Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tips Menghadapi Anak yang Cengeng, Harus Sabar!
ilustrasi anak menangis (unsplash.com/Zachary Kadolph)
  • Menangani anak yang cengeng bukan dengan melarang menangis, tapi membantu mereka mengenali dan mengelola emosi secara sehat melalui komunikasi positif.
  • Orangtua disarankan mengenalkan berbagai jenis emosi agar anak bisa mengekspresikan perasaan tanpa harus selalu menangis dan belajar mencari solusi sendiri.
  • Keteladanan orangtua dalam bersikap tenang dan sabar menjadi kunci, karena anak akan meniru cara orangtua mengelola emosi dalam situasi sulit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap anak pasti memiliki cara berbeda untuk bisa mengekspresikan perasaannya dan menangis kerap kali menjadi bentuk komunikasi utama mereka. Pada saat anak terlalu sering menangis untuk hal-hal kecil atau sepele, maka orangtua akan mudah merasa kewalahan dan bingung dalam meresponsnya.

Menangani anak yang cengeng bukan berarti harus melarangnya menangis, melainkan membantu mereka mengenali dan juga mengelola emosinya dengan lebih baik. Berikut ini merupakan beberapa tips efektif yang dapat dilakukan orangtua dalam menghadapi anak yang cengeng.

1. Dengarkan dan validasi perasaannya

ilustrasi anak dan ibu (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan berusaha mendengarkan anak sepenuh hati pada saat mereka sedang menangis. Jangan sampai langsung menyuruhnya berhenti menangis, sebab hal tersebut hanya akan membuat mereka jadi merasa tidak dimengerti atau pun diabaikan.

Sebaliknya, coba validasi perasaannya dengan menggunakan kata-kata positif agar tidak sampai membuat mereka semakin cemas. Kalimat yang positif akan membantu anak untuk masa diterima dan dipahami, sehingga mereka pun dapat menenangkan diri dan belajar dalam mengelola emosinya secara sehat.

2. Ajarkan anak untuk mengenali dan menyebutkan emosinya

ilustrasi anak emosi dan menangis (unsplash.com/Zahra Amiri)

Banyak anak yang menangis karena tidak mampu menjelaskan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata. Orangtua tentunya bisa membantu dengan memperkenalkan berbagai jenis emosi, seperti rasa kecewa, marah, takut, atau sedih dalam konteks sehari-hari.

Pada saat anak sudah mulai mengenali emosinya, maka mereka pun akan lebih mudah untuk mencari solusi tanpa harus menangis secara terus-menerus. Sebagai contoh, pada saat marah karena tidak diajak bermain, maka mereka pun dapat mengutarakan rasa tidak nyaman melalui kata-kata agar komunikasinya semakin terbuka.

3. Hindari memberi perhatian berlebih setiap kali anak menangis

ilustrasi anak marah (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Memberi perhatian setiap kali anak menangis sekilas mungkin terlihat seperti bentuk kasih sayang, namun jika terus-menerus, maka ini akan membuat anak salah kaprah. Mereka akan menganggap bahwa menangis merupakan cara paling efektif untuk bisa memeroleh perhatian atau pun mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Cobalah untuk tetap berusaha tenang dan tidak langsung menuruti keinginan anak pada saat menangis tanpa alasan yang jelas. Setidaknya dengan cara tersebut, maka anak pun akan memahami bahwa tidak semua tangisan yang mereka tunjukkan akan menghasilkan reaksi yang diinginkan, sehingga mereka pun akan belajar bagaimana caranya menenangkan diri sendiri.

4. Beri contoh terkait cara mengelola emosi dengan tenang

ilustrasi anak berbicara (unsplash.com/Kelli McClintock)

Anak-anak biasanya akan selalu meniru perilaku yang ditunjukkan oleh orangtuanya, termasuk dalam hal pengelolaan emosi. Jika orangtua kerap menunjukkan ketenangan dan empati ketika menghadapi situasi yang sulit, maka anak pun juga akan meniru hal tersebut.

Cobalah untuk tetap bersabar dan berbicara dengan menggunakan nada lembut, walau anak mungkin sedang menangis dengan keras. Keteladanan yang ada dianggap jauh lebih efektif daripada memberikan nasihat panjang lebar, sebab anak akan banyak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar.

Menghadapi anak yang cengeng memang memerlukan kesabaran ekstra, pendekatan yang lembut, serta konsisten. Justru dengan cara-cara yang tepat, maka anak pun akan belajar untuk lebih kuat secara emosional. Dukungan penuh dari orangtua dapat menjadi kunci agar anak tumbuh menjadi pribadi yang penuh kepercayaan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team