Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Penyebab Anak Mogok Sekolah, Perlukah Pindah?
ilustrasi menolak belajar (pexels.com/Gustavo Fring)

Fenomena mogok sekolah biasanya terjadi pada anak prasekolah atau awal sekolah dasar. Orangtua pastinya dibuat bingung dengan penolakan anak untuk pergi ke sekolah. Sudah didorong bahkan diberi iming-iming apa pun, anak tetap tidak mau bersekolah.

Ia bahkan bisa tantrum dan orangtua kesulitan menenangkannya. Repotnya lagi, di usia ini biasanya anak belum lancar mengemukakan masalahnya. Jadi, ada baiknya orangtua menyelidiki kemungkinan-kemungkinan di bawah ini agar dapat menemukan solusinya.

1. Kecemasan berlebih saat anak berpisah dari orangtua atau pengasuh

ilustrasi murid-murid (pexels.com/Mikhail Nilov)

Anak yang sejak kecil tidak terbiasa bepergian atau bergaul dengan selain anggota keluarga inti cenderung mengalami kelekatan yang tidak aman dengan orangtua atau pengasuh. Ia tak pernah bermain dengan saudara sepupu atau tetangga yang sebaya.

Ketika anak mulai bersekolah, banyaknya orang asing di tempat yang juga asing baginya terasa sebagai ancaman besar. Anak merasa ketakutan apalagi saat orangtua harus meninggalkannya di ruang kelas. Biasanya, kecemasan ini akan berkurang seiring waktu.

Orangtua dapat bekerja sama dengan wali murid lainnya untuk saling memperkenalkan anak mereka yang sepertinya cocok karakternya. Anak dengan kecemasan berpisah dari orangtua perlu punya sahabat dulu sebelum perlahan-lahan mampu mengembangkan pertemanan dan merasa nyaman di sekolah. 

2. Masalah dengan teman

ilustrasi murid-murid (pexels.com/CDC)

Masalah dengan teman tidak selalu berarti ada kawan yang sengaja merundungnya. Anak bisa saja merasa terganggu dan tak suka saat tempat duduknya ditempati oleh anak lain. Padahal, di kelas memang tidak ada aturan tentang tempat duduk.

Semua murid bebas memilih tempat duduknya setiap hari. Namun anak merasa tempat duduknya diambil oleh temannya. Masalah lain misalnya, candaan teman yang dirasakan anak sebagai ejekan.

Karena sebabnya bermacam-macam, orangtua yang sedang pusing oleh penolakan anak untuk bersekolah sebaiknya tidak bersikap gegabah. Jangan langsung menyalahkan teman-temannya dan menuduh mereka telah menakali anak. Bantu anak juga dalam mengembangkan cara pandangnya atas sikap teman-temannya.

3. Kesulitan mengikuti pelajaran

ilustrasi murid-murid (pexels.com/Yan Krukov)

Ini sebabnya mogok sekolah kerap terjadi pada anak prasekolah atau awal sekolah dasar. Anak masih dalam proses peralihan dari aktivitas sehari-harinya yang didominasi dengan bermain menjadi lebih banyak belajar.

Anak tak cuma mudah merasa bosan dengan kegiatan barunya, melainkan juga kesulitan memahami berbagai pelajaran. Jika orangtua di rumah biasa mengajarinya secara perlahan-lahan, di sekolah pembelajaran berjalan lebih cepat. Kesulitan anak dalam mengikuti pelajaran dapat membuatnya stres.

4. Pengalaman kurang menyenangkan dengan pengajar

ilustrasi murid-murid (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Di antara sekian banyak pengajar, pastinya ada yang cocok dan kurang cocok untuk anak. Anak yang masih kecil umumnya sangat takut dengan pengajar yang galak. Anak juga masih sulit membedakan pengajar yang tegas dengan pengajar yang galak.

Anak dengan karakter cuek barangkali tidak masalah saat ditegur salah satu pengajar di depan kelas. Ia bahkan masih bisa tertawa-tawa. Akan tetapi, anak yang lebih sensitif dapat merasa terluka oleh teguran yang sama.

Seakan-akan dirinya telah dipermalukan di depan teman-teman dan dibenci oleh pengajar tersebut. Pastikan orangtua mencari tahu apa yang telah terjadi pada anak selama di sekolah. Bila memang ada sikap oknum pengajar yang kurang tepat bahkan keterlaluan, orangtua bisa membicarakannya dengan kepala sekolah.

5. Rasa minder

ilustrasi murid-murid (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Apakah rasa minder anak selalu disebabkan adanya teman yang mengejeknya? Belum tentu. Anak bahkan bisa merasa minder hanya dengan melihat perbedaan antara dirinya dengan teman-temannya. Jadi, jangan berprasangka dulu pada kawan-kawannya.

Biasakan untuk membangun kepercayaan diri anak sejak di rumah. Bukan dengan membatasi pertemanan dan pengetahuannya. Namun justru mengajak anak bergaul dengan teman-teman dari beragam kalangan serta melihat-lihat berbagai hal yang tidak anak miliki di rumah.

Jangan khawatir ini bakal membuat anak tambah minder. Sejauh orangtua menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut dengan cara yang bijak, ini justru akan memperluas wawasan anak. Wawasan yang luas membentuk kepercayaan dirinya.

Anak yang mogok bersekolah biasanya hanya memerlukan motivasi lebih dari orangtua maupun guru dan teman. Tentu sebelumnya orangtua harus paham dulu apa yang menjadi masalah anak di sekolah. Namun bila persoalannya lebih serius, memindahkan anak ke sekolah yang lebih tepat baginya juga dapat dilakukan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team