Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puasa Jumat Agung, Dilengkapi Sabda Tuhan yang Bikin Sadar dan Mengubah Diri
Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Pixabay)

Puasa Jumat Agung menjadi salah satu bentuk penghayatan iman yang dilakukan umat Kristiani untuk mengenang penderitaan dan wafat Yesus Kristus. Melalui puasa ini, kamu diajak untuk menahan diri, mengurangi keinginan duniawi, serta lebih fokus pada refleksi diri dan hubungan dengan Tuhan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, puasa Jumat Agung mengingatkan pentingnya meluangkan waktu untuk hening dan merenung. Dengan menjalani puasa, kamu tidak hanya belajar tentang pengorbanan, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta kepekaan terhadap sesama.

1. Mengenal pantang dan puasa Jumat Agung

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alicia Quan)

Mengutip Iman Katolik, pantang terhadap daging atau jenis makanan tertentu sesuai ketentuan Konferensi para Uskup sebaiknya dijalankan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari tersebut bertepatan dengan hari raya. Sementara itu, pantang dan puasa secara khusus dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, sebagai peringatan atas Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.

Aturan pantang berlaku bagi mereka yang telah berusia empat belas tahun ke atas, sedangkan kewajiban puasa berlaku bagi orang dewasa hingga menjelang usia enam puluh tahun. Meski demikian, para pembimbing rohani dan orangtua diharapkan tetap mendidik mereka yang belum wajib agar mulai memahami makna pertobatan sejak dini sesuai Kitab Hukum Kanonik (KHK) nomor 1251-1252.

Dengan demikian, umat Katolik diwajibkan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya berlaku pada dua hari tersebut. Yang termasuk wajib berpuasa adalah umat beriman yang berusia antara delapan belas (18) tahun hingga menjelang enam puluh (60) tahun. Puasa berarti makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Bagi yang terbiasa makan tiga kali sehari, dapat memilih aturan berikut:

  • Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau

  • Tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau

  • Tak kenyang, tak kenyang, kenyang

Selain itu, umat Katolik juga diwajibkan berpantang pada Rabu Abu dan setiap hari Jumat hingga Jumat Suci, sehingga totalnya sekitar tujuh hari dalam masa Prapaskah. Kewajiban pantang berlaku bagi semua umat Katolik yang telah berusia empat belas (14) tahun ke atas. Pantang berarti:

  • Tidak makan daging, dan atau

  • Tidak merokok, dan atau

  • Mengurangi atau tidak menggunakan garam, dan atau

  • Menghindari gula serta makanan manis seperti permen, dan atau

  • Mengurangi hiburan seperti radio, televisi, bioskop, atau film.

Karena aturan puasa dan pantang ini tergolong ringan, umat beriman dianjurkan untuk menambah bentuk pengorbanan secara pribadi, baik sendiri, dalam keluarga, maupun bersama kelompok. Hal ini dilakukan untuk memperdalam semangat tobat, meskipun tambahan tersebut tidak mengikat sebagai kewajiban gerejawi. Dalam masa pertobatan ini, perayaan seperti perkawinan juga disarankan dilakukan secara sederhana tanpa kemeriahan.

2. Arti puasa dan pantang

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Gianna B)

Puasa adalah tindakan sukarela untuk tidak makan atau minum, baik sepenuhnya maupun sebagian. Tidak makan atau minum sepenuhnya berarti benar-benar menahan diri dari keduanya, sedangkan secara sebagian berarti hanya mengurangi porsi makan atau minum.

  • Secara batin, puasa membantu memurnikan hati dan memudahkan seseorang untuk lebih fokus dalam doa dan perenungan. 

  • Puasa juga dapat menjadi bentuk persembahan atau pengorbanan kepada Tuhan. 

  • Puasa sering disebut sebagai doa melalui tubuh, karena membantu seseorang menata hidup dan sikap rohaninya. 

  • Dengan berpuasa, seseorang menunjukkan kerinduan akan Tuhan serta kehendak-Nya. Ia rela melepaskan kenikmatan sementara sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima. Dengan cara ini, keserakahan dapat dikendalikan dan penyesalan atas dosa masa lalu dapat diwujudkan. 

  • Melalui puasa, seseorang dapat lebih mengenal dirinya sendiri dan membangun kehidupan yang lebih seimbang. Puasa juga membantu melepaskan ketergantungan fisik serta menenangkan emosi, sehingga lebih mudah untuk peduli kepada sesama dan mendekat kepada Tuhan. 

Oleh karena itu, puasa dalam tradisi Katolik selalu dilakukan bersama dengan doa dan tindakan berbagi, yang diwujudkan dalam Aksi Puasa Pembangunan. Semangat yang sama juga berlaku dalam praktik pantang. Lalu yang tidak sesuai dengan makna puasa dan pantang Katolik adalah:

  • Melakukan puasa atau pantang hanya demi alasan kesehatan, seperti diet atau mengurangi makanan dan minuman tertentu untuk mencegah penyakit. 

  • Melakukan puasa atau pantang dengan tujuan memperoleh kekuatan khusus, baik secara fisik maupun spiritual.

3. Kumpulan sabda Tuhan tentang puasa

Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Pixabay)

Kumpulan sabda Tuhan tentang puasa ini mengajak kamu untuk memahami makna puasa bukan hanya sebagai menahan lapar dan haus, tetapi sebagai bentuk kedekatan dengan Tuhan. Melalui firman-Nya, puasa dimaknai sebagai sikap hati yang tulus, penuh pertobatan, serta kerinduan untuk hidup lebih benar.

"Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:

Berpuasa yang Kukehendaki ialah,

Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman

Dan mematahkan setiap kuk

Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya

Dan mematahkan setiap kuk,

Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar

Dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah

Dan apabila kamu melihat orang telanjang

Supaya engkau memberi dia pakaian

Dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.

Pada waktu itulah

Engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab

Engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku

Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu

Dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah

Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri

Dan memuaskan hati orang tertindas

Maka terangmu akan terbit dalam gelap

Dan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari"

Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:

“Apabila kamu berpuasa,

Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa,

minyakilah kepalamu

Dan cucilah mukamu

Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa

Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Puasa Jumat Agung bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri secara batin. Melalui momen ini, kamu bisa semakin memahami arti kasih, pengampunan, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Editorial Team