Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak Sering Rewel atau Memang Lagi di Fase Wajar? Ini Penjelasan Ahli!
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Sering kali orangtua dibuat bingung saat anak tiba-tiba menjadi rewel, sulit diatur, membantah, atau terlihat tidak mau dengar. Di satu sisi perilaku ini terasa melelahkan, tapi di sisi lain, bisa jadi itu adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak.

Pada usia dini, anak belum sepenuhnya mampu mengelola emosi, memahami konsekuensi, atau mengekspresikan keinginan dengan cara yang tepat. Mereka masih belajar, dan proses ini tentu tidak selalu mulus. Apakah sikap anak seperti ini wajar? Yuk, simak penjelasannya lewat artikel berikut!

1. Saat anak terlihat tidak mau mendengarkan

ilustrasi anak tidak mau mendengar (pexels.com/gabbyk)

Salah satu keluhan paling umum orangtua adalah anak yang seolah-olah tidak mendengar saat dipanggil atau diminta melakukan sesuatu. Misalnya, ketika diminta berhenti bermain dan mandi, anak justru tetap asyik dengan dunianya sendiri.

Mengutip dari Parents, menurut Shefali Tsabary, PhD, seorang psikolog anak dan penulis The Awakened Family, kondisi ini sering disalahartikan sebagai pembangkangan. Padahal, sering kali mereka hanya terdistraksi atau terlalu asyik bermain untuk memperhatikan.

Daripada langsung memarahi, orangtua bisa mencoba memahami dulu apa yang sedang dirasakan anak. Validasi situasinya, lalu arahkan dengan bahasa yang lebih lembut. Memberikan pilihan juga bisa membantu anak merasa lebih dihargai.

2. Anak terlihat liar dan sulit diam

ilustrasi dua anak berebut mainan (pexels.com/100files)

Anak kecil memang memiliki energi yang besar, tetapi kemampuan untuk mengendalikan tubuhnya masih berkembang. Akibatnya, mereka sering terlihat aktif berlebihan atau sulit duduk tenang. Menurut Lise Eliot, PhD, Profesor Ilmu Saraf, dikutip dari Parents, kondisi ini berkaitan erat dengan perkembangan otak anak.

“Anak-anak memiliki energi untuk bergerak, tetapi belum memiliki kemampuan untuk menghambat gerakan tubuhnya,” jelas Lise Eliot.

Ketika anak lelah atau terlalu banyak stimulasi, perilaku ini bisa semakin sulit dikendalikan. Karena itu, aktivitas fisik sebenarnya penting untuk membantu menyalurkan energi mereka secara sehat. Memberikan ruang bermain bebas atau aktivitas sederhana seperti membantu orangtua bisa menjadi cara yang efektif.

3. Mudah gelisah di tempat umum

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Membawa anak ke restoran atau acara keluarga sering menjadi tantangan tersendiri. Anak cenderung cepat bosan, sulit duduk lama, dan akhirnya menjadi gelisah. Dr. Shefali Tsabary menjelaskan bahwa hal ini sangat wajar karena anak memiliki rentang perhatian yang pendek.

“Mereka punya waktu fokus yang singkat, dan setelah itu mereka tidak bisa duduk diam atau menunggu dengan sabar,” jelas Dr. Shefali Tsabary.

Untuk mengantisipasi hal ini, orangtua bisa membawa mainan kecil, buku gambar, atau aktivitas ringan lainnya. Selain itu, memastikan makanan anak datang bersamaan dengan orangtua juga bisa membantu mengurangi rasa bosan.

4. Mulai membantah dan meniru kata-kata kasar

ilustrasi memarahi anak (pexels.com/gabbyk)

Di usia prasekolah, anak mulai banyak meniru apa yang mereka lihat dan dengar, termasuk dari teman sebaya. Tidak jarang mereka kemudian mengucapkan kata-kata yang terdengar kasar atau membantah orangtua.

Dikutip dari Parents, menurut Laura Markham, PhD, seorang psikolog klinis di Universitas Columbia dan penulis Peaceful Parent, Happy Kids, ini bukan berarti anak benar-benar memahami arti ucapannya. Anak mungkin sedang marah, tetapi sebenarnya mereka hanya meniru apa yang mereka dengar dari anak lain.

Dalam kondisi ini, orangtua perlu tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan. Anak perlu diarahkan untuk memahami bahwa ada cara yang lebih baik dalam mengekspresikan perasaan.

5. Mengamuk atau tantrum

ilustrasi anak menangis (pexels.com/keiraburton)

Tantrum adalah bagian yang sangat umum dalam perkembangan anak, terutama di usia 1 hingga 3 tahun. Di fase ini, anak belum mampu mengendalikan emosi besar seperti marah atau frustrasi. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), tantrum biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia dan perkembangan kemampuan bahasa anak.

Dr. Lise Eliot juga menekankan pentingnya peran orangtua dalam menghadapi situasi ini. Orangtua perlu untuk tidak langsung menuruti permintaan anak saat tantrum, tetapi tetap hadir dengan sikap tenang, sabar, dan penuh empati.

“Berikan ruang bagi anak untuk meluapkan emosinya, bahkan jika harus membawanya ke ruangan lain,” ujar Dr. Lise Eliot.

6. Perilaku agresif pada anak

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)

Perilaku seperti mendorong, memukul, atau merebut mainan sering membuat orangtua khawatir. Namun pada balita, hal ini masih tergolong normal dalam proses belajar mengelola emosi. Menurut AAP, anak usia dini belum memiliki kontrol diri yang matang sehingga bisa meluapkan emosi secara fisik.

Di tahap ini, orangtua berperan penting sebagai contoh. Anak perlu melihat bagaimana cara berinteraksi yang lembut dan sehat. Selain itu, anak juga perlu diajarkan cara lain untuk mengekspresikan perasaan, misalnya dengan mengatakan “aku tidak mau bermain sekarang” daripada melakukan tindakan agresif.

Jadi, sebelum buru-buru menganggap anak rewel atau sulit diatur, bisa jadi mereka sebenarnya sedang berada di fase belajar yang normal. Di tahap ini, yang paling dibutuhkan anak bukan hukuman, tapi pendampingan dan pemahaman dari orangtua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team