ilustrasi grooming (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Berbeda dari anak-anak, remaja sudah merasa mempunyai suara dan pilihan. Ketika pelaku mendekat, mereka tidak melihat dirinya sebagai korban. Pelaku memulai dari simpati, sok menasihati, atau menjadi figur yang memberi ruang aman ketika remaja merasa sulit mengobrol dengan keluarga. Karena keterlibatan berlangsung secara bertahap, remaja memaknai interaksi itu sebagai bentuk perhatian tulus yang jarang diberikan oleh orang lain. Faktor ini membuat banyak remaja bahkan membela pelaku ketika orang dewasa lain mulai curiga. Mereka yakin sedang berada dalam hubungan yang sehat atau sah sebagai teman dekat.
Setelah percaya penuh, remaja sering menuruti permintaan yang semakin masuk ke ranah pribadi karena merasa bagian dari hubungan rahasia yang spesial. Kondisi ini memperkuat kendali pelaku. Sebab, korban mulai merasa terikat dan takut kehilangan figur yang dianggap memahami diri mereka. Bahkan, ketika remaja menyadari ada sesuatu yang tidak nyaman, mereka tidak selalu tahu bagaimana mengambil jarak.
Pertanyaan yang sering muncul ialah apakah grooming memang hanya mengincar anak kecil. Adapun, jawabannya tidak sesederhana itu. Rentang 0–17 tahun memiliki kerawanan masing-masing yang bisa dimanfaatkan pelaku secara berbeda, mulai dari rayuan hadiah sampai janji-janji manis. Kalau begitu, bukankah sudah saatnya kita lebih jeli melihat siapa saja yang mendekati anak dan dengan cara apa?