Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Memoir Terbaik Pemenang Pulitzer Prize dari Tahun 2023-2026
ilustrasi baca buku (pexels.com/cottonbro studios/)
  • Pulitzer Prize memperkenalkan kategori Memoar/Autobiografi sejak 2023, menyoroti karya yang menggali kejujuran, duka, dan ketahanan manusia melalui pengalaman pribadi para penulisnya.
  • Dari 2023 hingga 2026, pemenang seperti Hua Hsu, Cristina Rivera Garza, Tessa Hulls, dan Yiyun Li menghadirkan kisah kehilangan mendalam lewat pendekatan sastra yang beragam—dari narasi puitis hingga novel grafis.
  • Tren memoar modern menunjukkan keberanian bereksperimen lintas bentuk dan genre, menjadikan tulisan sebagai alat bertahan hidup sekaligus refleksi atas tragedi dan proses penyembuhan manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membaca sebuah memoar berarti bersiap untuk berjalan beriringan dengan kerentanan paling intim dari sang penulis. Berbeda dengan kategori biografi yang sering kali berjarak, kategori Memoar atau Autobiografi, yang baru diresmikan sebagai kategori mandiri di Pulitzer sejak tahun 2023, menjadi ruang pameran bagi kejujuran yang mentah, duka yang tidak disaring, serta cara manusia bertahan hidup di balik reruntuhan tragedi.

Jika menilik jajaran pemenang dari tahun 2023 hingga 2026, kita akan menemukan sebuah benang merah yang menggetarkan: para penulis ini menggunakan bahasa, ilustrasi, dan investigasi bukan untuk melarikan diri dari rasa sakit, melainkan untuk memetakan kembali hidup mereka setelah logika personalnya dihancurkan oleh realitas.

1. Tahun 2026: Things in Nature Merely Grow karya Yiyun Li (Farrar, Straus and Giroux)

hings in Nature Merely Grow karya Yiyun Li (theweek.com)

Tahun 2026 melahirkan salah satu catatan duka paling berani sekaligus memilukan dalam sejarah sastra modern. Yiyun Li menuliskan narasi personal yang sangat mendalam setelah kehilangan putra bungsunya akibat bunuh diri, sebuah tragedi mengerikan yang terjadi hanya berselang sedikit di atas enam tahun setelah putra sulungnya berpulang dengan cara yang sama. Menolak larut dalam melodrama, Li menulis sebuah memoir yang dingin (austere) namun menantang (defiant) tentang arti penerimaan. Dengan fokus yang tajam pada fakta, ketepatan bahasa, serta keteguhan esensi kehidupan, buku ini menjadi monumen kepasrahan yang luar biasa tegar.

2. Tahun 2025: Feeding Ghosts: A Graphic Memoir karya Tessa Hulls (MCD)

Feeding Ghosts: A Graphic Memoir karya Tessa Hulls (MCD) (amazon.com)

Satu tahun sebelumnya, Pulitzer memberikan penghargaan kepada sebuah karya seni literatur visual yang sangat menyentuh. Melalui medium novel grafis, ilustrasi Tessa Hulls menghidupkan kembali kisah tiga generasi perempuan Tionghoa di dalam keluarganya: dirinya sendiri, ibunya, dan sang nenek. Memoir grafis ini melacak bagaimana trauma masa lalu, gejolak sejarah, dan luka batin yang tidak disembuhkan dapat diwariskan secara turun-temurun melalui garis keturunan keluarga, menjadikannya sebuah penjelajahan identitas yang magis sekaligus emosional.

3. Tahun 2024: Liliana’s Invincible Summer: A Sister’s Search for Justice karya Cristina Rivera Garza (Hogarth)

Liliana’s Invincible Summer: A Sister’s Search for Justice karya Cristina Rivera Garza (Hogarth) (amazon.com)

Garza memenangkan piala Pulitzer lewat sebuah karya yang mendobrak batasan genre (genre-bending). Buku ini adalah catatan personal mengenai adik perempuannya yang berusia 20 tahun, yang tewas dibunuh secara keji oleh mantan kekasihnya. Garza merajut memoir intim ini dengan jurnalisme investigasi feminis serta biografi puitis, yang semuanya dijahit menjadi satu kesatuan utuh didorong oleh tekad luar biasa yang lahir dari rasa kehilangan yang mendalam demi mencari keadilan yang telah lama tertunda.

4. Tahun 2023: Stay True karya Hua Hsu (Doubleday)

Stay True karya Hua Hsu (Doubleday) (Gramedia.com)

Membuka sejarah sebagai pemenang pertama saat kategori ini diresmikan pada tahun 2023, Hua Hsu menghadirkan sebuah catatan pendewasaan (coming-of-age) yang sangat elegan dan pedih. Hsu mengenang kembali masa mudanya, merayakan indahnya persahabatan remaja yang intens, sebelum sebuah kekerasan acak (random violence) merenggut nyawa sahabatnya. Peristiwa tragis tersebut seketika mengubah total dan menghancurkan seluruh logika logis dari narasi kehidupan personal yang semula ia bayangkan.

Lini masa pemenang dari tahun 2023 hingga 2026 ini menunjukkan bahwa memoir terbaik tidak pernah lahir dari kehidupan yang tenang dan linear. Pulitzer Prize secara konsisten memilih karya-karya yang memperlihatkan bagaimana manusia menggunakan tulisan sebagai alat bertahan hidup (survival tool) saat dihadapkan pada kedukaan yang tidak terbayangkan, mulai dari pembunuhan, bunuh diri ganda, hingga kekerasan acak.

Tren kepenulisan memoir modern juga terbukti semakin kaya; ia tidak lagi kaku dalam bentuk teks naratif biasa, melainkan berani melebur dengan ilustrasi grafis seperti pada Feeding Ghosts, atau bersinggungan dengan jurnalisme investigatif seperti dalam Liliana's Invincible Summer. Bagi kita para pembaca, keempat buku ini adalah pengingat terbaik bahwa sekecil atau sehancur apa pun ruang hidup yang tersisa setelah badai tragedi, hidup, seperti halnya benda-buku di alam, akan selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap tumbuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team