Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi anak
Ilustrasi anak (pexels.com/Julia M Cameron)

Intinya sih...

  • Mendengarkan anak tanpa gangguan gadget atau aktivitas lain.

  • Hindari memberikan nasihat sebelum anak selesai bercerita.

  • Gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan ketertarikan dan kehangatan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap anak punya cerita yang ingin dibagikan. Mulai dari hal-hal sederhana seperti kejadian di sekolah, pertengkaran kecil dengan teman, sampai perasaan-perasaan yang mungkin sulit mereka ungkapkan. Masalahnya, kesibukan orang dewasa sering kali membuat kita lupa bahwa anak-anak butuh didengarkan dengan sungguh-sungguh. Padahal, menjadi pendengar yang baik adalah salah satu cara terbaik untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, sekaligus membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sayangnya, mendengarkan anak bukan sekadar duduk diam saat mereka bercerita. Ada seni tersendiri yang perlu dipahami agar anak merasa benar-benar didengar dan dihargai. Nah, kalau kamu ingin memperbaiki kualitas komunikasi dengan si kecil, yuk simak beberapa cara sederhana yang bisa langsung dipraktikkan mulai hari ini!

1. Berikan perhatian penuh tanpa gangguan gadget atau aktivitas lain

Ilustrasi anak dan ibu (freepik.com/pch.vector)

Coba ingat-ingat, berapa kali kamu mendengarkan cerita anak sambil scrolling ponsel atau sambil mengerjakan hal lain? Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya besar banget bagi anak. Mereka bisa merasakan saat kamu gak benar-benar fokus mendengarkan. Akibatnya, anak jadi malas bercerita dan memilih menyimpan sendiri perasaannya.

Solusinya simpel, kok! Saat anak mulai bercerita, letakkan dulu gadget atau hentikan sejenak aktivitas yang sedang kamu lakukan. Tatap mata mereka, anggukkan kepala sebagai tanda kamu mengikuti ceritanya, dan berikan respons yang menunjukkan ketertarikan. Misalnya, "Oh ya? Terus gimana?" atau "Wah, pasti seru ya!" Dengan begitu, anak akan merasa bahwa cerita mereka penting dan layak untuk didengarkan.

Memang, di tengah kesibukan yang padat, meluangkan waktu khusus untuk mendengarkan anak kadang terasa berat. Tapi ingat, momen-momen seperti ini gak akan terulang lagi. Jadi, manfaatkan sebaik mungkin untuk membangun koneksi yang kuat dengan si kecil.

2. Hindari langsung memberikan nasihat atau solusi sebelum anak selesai bercerita

Ilustrasi anak bersama ibu (freepik.com/freepik)

Sebagai orang dewasa, kita sering tergoda untuk langsung memberikan solusi saat anak menceritakan masalahnya. Padahal, yang mereka butuhkan pertama kali adalah ruang untuk mengekspresikan perasaan, bukan ceramah panjang tentang apa yang seharusnya dilakukan. Anak perlu merasa bahwa emosi mereka valid dan dipahami terlebih dahulu.

Cobalah untuk menahan diri dari keinginan memberi nasihat instan. Dengarkan dulu cerita mereka sampai selesai. Kamu bisa menggunakan kalimat-kalimat seperti, "Mama/Papa ngerti kamu pasti sedih ya," atau "Hmm, pantas aja kamu kesal." Validasi perasaan seperti ini membuat anak merasa dipahami dan diterima apa adanya.

Setelah anak selesai bercerita dan emosinya sudah lebih tenang, barulah kamu bisa menanyakan, "Kamu mau Papa/Mama bantu gak?" atau "Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?" Dengan cara ini, anak belajar bahwa mereka punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah sendiri, sementara kamu tetap ada sebagai support system yang siap membantu kapan pun dibutuhkan.

3. Gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan ketertarikan dan kehangatan

Ilustrasi anak tersenyum (freepik.com/freepik)

Komunikasi bukan hanya soal kata-kata, tapi juga bahasa tubuh. Anak-anak sangat peka terhadap gestur dan ekspresi wajah orang dewasa. Kalau kamu mendengarkan dengan wajah datar atau posisi tubuh yang menjauh, mereka bisa menangkap sinyal bahwa kamu gak tertarik dengan cerita mereka.

Untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar engaged, condongkan sedikit tubuhmu ke arah anak saat mereka bercerita. Sesekali sentuh lembut bahu atau kepala mereka sebagai bentuk dukungan. Ekspresi wajah juga penting, tunjukkan rasa penasaran, kejutan, atau empati sesuai dengan alur cerita mereka. Misalnya, saat anak bercerita tentang prestasi kecilnya, tunjukkan wajah bangga dan excited.

Oh ya, satu hal lagi yang sering terlupakan, sesuaikan posisi tubuhmu dengan tinggi anak. Kalau perlu, duduk atau jongkok agar mata kamu sejajar dengan mereka. Posisi ini menciptakan kesetaraan dan membuat anak merasa lebih nyaman untuk berbagi cerita.

4. Ajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk bercerita lebih banyak

Ilustrasi anak memeluk nenek (freepik.com/freepik)

Terkadang anak butuh sedikit dorongan untuk membuka diri lebih dalam. Di sinilah peran pertanyaan terbuka menjadi penting. Daripada bertanya dengan jawaban ya atau tidak seperti "Sekolahnya menyenangkan?", coba ganti dengan "Hal paling seru apa yang terjadi di sekolah hari ini?"

Pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan mereka. Kamu bisa menggunakan pertanyaan seperti "Gimana perasaanmu waktu itu terjadi?" atau "Apa yang bikin kamu senang/sedih tentang hal itu?" Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa kamu tertarik untuk memahami perspektif mereka secara mendalam.

Tapi ingat, jangan bombardir anak dengan terlalu banyak pertanyaan sekaligus. Beri jeda dan waktu bagi mereka untuk berpikir dan merespons. Kalau anak terlihat gak nyaman atau mulai tertutup, mundur sejenak dan coba lagi di lain waktu. Yang penting, anak tahu bahwa pintu komunikasi selalu terbuka kapan pun mereka siap.

5. Luangkan waktu khusus untuk quality time tanpa distraksi apa pun

Ilustrasi anak berfoto (pexels.com/Annushka Ahuja)

Membangun kebiasaan mendengarkan yang baik butuh konsistensi. Caranya? Ciptakan rutinitas quality time khusus dengan anak. Bisa saat makan malam bersama, sebelum tidur, atau bahkan saat perjalanan pulang sekolah. Momen-momen ini jadi kesempatan emas untuk mendengarkan cerita mereka tanpa terburu-buru.

Kamu bisa memulai dengan tradisi sederhana seperti "sharing time" sebelum tidur, di mana setiap anggota keluarga berbagi satu hal menarik yang terjadi hari itu. Atau buat "dates" khusus dengan anak, misalnya jalan-jalan ke taman sambil makan es krim. Suasana santai seperti ini biasanya membuat anak lebih terbuka untuk bercerita.

Yang terpenting, jadikan momen-momen ini sebagai prioritas yang gak bisa diganggu gugat. Matikan notifikasi ponsel, lupakan sejenak pekerjaan kantor, dan fokus sepenuhnya pada anak. Percaya deh, investasi waktu dan perhatian ini akan berbuah manis di masa depan. Anak yang merasa didengarkan akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan gak segan berbagi masalah dengan orangtuanya.

Menjadi pendengar yang baik untuk anak memang butuh usaha dan kesabaran ekstra. Tapi percayalah, setiap detik yang kamu luangkan untuk benar-benar mendengarkan mereka adalah investasi berharga untuk hubungan jangka panjang. Jadi, sudah siap menjadi pendengar terbaik untuk si kecil?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team