Setiap Hari Pendidikan Nasional, kita sering merayakan angka-angka statistik: jumlah sekolah yang dibangun, persentase kelulusan yang meningkat, hingga digitalisasi yang masif. Namun, ada satu hal fundamental yang sering kali terlupakan di balik kemegahan angka tersebut, yaitu hilangnya nalar kritis di ruang kelas.
Alih-alih menjadi tempat untuk memerdekakan pemikiran, institusi pendidikan kita sering kali justru berfungsi sebagai pabrik kepatuhan yang mencetak individu untuk menjadi seragam dan penurut terhadap otoritas.
