyak orang sebenarnya cukup mampu secara teknis, tapi minder saat harus ngomong. Takut ditertawakan, takut dianggap sok Inggris, atau takut aksennya aneh. Pikiran-pikiran ini bikin kamu tegang bahkan sebelum mulai bicara. Saat tegang, otak sulit bekerja optimal dan kata-kata jadi susah keluar. Akhirnya, kamu makin yakin kalau kamu memang 'gak bisa ngomong Inggris'.

Padahal, kepercayaan diri adalah kunci utama kelancaran berbicara. Semakin sering kamu berani mencoba, semakin terbiasa otak dan mulut bekerja sama. Orang-orang yang terdengar lancar bukan berarti selalu benar, tapi mereka berani terus berbicara. Bahasa adalah alat komunikasi, bukan ajang pembuktian kemampuan. Jadi sekarang pertanyaannya, mau terus menunggu lancar dulu baru ngomong, atau ngomong dulu supaya jadi lancar?

Pada akhirnya, bahasa Inggris yang macet saat diucapkan bukan tanda kegagalan belajar. Justru itu pertanda bahwa kamu sudah punya bekal pemahaman yang cukup di dalam kepala. Yang perlu dikejar selanjutnya adalah keberanian dan kebiasaan mempraktikkannya. Semakin sering kamu memaksa diri untuk berbicara, semakin cepat otak beradaptasi. Proses ini mungkin terasa canggung di awal, tapi akan membaik seiring waktu.

Jadi, daripada terus menyimpan bahasa Inggris hanya di kepala, kenapa gak mulai membiarkannya keluar meski belum sempurna? Salah, terbata-bata, dan lupa kata adalah bagian alami dari proses belajar. Yang penting, kamu tetap melangkah dan gak berhenti mencoba. Ingat, semua orang yang lancar hari ini pernah berada di fase macet yang sama. Sekarang tinggal kamu mau berhenti di fase itu, atau melanjutkan perjalananmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team