Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi grooming
ilustrasi grooming (pexels.com/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Grooming tidak hanya menargetkan anak-anak, tetapi juga remaja dengan kerentanan emosional yang berbeda.

  • Pelaku membangun kedekatan secara perlahan lewat perhatian, validasi, dan kepercayaan untuk mengendalikan korban.

  • Kesadaran dan kewaspadaan penting karena proses grooming sering tampak wajar dari luar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Grooming mulai santer dibahas luas karena sering muncul dalam berita dan percakapan sehari-hari. Hal ini membuat banyak orang penasaran apakah ancamannya hanya diarahkan pada anak-anak atau justru jauh lebih luas dari itu. Istilah ini menempel pada tindakan yang dilakukan seseorang untuk mendekati target dengan tujuan tertentu melalui komunikasi yang tampak wajar.

Fenomena tersebut berkembang seiring media sosial yang membuka banyak ruang perkenalan tanpa batas usia, latar, maupun tempat. Di balik tampilan akrab, ada proses membangun kedekatan yang bisa menyasar siapa pun tergantung kesempatan dan kelemahan sang korban. Berikut sudut pandang yang menunjukkan bahwa masalah ini tidak eksklusif pada anak-anak.

1. Pelaku mengincar anak karena mereka masih mencari figur yang dipercayai

ilustrasi grooming (unsplash.com/

Pelaku sering bergerak mendekati anak karena tahap hidup mereka penuh dengan pencarian panutan dan sosok yang mereka rasa aman untuk diajak berbagi. Pada usia itu, perhatian sederhana, seperti memuji, mendengarkan cerita sepele, atau memberikan hadiah kecil terasa sangat berarti dan mudah disalahpahami sebagai tanda kasih. Kondisi seperti ini menjadikan anak lebih rawan menerima kedekatan siapa pun tanpa mempertanyakan tujuan di baliknya. Pelaku memanfaatkan pusat perhatian tersebut sebagai pintu masuk, seolah menawarkan kedewasaan palsu atau kesempatan untuk dianggap lebih istimewa dibanding teman lain.

Saat kedekatan mulai terasa wajar, pelaku perlahan mendorong anak agar mulai membuka lebih banyak cerita pribadi, kebiasaan sehari-hari, bahkan rahasia kecil yang tampaknya tidak berbahaya. Dengan menguasai informasi tersebut, pelaku mendapatkan pegangan yang membuat anak merasa sulit menolak atau mengambil jarak. Banyak kasus terlambat diketahui karena dari luar hubungan semacam itu tampak hanya seperti ikatan akrab yang tidak memiliki ciri tanda bahaya.

2. Remaja menjadi target karena sedang mencari tempat untuk dianggap

ilustrasi grooming (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Meski usia remaja lebih mandiri, mereka berada pada fase ketika penerimaan dari orang lain terasa seperti mata uang penting. Pelaku memanfaatkan kebutuhan itu melalui janji, validasi, dan kesan bahwa mereka satu frekuensi. Di ruang digital, misalnya, pelaku masuk sebagai teman ngobrol yang memahami hobi atau keinginan sehingga remaja merasa menemukan seseorang yang benar-benar mengerti mereka. Percakapan yang awalnya ringan melebar menjadi keterikatan emosional yang membuat remaja merasa utang budi pada pelaku.

Ketika rasa saling percaya sudah terbentuk, permintaan mulai bergeser. Ini bisa berupa hal yang terlihat biasa sampai sesuatu yang melawan kenyamanan korban. Pelaku mengemas permintaan itu seolah layanan timbal balik, seakan-akan wajar diberikan kepada seseorang yang telah banyak mendengarkan keluh kesah mereka. Remaja pun sering merasa bersalah atau takut dianggap tidak setia jika menolak sehingga tekanan datang bukan dari ancaman terbuka tetapi dari ketakutan emosional.

3. Anak-anak rentan karena keterbatasan pengalaman dan filter

ilustrasi grooming (unsplash.com/Jutta Kamp)

Anak-anak sering kali belum memiliki kemampuan untuk menilai mana orang asing yang aman dan mana yang berpotensi merugikan. Pelaku tahu persis bahwa fase ini membuat mereka bisa masuk melalui hal sederhana, seperti candaan, hadiah, permainan, atau perhatian yang langka didapat anak. Dengan menciptakan kesan bahwa mereka hadir sebagai sosok penyelamat atau teman yang menyenangkan, pelaku membuat hubungan yang dari luar terlihat tidak membahayakan. Anak menerima hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa karena belum memiliki pengalaman membandingkan perlakuan baik yang tulus dan yang berkepentingan.

Ketika ikatan dianggap stabil oleh korban, pelaku menggeser batas sedikit demi sedikit. Anak yang belum memahami konsekuensi akan mengikuti arahan tanpa curiga. Masalah muncul karena perubahan terjadi perlahan sehingga anak tidak merasa mengalami sesuatu yang salah. Ketika pelaku akhirnya meminta sesuatu yang tidak pantas, anak kadang membacanya sebagai bagian dari permainan baru, bukan situasi yang berbahaya.

4. Remaja sering tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan

ilustrasi grooming (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Berbeda dari anak-anak, remaja sudah merasa mempunyai suara dan pilihan. Ketika pelaku mendekat, mereka tidak melihat dirinya sebagai korban. Pelaku memulai dari simpati, sok menasihati, atau menjadi figur yang memberi ruang aman ketika remaja merasa sulit mengobrol dengan keluarga. Karena keterlibatan berlangsung secara bertahap, remaja memaknai interaksi itu sebagai bentuk perhatian tulus yang jarang diberikan oleh orang lain. Faktor ini membuat banyak remaja bahkan membela pelaku ketika orang dewasa lain mulai curiga. Mereka yakin sedang berada dalam hubungan yang sehat atau sah sebagai teman dekat.

Setelah percaya penuh, remaja sering menuruti permintaan yang semakin masuk ke ranah pribadi karena merasa bagian dari hubungan rahasia yang spesial. Kondisi ini memperkuat kendali pelaku. Sebab, korban mulai merasa terikat dan takut kehilangan figur yang dianggap memahami diri mereka. Bahkan, ketika remaja menyadari ada sesuatu yang tidak nyaman, mereka tidak selalu tahu bagaimana mengambil jarak.

Pertanyaan yang sering muncul ialah apakah grooming memang hanya mengincar anak kecil. Adapun, jawabannya tidak sesederhana itu. Rentang 0–17 tahun memiliki kerawanan masing-masing yang bisa dimanfaatkan pelaku secara berbeda, mulai dari rayuan hadiah sampai janji-janji manis. Kalau begitu, bukankah sudah saatnya kita lebih jeli melihat siapa saja yang mendekati anak dan dengan cara apa?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎