Siapa yang tidak pernah berada di situasi seperti ini? Kamu memiliki seorang teman yang jarang memberi kabar. Namun, setiap kali membutuhkan bantuan, ia tiba-tiba hadir dan langsung menghubungimu. Dari meminjam uang, meminta tolong menyelesaikan sesuatu, hingga sekadar mencari dukungan. Setelah kebutuhannya terpenuhi, ia kembali menghilang tanpa kabar. Ironisnya, saat kamu berada di posisi sebaliknya, pesan yang kamu kirim justru tak kunjung mendapat balasan. Gambaran ini menjadi contoh nyata hubungan pertemanan yang tidak berjalan secara timbal balik.
Dalam kajian psikologi sosial, hubungan pertemanan yang sehat seharusnya dibangun atas prinsip resiprositas, yakni adanya keseimbangan antara memberi dan menerima. Kedua pihak idealnya saling menghadirkan dukungan, perhatian, serta kehadiran yang konsisten. Sebuah penelitian dalam Jurnal Psikologi Sosial tahun 2025 menyebutkan bahwa kedekatan dalam pertemanan hanya dapat terjaga jika terdapat kesetaraan dan saling mendukung satu sama lain. Ketika salah satu pihak hanya hadir saat membutuhkan, keseimbangan tersebut perlahan akan memudar. Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi teman yang hanya datang di saat membutuhkan?
