ilustrasi curhat ke teman (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Sebagian orang mengira kecerdasan emosional menuntut jarak emosional dari sekitar. Perasaan orang lain dianggap beban yang harus dihindari. Pemikiran ini muncul dari kekhawatiran ikut terbawa emosi negatif. Kesimpulan tersebut gak sepenuhnya tepat, lho.
Kecerdasan emosional tetap memberi ruang bagi empati. Kesadaran batas diri menjadi kunci agar empati tidak mengganggu kesejahteraan pribadi. Kamu bisa memahami perasaan orang lain tanpa kehilangan kendali atas emosi sendiri. Keseimbangan ini membantu menjaga hubungan tetap sehat dan berkelanjutan.
Mitos tentang kecerdasan emosional sering membuat konsep ini disalahpahami. Pemahaman yang keliru bisa menghambat proses mengenali dan mengelola emosi secara sehat. Kecerdasan emosional bukanlah bakat eksklusif atau tuntutan untuk selalu tenang.
Kemampuan ini berkembang melalui kesadaran, latihan, dan refleksi. Sudut pandang yang lebih realistis membantumu menjadikan emosi sebagai alat, bukan hambatan. Perubahan cara pandang kecil dapat memberi dampak besar dalam kehidupan sehari-hari.