ilustrasi orang menulis (pexels.com/cottonbro studio)
Jika kita melihat pada perkembangannya, perkembangan karya sastra di Indonesia terbagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan model dan ciri strukturnya.
Perkembangan puisi di Indonesia diawali dengan Angkatan Balai Pustaka atau dikenal dengan Angkatan ’20-an. Angakatan Balai Pustaka berlangsung dari tahun 1920 sampai dengan sekitar tahun 1933. Di angkatan ini, puisinya berupa syair, pantun, dan mantra yang merupakan puisi terikat.
Setelah Angkatan Balai Pustaka, muncul Angkatan Pujangga Baru atau Angkatan ’30-an yang berlangsung mulai tahun 1933 sampai dengan tahun 1945. Jika angkatan sebelumnya puisi banyak dipengaruhi oleh puisi lama yang terikat, di Angkatan Pujangga Baru diciptakanlah puisi baru. Sejumlah jenis puisi baru itu seperti distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), dan soneta (14 baris). Penyair di periode ini ada Amir Hamzah sebagai Raja Pujangga Baru, J.E. Tatengkeng, dan lain-lain.
Kemudian, ada Angkatan 45 yang berlangsung tahun 1945 sampai dengan tahun 1953. Kalau periode sebelumnya dilakukan pembaharuan bentuk puisi, di periode ini dilakukan perubahan menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan lainnya tak dipergunakan lagi. Ini berarti puisi punya struktur yang bebas. Di angkatan ini, banyak puisi beraliran ekspresionisme dan realisme, gaya sinisme dan ironi, serta masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. Penyair di angkatan ini ialah Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan lain-lain.
Setelah itu, ada Angkatan ’50-an sampai ’60-an. Ini berarti setelah kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, puisi menjadi lebih beragam. Muncul gaya Balada yang dipelopori oleh W.S. Rendra. Tema yang diangkat pun banyak tentang kritik dan realitas sosial. Ada pula Angkatan 66 yang didominasi oleh sajak demonstrasi. Pernyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra menjadi penyair yang giat mengobarkan semangat aktivis kala itu. Di periode ini juga berkembang dua aliran besar puisi, yakni neo-romantisme dan intelektualisme.
Terakhir, adalah Puisi Kontemporer hingga sekarang. Puisi kontemporer adalah puisi yang melepaskan diri dari bentuk terikatnya. Bentuk dan gaya tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya. Salah satu hal penting dalam puisi ini adalah penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru. Adapun penyair puisi kontemporer seperti Sutardji, Emha Ainun Najib, dan Sapardi Djoko Darmono.