Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh percaya diri, pintar, dan mampu bersaing. Tapi kadang, tanpa disadari, beberapa kebiasaan justru membuat anak merasa lebih unggul dari orang lain. Perasaan "paling hebat" atau "paling benar" ini bisa berkembang menjadi superiority complex jika tidak diarahkan dengan tepat. Anak memang butuh dukungan, tapi mereka juga perlu belajar bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.
Superiority complex tidak terbatas pada anak yang suka pamer atau merasa paling pintar. Lebih dalam dari itu, ada pola pikir bahwa mereka tidak perlu mendengarkan orang lain, sulit menerima kritik, atau menganggap dirinya selalu benar. Kebiasaan-kebiasaan kecil dari orangtua sering jadi pemicunya, dan memahami hal ini bisa membantu mencegah masalah yang lebih besar di masa depan. Berikut ini lima kebiasaan orangtua yang tanpa sadar membentuk superiority complex pada anak. Yuk, simak!
