Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Konsep Good Enough Parenting? Orangtua Gak Harus Selalu Sempurna
ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)

Menjadi orangtua di era sekarang sering terasa penuh tekanan karena standar pengasuhan terlihat semakin sempurna, terutama di media sosial, sehingga banyak orangtua merasa harus selalu sabar, anak harus selalu “baik-baik saja”, dan keluarga tampak ideal. Akibatnya, hal-hal wajar dalam pengasuhan sering memicu kecemasan dan rasa takut dianggap gagal.

Di tengah kondisi ini, good enough parenting hadir sebagai pengingat bahwa orangtua gak perlu sempurna untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Yang dibutuhkan anak adalah kehadiran, kasih sayang, dan hubungan yang hangat meski tetap ada kesalahan di dalamnya. Kalau kamu ingin memahami lebih jauh tentang konsep ini, yuk simak artikel berikut ini!

1. Apa Itu konsep Good Enough Parenting?

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Konsep good enough parenting berawal pada tahun 1950-an ketika dokter anak sekaligus psikoanalis asal Inggris, Donald Winnicott, memperkenalkan istilah “good-enough mother”. Ia menjelaskan bahwa orangtua tidak perlu selalu merespons kebutuhan anak secara sempurna setiap saat. Seiring waktu, tingkat respons tersebut memang akan berkurang secara alami karena anak mulai berkembang dan belajar mandiri.

Menurut Winnicott, kesalahan kecil dalam pengasuhan bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Justru, ketidaksempurnaan itu membantu anak memahami bahwa dunia juga tidak selalu berjalan ideal. Orangtua yang “cukup baik” adalah mereka yang sesekali gagal memenuhi semua kebutuhan anak, dan dari situ anak belajar beradaptasi serta membangun kemandirian.

2. Kenapa konsep ini jadi relevan di era sekarang?

ilustrasi ibu dan anak berbaring di tempat tidur (pexels.com/ketutsubiyanto)

Di zaman sekarang, jadi orangtua terasa makin penuh tekanan. Media sosial membuat standar parenting terlihat serba sempurna, belum lagi ekspektasi lingkungan yang seolah menuntut orangtua selalu tahu apa yang harus dilakukan tanpa salah langkah.

Padahal, banyak ahli justru menekankan kalau anak tidak butuh orangtua yang sempurna. Yang lebih penting adalah orangtua yang hadir secara emosional, mau mendengarkan, dan tidak ragu mengakui serta memperbaiki kesalahan saat terjadi. Jadi, esensinya bukan soal terlihat ideal di mata orang lain, tapi bagaimana hubungan orangtua dan anak tetap terasa hangat, aman, dan saling terhubung meski ada kekurangan di dalamnya.

“Good enough parenting adalah mengakui bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, tetapi orangtua yang nyata yang bisa melakukan kesalahan dan juga memperbaikinya,” ujar Jasmine M. Pulido, parent facilitator dan educator, dikutip dari Parents.

3. Ciri-ciri Good Enough Parent

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Menjadi orangtua "cukup baik" bukan berarti santai tanpa arah, tapi lebih ke kemampuan untuk tetap hadir dan responsif tanpa harus sempurna setiap saat. Berikut beberapa ciri yang biasanya terlihat dalam pola pengasuhan ini:

1. Tidak menuntut kesempurnaan dari diri sendiri

Good enough parent sadar bahwa kesalahan adalah bagian normal dari proses menjadi orangtua. Mereka tidak terlalu keras pada diri sendiri ketika melakukan kekeliruan. Yang lebih penting, mereka mau mengakui dan memperbaiki kesalahan tersebut.

“Tidak ada titik akhir di mana kita akhirnya benar-benar cukup baik dalam menjadi orangtua. Kita hanya sedang belajar menjadi manusia bersama anak-anak kita,” jelas Jasmine M. Pulido.

2. Hadir secara emosional untuk anak

Mereka tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak merasa didengar, dipahami, dan divalidasi perasaannya. Meski tidak selalu bisa memenuhi semua keinginan, anak tetap merasa terhubung.

3. Memberi ruang untuk anak belajar mandiri

Orangtua tidak selalu turun tangan dalam setiap masalah anak. Mereka membiarkan anak mencoba, gagal, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Tujuannya agar anak punya kemampuan menghadapi kehidupan secara lebih mandiri.

4. Menyeimbangkan bantuan dan kemandirian

Good enough parent tahu kapan harus membantu dan kapan harus mundur. Mereka tidak over-protective, tapi juga tidak lepas tangan. Keseimbangan ini membantu anak tumbuh lebih percaya diri.

5. Fokus pada hubungan, bukan penilaian orang lain

Mereka tidak menjadikan parenting sebagai ajang pembuktian diri. Yang utama adalah hubungan yang sehat antara orangtua dan anak. Bukan sekadar terlihat “sempurna” di mata lingkungan.

6. Mau memperbaiki hubungan setelah konflik

Saat terjadi kesalahan atau pertengkaran, mereka tidak menghindar. Justru mereka berusaha memperbaiki keadaan lewat komunikasi. Ini mengajarkan anak bahwa hubungan bisa diperbaiki, bukan ditinggalkan.

4. Dampak positif Good Enough Parenting untuk anak

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Anak yang tumbuh dengan pendekatan ini biasanya lebih mudah menerima kesalahan sebagai bagian normal dari hidup. Mereka tidak merasa harus selalu sempurna agar bisa dicintai atau diterima oleh orangtuanya. Hal ini membantu anak memiliki rasa aman secara emosional.

“Seorang ibu yang tidak sempurna membantu anaknya mengembangkan kemampuan untuk menoleransi frustrasi, menjadi mandiri, dan belajar menenangkan dirinya sendiri. Itu adalah ciri dari ketangguhan (grit) yang membantu anak sukses dalam hidup,” jelas Dr. Alexandra Sachs, seorang psikiater, dikutip dari Today’s Parent.

Selain itu, anak juga belajar bahwa hubungan sehat bukan hubungan tanpa konflik sama sekali. Mereka melihat bagaimana orangtua memperbaiki kesalahan, meminta maaf, dan membangun komunikasi yang lebih baik. Pengalaman seperti ini membantu anak membentuk hubungan yang sehat saat dewasa nanti.

5. Dampak positif untuk orangtua

ilustrasi orangtua dan anak bermain jengga (pexels.com/rdne)

Konsep good enough parenting membantu orangtua mengurangi rasa bersalah berlebihan dalam menjalani pengasuhan. Orangtua tidak lagi merasa harus selalu kuat, sabar, dan sempurna setiap waktu. Mereka bisa lebih menerima bahwa lelah dan kewalahan adalah bagian normal dari parenting.

Ketika tekanan untuk tampil sempurna berkurang, kesehatan mental orangtua biasanya ikut membaik. Hubungan dengan anak juga terasa lebih ringan karena tidak dipenuhi tuntutan yang terlalu tinggi. Orangtua jadi lebih fokus menikmati momen bersama anak dibanding sibuk memenuhi ekspektasi sosial.

Pada akhirnya, menjadi orangtua bukan tentang siapa yang paling sempurna. Anak mungkin tidak akan mengingat rumah yang selalu rapi atau bekal yang selalu estetik setiap hari. Namun mereka akan mengingat bagaimana orangtuanya membuat mereka merasa aman, didengar, dan dicintai bahkan saat keadaan sedang tidak sempurna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team