Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kutipan dari Buku "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" yang Ngena Banget
Bookmark buku Tere Liye - Janji (Instagram/@serenenarratives)
  • Buku 'Teruslah Bodoh Jangan Pintar' karya Tere Liye menarik perhatian publik karena judul unik dan isi yang menggugah pembaca dengan refleksi sosial yang relevan.
  • Lima kutipan dalam buku ini menyoroti isu kebebasan, realitas sosial, pilihan hidup, hingga kritik terhadap ketimpangan ekonomi melalui karakter seperti Ahmad, Ibu Sri, dan Budi.
  • Kutipan terakhir mengajak pembaca untuk melakukan 'restart' sebagai simbol memulai kembali kehidupan di tengah situasi sulit yang terasa stagnan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buku berjudul "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye sempat menjadi perhatian publik. Pasalnya, selain dari judulnya yang menarik perhatian, tulisan dan kata-kata di dalamnya pun menjadi perhatian pembaca. Karya dari seorang penulis yang luar biasa ini menjadi buku favorit bagi sebagian pembaca. Memang, tak perlu diragukan lagi hasil karya sang penulis hebat.

Melalui judulnya, kita sudah mengetahui arah tema dari buku ini. Banyak juga para pembaca baru yang penasaran dan ingin mengetahui isi sebenarnya buku karya sang penulis. Karya satu ini memang patut diacungi jempol. Mulai dari alur cerita, karakter tokoh di dalamnya, dan pemilihan kata-kata yang membuat masyarakat merasa terwakili saat membacanya.

Berdasarkan pengalaman dan opini penulis secara pribadi, berikut lima kutipan dari buku "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye yang ngena banget. Mewakili kondisi pelik saat ini!

1. Tentang kebebasan yang masih menggunakan trik-trik lama

Seseorang yang merasakan kebebasan (unsplash.com/Pablo Heimplatz)

Pada permulaan bab, setelah masuknya satu konflik pertama dalam novel ini terdapat kalimat yang menarik perhatian. Kata-kata tersebut muncul bukan dalam adegan yang sedang melakukan hal istimewa, ini muncul ketika karakter Ahmad yang hanya sedang berbincang dengan Ibu Sri.

"... bahkan dengan kebebasan pers yang berkembang pesat, bahkan setelah berganti berkali-kali rezim kekuasaan, tetap saja ada yang tidak pernah berubah. Di permukaannya saja yang terlihat berubah, di dalamnya, bergumpal pekat, tetap hitam. Cara-cara lama. Trik-trik Kekuasaan lama." -Ahmad

Kalimat tersebut benar terjadi sekarang. Tentang kebebasan yang masih saja tidak berubah dan hanya permukaannya saja yang berganti. Cara lama masih terasa dan tidak hilang sepenuhnya. Lagi-lagi perjuangan kita mempertahankan kebebasan pers ini masih harus terus dilakukan.

2. Tentang fakta yang tak bisa dibantah

Fakta kehidupan yang tak luput dari waktu (unsplash.com/Nathan Dumlao)

Sudah masuk pertengahan bab, permasalahan semakin kompleks dan di sinilah terdapat kalimat yang membuat mata tak beralih kepada hal lain. Tentang fakta yang tak bisa dibantah.

"Semua bisa dibeli di dunia" -Ibu Sri

Terdengar sangat simpel, satu kalimat saja. Tetapi, ini memiliki makna yang bisa digali kedalamannya. Kalimat yang bisa saja menjadi bahan candaan, tapi juga bisa menjadi kenyataan. Itulah faktanya.

3. Tentang pilihan menggiurkan yang datang

ilustrasi berpikir keras (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ada satu kalimat yang sangat bagus muncul dipertengahan percakapan salah satu karakter. Kalimat ini indah sekali dan tentu maknanya sangat dalam.

"... Jangan hanya karena tergoda burung cantik di atas pohon, burung di tangan justru dilepaskan." -Budi

Sungguh indah, kan? Ini bukan sekadar perumpamaan, tetapi maknanya mendalam jika dikaitkan dengan kondisi saat ini.

4. Tentang pepatah yang menyedihkan untuk didengar

Menjual rumah atau properti (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Peran salah satu karakter ini cukup penting. Sangat bijaksana tepatnya. Karakter Ibu Sri memang membuat pembaca takjub juga dengan kisah hidupnya. Inilah satu lagi kutipan dari karakter tersebut.

"...pendatang membeli tanah untuk tempat berjualan gorengan, pemilik lahan menjual tanah untuk membeli gorengan itu..." -Ibu Sri

Kata pepatah tersebut memang menyakitkan hati, namun benar adanya.

5. Tentang langkah terakhir yang mesti dilakukan

Daun terakhir yang menggambarkan kesempatan terakhir (unsplash.com/simon)

Pada bagian akhir novel, terdapat kalimat yang jika disambungkan dengan masa kini, cukup mewakili.

"Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari mereka. Saatnya me-restart, memulai kembali semua permainan ini. Hanya itu cara yang tersisa." -TeU03

Tak perlu dua kali membaca, kalimat ini bisa relate dengan keaadaan sekarang di mana situasi membuat kita stuck dan terasa tidak ada jalan lain. Satu cara yang bisa dicoba, restart.

Itulah lima kutipan yang mewakili keadaan saat ini yang bisa kalian dapatkan dari buku berjudul "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye. Tentunya, masih banyak kutipan bermakna dan berkaitan dengan keadaan saat ini dalam buku tersebut. Jangan lupa untuk baca buku ini minimal sekali seumur hidup!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team