Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi seorang ibu yang baru saja melahirkan
ilustrasi seorang ibu yang baru saja melahirkan (pexels.com/Jonathan Borba)

Salah satu hal yang banyak pasangan harapkan dari pernikahan adalah kehadiran anak. Membayangkan punya buah hati yang lucu dan menggemaskan, serta merawatnya sedemikian rupa hingga tumbuh dewasa dan mampu hidup mandiri rasanya membuat hati berbunga-bunga. Oleh sebab itu, tidak heran bila banyak pasangan ingin segera punya anak begitu resmi menjadi sepasang suami istri.

Sayangnya, tidak semua pasangan suami istri sadar betul tentang urusan memiliki anak. Pasalnya, masih banyak dari mereka yang ingin cepat-cepat menjadi orangtua tanpa memikirkan segala kebutuhannya secara detail, sehingga menyesal di kemudian hari. Nah, supaya tidak mengalami kejadian serupa, pahami beberapa alasan punya anak tanpa perencanaan matang adalah beban berat.

1. Mengurus anak adalah komitmen besar

ilustrasi orangtua membacakan cerita untuk anaknya (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tidak dapat dimungkiri bahwa anak memang merupakan suatu anugerah besar dalam sebuah pernikahan. Mereka yang bisa menjadi orangtua merasa sangat beruntung karena tidak semua orang dapat merasakan pengalaman seperti ini. Namun, kegembiraan itu dapat perlahan sirna tatkala keinginan untuk punya anak ternyata tidak disertai persiapan yang matang.

Pasalnya, memiliki anak memerlukan komitmen besar dari kedua orangtuanya. Ada materi dan kasih sayang yang harus disediakan agar buah hati tumbuh bahagia secara lahir dan batin. Semua itu menguras waktu dan tenaga, serta sangat menuntut kedewasaan orangtua, sehingga tentu bukan urusan yang dapat dipikirkan sambil jalan, bukan begitu?

2. Butuh biaya tinggi untuk membesarkan anak

ilustrasi seorang ibu yang sedang menemani anak belajar (pexels.com/cottonbro studio)

Kalau kamu mengira bahwa menyiapkan biaya perawatan anak bisa dipikirkan nanti saja kalau sudah benar-benar punya anak, lebih baik merenung lagi, deh. Pasalnya, pemikiran seperti inilah yang membuat banyak orangtua di luar sana kewalahan dalam menjalani hidupnya. Orangtua bingung, anak pun jadi korban.

Kamu harus mengerti bahwa biaya untuk membesarkan anak sangatlah tinggi. Ketika dia masih bayi, kamu perlu membelikan berbagai kebutuhan dasar yang harganya bisa mahal. Begitu tumbuh lebih besar, dia mulai bisa minta banyak hal, seperti mainan atau perayaan pesta ulang tahun seperti yang dilakukan teman-temannya. Tidak hanya itu, anak pun bisa juga jatuh sakit dan membutuhkan biaya perawatan yang tinggi, serta berbagai hal lainnya. Jika persiapannya hanya main-main, sudah pasti bakal babak belur, kan?

3. Biaya pendidikan anak sama sekali tidak murah

ilustrasi anak-anak di sekolah (pexels.com/Naomi Shi)

Merawat anak tentu saja bukan sekadar urusan memberi makan dan kasih sayang. Supaya tumbuh menjadi manusia yang pintar dan bermanfaat, anak juga perlu mengenyam pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang berhasil dicapai, diharapkan anak dapat menjadi sosok yang berkualitas.

Namun, jangan lupa bahwa biaya pendidikan anak tidaklah murah. Jangankan masuk perguruan tinggi, biaya masuk taman kanak-kanak pun sudah banyak yang selangit. Kalau kamu tidak memikirkan ini sejak awal, dapat dipastikan bahwa akan mengalami kesulitan yang serius di kemudian hari.

Memutuskan untuk punya anak tentu bukan hal yang keliru. Meski begitu, kamu perlu mengetahui dan memahami alasan punya anak tanpa perencanaan matang adalah beban berat. Tetap diperlukan kebijaksanaan untuk turut membuat perencanaan yang matang dalam rangka merawat buah hati. Kalau mampu jadi orangtua yang bertanggung jawab, anak juga yang akan merasakan kenyamanannya, kan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team