Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Orangtua Sebaiknya Menghindari Komentar tentang Berat Badan Anak
ilustrasi anak dimarahi (pexels.com/gabbyk)

Komentar soal berat badan anak sering dianggap sebagai bentuk perhatian dari orangtua. Padahal, ucapan seperti “kamu makin gemuk” atau “jangan makan banyak” bisa meninggalkan dampak emosional yang besar pada anak. Bukannya termotivasi hidup sehat, anak justru bisa tumbuh dengan rasa tidak percaya diri dan hubungan yang buruk dengan makanan.

Para ahli juga menemukan bahwa pembicaraan soal berat badan dapat memengaruhi kesehatan mental anak hingga dewasa nanti. Bahkan komentar kecil yang terdengar biasa bagi orangtua bisa terus diingat anak selama bertahun-tahun. Nah, supaya gak salah langkah, berikut beberapa alasan kenapa orangtua sebaiknya menghindari komentar tentang berat badan anak.

1. Anak bisa merasa dirinya tidak cukup baik

ilustrasi anak membawa bekal ke sekolah (pexels.com/paveldanilyuk)

Anak yang sering dikomentari soal tubuhnya dapat mulai merasa bahwa penampilan menentukan nilai dirinya. Mereka jadi lebih mudah minder, malu, dan takut dinilai orang lain. Jika terus terjadi, anak bisa tumbuh dengan citra diri yang negatif.

Selain itu, anak juga dapat merasa bahwa kasih sayang orangtua bergantung pada bentuk tubuh mereka. Kondisi ini membuat anak berpikir bahwa dirinya hanya diterima jika memiliki tubuh tertentu. Dampaknya, rasa aman dan percaya diri anak bisa perlahan menurun.

“Komentar keras tentang berat badan dapat mengirimkan pesan bahwa orang tua mengaitkan berat badan dengan bagaimana mereka menghargai anak,” ujar Rebecca Puhl, Deputy Director of the Rudd Center for Food Policy and Obesity, dikutip dari New York Times.

2. Bisa memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Komentar tentang berat badan dapat membuat anak merasa bersalah setiap kali makan. Mereka mungkin mulai takut makan banyak, diam-diam diet, atau justru makan berlebihan saat stres. Hal ini dapat berkembang menjadi pola makan yang gak sehat.

Mengutip dari Newyork Times, penelitian oleh Dianne Neumark-Sztainer, profesor di University of Minnesota, menemukan bahwa ketika orangtua berbicara kepada remaja tentang menurunkan berat badan, remaja lebih mungkin melakukan diet, memakai cara-cara pengendalian berat badan yang tidak sehat, dan binge eating. Sebaliknya, perilaku tersebut lebih jarang muncul ketika percakapan orangtua berfokus pada kebiasaan makan sehat, bukan pada berat badan itu sendiri.

Pada beberapa kasus, anak jadi terlalu fokus pada angka timbangan dibanding kebutuhan tubuhnya sendiri. Padahal, anak masih berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan nutrisi yang cukup. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan makan di kemudian hari.

3. Dampaknya bisa terbawa sampai dewasa

ilustrasi keluarga mutigenerasi (pexels.com/askarabayev)

Banyak orang dewasa masih mengingat komentar soal tubuh yang mereka dengar saat kecil. Kalimat yang terdengar sepele ternyata bisa meninggalkan luka emosional yang bertahan lama. Bahkan beberapa komentar saja sudah cukup untuk memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Anak perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami dampak jangka panjang ini. Mereka bisa tumbuh dengan rasa tidak puas terhadap tubuhnya meskipun berat badannya sebenarnya normal. Hal tersebut terjadi karena standar tubuh ideal sudah dikenalkan sejak usia dini.

“Beberapa komentar saja efeknya sama seperti dikomentari sepanjang waktu. Tampaknya hal itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam,” ujar Brian Wansink, Profesor dan Direktur Food and Brand Lab di Cornell University, dikutip dari The New York Times.

4. Bisa meningkatkan risiko obesitas

ilustrasi berbagi makanan (pexels.com/askarabayev)

Banyak orangtua mengira komentar soal berat badan akan membuat anak lebih termotivasi untuk hidup sehat. Namun, beberapa penelitian justru menemukan hasil sebaliknya. Anak yang sering diberi label terlalu gemuk ternyata lebih berisiko mengalami obesitas saat dewasa.

Hal ini bisa terjadi karena rasa malu dan stres membuat anak kehilangan hubungan yang sehat dengan tubuhnya sendiri. Anak juga lebih mudah mencari pelarian emosional lewat makanan atau kehilangan semangat untuk mencoba kebiasaan sehat. Akibatnya, tekanan yang diberikan malah memperburuk keadaan.

Selain itu, komentar dari keluarga biasanya lebih membekas dibanding komentar dari orang lain. Karena berasal dari orang terdekat, ucapan tersebut lebih mudah memengaruhi kondisi emosional anak. Itulah kenapa orangtua perlu lebih berhati-hati saat membahas tubuh anak.

“Komentar kritis orangtua sebagai sesuatu yang meninggalkan bekas luka emosional,” ujar Dr. Brian Wansink.

5. Anak lebih butuh dukungan daripada kritik

ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama (pexels.com/cottonbro)

Daripada terus mengomentari berat badan, para ahli menyarankan orangtua fokus membangun kebiasaan sehat di rumah. Misalnya dengan menyediakan makanan bergizi, mengajak anak aktif bergerak, dan membiasakan makan bersama keluarga. Cara seperti ini jauh lebih efektif membantu anak menjaga kesehatan tanpa merasa dihakimi.

Anak juga belajar lewat contoh yang mereka lihat setiap hari. Ketika orangtua memiliki hubungan yang sehat dengan makanan dan tubuhnya sendiri, anak cenderung meniru kebiasaan tersebut. Karena itu, memberi teladan positif jauh lebih penting daripada terus mengkritik penampilan anak.

“Makanan seharusnya dikaitkan dengan menghilangkan rasa lapar, bukan sebagai hadiah emosional,” ujar Dr. Rachel Rodgers, associate professor di Departemen Psikologi Terapan Northeastern University di Boston, dikutip dari The Guardian. ”Orangtua bisa memberi contoh sikap positif terhadap makanan dengan makan bersama anak dan membuat momen makan terasa menyenangkan,” lanjutnya.

Pada akhirnya, anak lebih membutuhkan dukungan dan rasa aman daripada komentar tentang tubuhnya. Jadi, daripada fokus pada berat badan, bantu anak membangun kebiasaan sehat dan rasa percaya diri yang positif sejak dini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team