Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketika Teman Datang Hanya saat Butuh, Haruskah Tetap Dipertahankan?
ilustrasi seseorang duduk sendiri melihat notifikasi HP (unsplash.com/Lumière Rezaie)

Siapa yang tidak pernah berada di situasi seperti ini? Kamu memiliki seorang teman yang jarang memberi kabar. Namun, setiap kali membutuhkan bantuan, ia tiba-tiba hadir dan langsung menghubungimu. Dari meminjam uang, meminta tolong menyelesaikan sesuatu, hingga sekadar mencari dukungan. Setelah kebutuhannya terpenuhi, ia kembali menghilang tanpa kabar. Ironisnya, saat kamu berada di posisi sebaliknya, pesan yang kamu kirim justru tak kunjung mendapat balasan. Gambaran ini menjadi contoh nyata hubungan pertemanan yang tidak berjalan secara timbal balik.

Dalam kajian psikologi sosial, hubungan pertemanan yang sehat seharusnya dibangun atas prinsip resiprositas, yakni adanya keseimbangan antara memberi dan menerima. Kedua pihak idealnya saling menghadirkan dukungan, perhatian, serta kehadiran yang konsisten. Sebuah penelitian dalam Jurnal Psikologi Sosial tahun 2025 menyebutkan bahwa kedekatan dalam pertemanan hanya dapat terjaga jika terdapat kesetaraan dan saling mendukung satu sama lain. Ketika salah satu pihak hanya hadir saat membutuhkan, keseimbangan tersebut perlahan akan memudar. Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi teman yang hanya datang di saat membutuhkan?

1. Mengapa pola ini terjadi?

ilustrasi mengulurkan tangan dan meminta bantuan (pexels.com/Samantha Garrote)

Ada berbagai alasan mengapa seseorang cenderung hadir hanya saat membutuhkan. Sebagian orang memandang pertemanan secara fungsional, yakni sebagai sumber bantuan ketika diperlukan. Di sisi lain, ada pula yang tidak menyadari bahwa sikapnya sudah bersifat sepihak karena terbiasa menerima tanpa merasa perlu memberi kembali.

Situasi ini kerap terlihat dalam keseharian, misalnya pada hubungan dengan rekan kerja. Ia mungkin sering mengandalkanmu saat menghadapi tenggat waktu yang sulit, bahkan tak segan meminta bantuan di luar jam kerja. Namun ketika kamu membutuhkan dukungan atau sekadar ingin berbagi beban, ia justru sulit dihubungi atau beralasan sibuk. Pola seperti ini bisa terbentuk karena ia menganggapmu selalu bisa diandalkan, tanpa benar-benar memikirkan keseimbangan dalam hubungan tersebut.

2. Apa dampaknya bagi kesehatan emosional?

ilustrasi menolong (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mempertahankan relasi yang tidak setara seperti ini tentu berdampak pada kondisi emosional. Rasa kecewa, kesal, hingga kelelahan mental dapat muncul karena terus berada di posisi sebagai pihak yang memberi tanpa mendapatkan timbal balik yang sepadan. Kamu mungkin selalu hadir saat temanmu menghadapi masalah, mendengarkan keluhannya, memberi saran, bahkan meluangkan waktu di tengah kesibukan.

Namun ketika kamu berada di titik terendah, ia tidak menunjukkan kepedulian yang sama. Seiring waktu, hal ini bisa menumbuhkan perasaan tidak dihargai, bahkan membuatmu mempertanyakan makna dan nilai dirimu dalam hubungan tersebut. Padahal, pertemanan yang sehat semestinya menghadirkan rasa aman serta dukungan emosional. Jika yang dirasakan justru sebaliknya, maka penting untuk mulai mengevaluasi kualitas hubungan itu.

3. Ketika memiliki teman yang datang hanya saat butuhnya saja, haruskah tetap dipertahankan?

ilustrasi seseorang menangis (unsplash.com/Gadiel Lazcano)

Meski begitu, tidak semua hubungan yang terasa sepihak harus langsung diakhiri. Namun, tidak semuanya juga layak dipertahankan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali polanya: apakah perilaku tersebut hanya terjadi sesekali atau sudah menjadi kebiasaan.

Jika seorang teman sesekali menghilang karena sedang menghadapi masalah pribadi, hal itu mungkin masih bisa dimaklumi. Akan tetapi, jika ia secara konsisten hanya muncul saat membutuhkan sesuatu, maka hal tersebut menjadi tanda jelas bahwa hubungan berjalan tidak seimbang.

Setelah itu, komunikasi menjadi langkah penting. Sampaikan perasaanmu secara jujur dan terbuka. Misalnya dengan mengungkapkan bahwa kamu merasa hubungan tersebut berjalan satu arah. Jika ia menunjukkan keinginan untuk berubah, maka masih ada peluang untuk memperbaiki hubungan. Sebaliknya, jika tidak ada perubahan, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang lebih sehat bagi dirimu.

4. Pentingnya memilih pertemanan yang lebih sehat

ilustrasi persahabatan yang suportif (unsplash.com/Helena Lopes)

Seiring waktu, banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua hubungan perlu dipertahankan. Kualitas pertemanan jauh lebih penting daripada sekadar jumlahnya. Memiliki sedikit teman yang benar-benar peduli sering kali terasa lebih berarti dibandingkan memiliki banyak teman yang hanya hadir saat membutuhkan.

Bayangkan memiliki satu atau dua teman yang selalu ada, bukan hanya ketika mereka membutuhkan sesuatu, tetapi juga saat kamu membutuhkan mereka. Mereka mungkin tidak sempurna, tetapi kehadiran mereka terasa tulus dan konsisten. Dibandingkan dengan hubungan yang dilandasi kepentingan, pertemanan seperti ini jelas lebih menenangkan dan bermakna.

Pada akhirnya, pertemanan yang sehat bertumpu pada keseimbangan. Bukan sekadar tentang siapa yang datang saat butuh, melainkan siapa yang tetap hadir tanpa syarat. Jika sebuah hubungan hanya berjalan satu arah, mungkin sudah saatnya kamu bertanya. Apakah pertemanan itu masih layak dipertahankan, atau justru perlu dilepaskan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy