Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Pertanyaan Sebelum Ikuti Saran Parenting dari Internet, Wajib Tahu!
Ilustrasi anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Pentingnya bersikap kritis terhadap saran parenting di internet karena tidak semua informasi cocok untuk setiap anak dan keluarga.

  • Periksa kredibilitas sumber, dasar riset, serta kesesuaian saran dengan kondisi keluarga dan karakter anak sebelum menerapkannya.

  • Tekankan bahwa nilai-nilai keluarga harus menjadi acuan utama agar orangtua bisa memilih saran yang relevan dan tetap bijak dalam pengasuhan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era digital seperti sekarang, informasi tentang parenting bertebaran di mana-mana. Mulai dari media sosial, blog, hingga forum diskusi online, semua menawarkan tips dan trik untuk membesarkan anak. Memang, kemudahan akses ini terasa seperti berkah bagi para orangtua yang sedang mencari panduan. Namun, di balik melimpahnya informasi tersebut, ada tantangan besar yang perlu diwaspadai, yakni tidak semua saran parenting di internet cocok untuk diterapkan pada anak dan keluargamu.

Sayangnya, banyak orangtua yang langsung menelan mentah-mentah setiap saran yang mereka temukan di internet. Padahal, setiap anak itu unik, dan apa yang berhasil untuk satu keluarga belum tentu cocok untuk keluarga lain. Nah, sebelum kamu memutuskan untuk mengikuti saran parenting dari dunia maya, ada baiknya ajukan dulu beberapa pertanyaan penting berikut ini, ya!

1. Apakah sumber ini kredibel dan tepercaya?

Ilustrasi anak tidur (freepik.com/freepik)

Pertanyaan pertama yang wajib kamu ajukan adalah soal kredibilitas sumber. Di internet, siapa pun bisa menulis apa pun, termasuk tentang parenting. Masalahnya, tidak semua orang yang membagikan tips memiliki keahlian atau pengalaman yang memadai. Ada yang memang seorang psikolog anak, dokter, atau praktisi parenting berpengalaman, tetapi ada juga yang sekadar berbagi opini pribadi tanpa dasar yang kuat.

Oleh karena itu, sebelum mengikuti suatu saran, coba cari tahu dulu siapa penulisnya. Apakah mereka memiliki latar belakang pendidikan atau profesi yang relevan? Apakah mereka punya pengalaman nyata dalam bidang pengasuhan anak? Kalau informasi tentang penulis sulit ditemukan atau terasa meragukan, sebaiknya kamu lebih berhati-hati dalam menerima sarannya, ya.

2. Apakah saran ini didukung riset atau hanya pengalaman pribadi?

ilustrasi anak bersama ayah (pexels.com/Timur Weber)

Saran parenting yang beredar di internet umumnya terbagi menjadi dua kategori, yang berbasis riset ilmiah dan yang murni berdasarkan pengalaman pribadi. Keduanya memang bisa bermanfaat, tetapi tentu saja bobotnya berbeda. Saran yang didukung penelitian cenderung lebih bisa diandalkan karena sudah melewati proses pengujian yang sistematis.

Nah, saat menemukan tips parenting di internet, coba perhatikan apakah ada rujukan ke studi atau penelitian tertentu. Kalau iya, itu pertanda baik. Namun, bila saran tersebut hanya diawali dengan kalimat seperti "menurut pengalaman saya" atau "anak saya berhasil dengan cara ini," kamu perlu lebih selektif. Bukan berarti pengalaman pribadi gak berharga, tetapi kamu harus ingat bahwa apa yang berhasil untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak yang lain.

3. Apakah cocok dengan kondisi keluargamu?

Ilustrasi anak bersama ayah dan ibu (freepik.com/freepik)

Sering kali, saran parenting di internet terdengar sangat ideal dan sempurna. Misalnya, tips tentang rutinitas pagi yang rapi, jadwal tidur yang konsisten, atau aktivitas edukatif yang kreatif setiap hari. Memang kedengarannya bagus, tetapi coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah ini realistis untuk situasi keluargamu?

Setiap keluarga punya dinamika yang berbeda. Ada yang kedua orangtuanya bekerja penuh waktu, ada yang single parent, ada yang tinggal bersama kakek nenek, dan sebagainya. Kondisi finansial, waktu, dan energi yang tersedia juga berbeda-beda. Jadi, sebelum mengadopsi suatu saran, pastikan kamu sudah mempertimbangkan apakah saran tersebut bisa diterapkan tanpa membuat dirimu atau keluarga kewalahan. Ingat, parenting yang baik bukan soal kesempurnaan, melainkan tentang keseimbangan.

4. Apakah saran ini sesuai dengan karakter anakmu?

ilustrasi anak bersama ibu di dapur (pexels.com/Seljan Salimova)

Setiap anak terlahir dengan temperamen, kepribadian, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada anak yang mudah beradaptasi, ada yang lebih sensitif, ada yang sangat aktif, dan ada pula yang cenderung pendiam. Saran parenting yang bersifat general tentu gak bisa mengakomodasi semua perbedaan ini.

Misalnya, ada saran yang menyebutkan bahwa anak harus dibiarkan menangis sendiri agar mandiri. Namun, untuk anak dengan temperamen yang lebih sensitif, pendekatan ini justru bisa berdampak negatif. Oleh karena itu, selalu gunakan pengetahuanmu tentang anakmu sendiri sebagai filter utama. Kamu adalah orang yang paling mengenal karakternya, jadi percayalah pada instingmu sebagai orangtua.

5. Apakah saran ini sejalan dengan nilai-nilai keluargamu?

Ilustrasi anak tersenyum (freepik.com/freepik)

Terakhir, dan mungkin yang paling penting, adalah soal kesesuaian dengan nilai-nilai keluarga. Setiap keluarga pasti punya prinsip dan nilai yang ingin diturunkan ke anak-anaknya, entah itu soal agama, budaya, atau filosofi hidup tertentu. Saran parenting dari internet, yang sering kali berasal dari berbagai latar belakang, belum tentu selaras dengan apa yang kamu yakini.

Sebelum menerapkan suatu saran, tanyakan pada dirimu, apakah ini sejalan dengan cara kami ingin membesarkan anak? Apakah ini mendukung nilai-nilai yang kami pegang? Kalau jawabannya tidak, maka gak ada salahnya untuk melewatkan saran tersebut dan mencari alternatif lain yang lebih cocok. Ingat, kamu gak wajib mengikuti setiap tren parenting yang sedang viral, kok.

Informasi parenting di internet memang bisa menjadi sumber inspirasi yang sangat berharga. Namun, sebagai orangtua, kamu tetap perlu menyaringnya dengan bijak. Dengan mengajukan lima pertanyaan di atas, kamu bisa lebih selektif dalam memilih saran mana yang layak diterapkan dan mana yang sebaiknya diabaikan. Jadi, sudah siap jadi orangtua yang lebih kritis dan bijaksana?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team