Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Ulang Tahun, 8 Momen Inilah yang Paling Membekas bagi Anak
ilustrasi orangtua jemput anak (magnific.com/jcomp)
  • Penelitian menunjukkan anak lebih mengingat momen sederhana seperti perjalanan pulang, suasana rumah, dan rutinitas kecil dibanding acara besar seperti ulang tahun atau liburan.
  • Ingatan masa kecil terbentuk dari pengulangan dan emosi yang terlibat, termasuk cara orangtua bereaksi terhadap kesalahan serta bagaimana mereka memperlakukan diri sendiri dan orang lain.
  • Suasana emosional di rumah—senyuman, perhatian hangat, hingga respons saat anak melakukan kesalahan—menjadi faktor penting yang membentuk kenangan jangka panjang anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu mungkin berpikir bahwa anak-anak akan paling mengingat momen-momen besar seperti ulang tahun, liburan ke luar negeri, atau hadiah mahal. Namun kenyataannya, yang paling membekas justru sering kali adalah hal-hal kecil dan biasa, lho.

Para peneliti menemukan bahwa ingatan masa kecil jarang dibangun hanya dari acara-acara yang direncanakan. Justru momen-momen sederhana seperti perjalanan pulang atau suasana di dapur yang sering tersimpan lebih lama.

Artikel ini akan membantumu melihat delapan momen sehari-hari yang ternyata paling diingat anak, berdasarkan pola dari penelitian ingatan masa kecil. Yuk, simak!

1. Perjalanan pulang bersama

ilustrasi orangtua antar anak (magnific.com/freepik)

Pulang sekolah atau pulang dari suatu tempat biasanya menjadi waktu yang paling gak difilter oleh emosi. Menurut penelitian dalam Journal of Experimental Psychology: General, ingatan anak-anak terbentuk secara bertahap dan dipengaruhi oleh pengulangan serta emosi yang terlibat. Beberapa menit setelah dijemput, sebelum rutinitas sore dimulai, sering kali meninggalkan jejak yang lebih kuat daripada kegiatan yang baru saja dilakukan. Anak-anak cenderung mengingat suasana di mobil, lagu yang diputar, atau apakah orangtua mereka terlihat hadir atau lelah.

2. Reaksi saat ada barang yang rusak

ilustrasi anak menumpahkan susu (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Anak selalu memperhatikan bagaimana orang dewasa bereaksi ketika sesuatu gak berjalan sesuai rencana. Gelas pecah, minuman tumpah, atau barang jatuh bisa menjadi momen yang sangat membekas bagi mereka. Respons marah, diam panjang, atau justru tertawa akan memberi gambaran tentang bagaimana rumah menghadapi kesalahan. Dari situ, anak belajar apakah kesalahan dianggap sebagai hal menakutkan atau sesuatu yang masih bisa diperbaiki.

3. Sepuluh menit pertama saat orangtua pulang kerja

ilustrasi anak memeluk ayahnya (magnific.com/freepik)

Anak sering menjadikan momen ini sebagai penentu suasana rumah. Mereka memperhatikan apakah orangtua langsung sibuk dengan ponsel, terlihat lelah, atau benar-benar menyapa dengan hangat. Hal kecil seperti senyuman dan tatapan mata ternyata bisa terasa sangat berarti. Banyak orang dewasa masih mengingat jelas kebiasaan orangtuanya ketika membuka pintu rumah sepulang kerja.

4. Rutinitas kecil yang dilakukan berulang

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kalimat sebelum tidur, candaan receh, atau lagu sederhana yang sering dinyanyikan bisa menjadi kenangan jangka panjang. Hal-hal seperti ini mungkin terasa biasa karena dilakukan terus-menerus. Padahal justru pengulangan membuat memori lebih kuat tersimpan di otak anak. Beberapa orang dewasa bahkan masih mengingat nada suara orangtuanya saat mengucapkan selamat tidur puluhan tahun lalu.

5. Cara orangtua berbicara tentang diri sendiri

ilustrasi anak dan orangtua (pexels.com/Gustavo Fring)

Anak ternyata sangat mudah menyerap komentar kecil dari orang dewasa. Kalimat seperti merasa jelek, capek hidup, tua, atau gagal sering masuk ke ingatan mereka tanpa disadari. Ucapan spontan di depan cermin atau saat mengeluh di dapur bisa membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri. Karena itulah, cara kamu memperlakukan diri sendiri sering ikut memengaruhi cara anak melihat dunia.

6. Sikap orangtua terhadap orang lain

ilustrasi pelayan restoran (freepik.com/pressfoto)

Anak memperhatikan bagaimana kamu berbicara kepada tetangga, pelayan restoran, atau petugas layanan pelanggan. Mereka melihat nada bicara, kesabaran, sampai ekspresi wajah saat menghadapi orang lain. Dari situ, anak belajar tentang empati dan cara memperlakukan sesama manusia. Sikap sehari-hari seperti ini sering jauh lebih berpengaruh dibanding nasihat panjang tentang sopan santun.

7. Suasana rumah yang mereka rasakan

ilustrasi sarapan keluarga (pexels.com/August de Richelieu)

Anak biasanya lebih peka terhadap suasana dibanding kata-kata. Mereka bisa merasakan ketegangan saat sarapan, kecanggungan di meja makan, atau kenyamanan saat semua orang berkumpul santai. Banyak kenangan masa kecil sebenarnya bukan tentang kejadian tertentu, melainkan tentang “rasa” dari suasana rumah itu sendiri. Karena itu, atmosfer keluarga sering menjadi hal yang paling lama tinggal dalam ingatan anak.

8. Rasa malu kecil yang pernah mereka alami

ilustrasi anak menangis (pexels.com/Yan Krukau)

Hal seperti jatuh di depan teman, dimarahi di tempat umum, atau ditertawakan orang lain bisa membekas sangat lama. Bagi orang dewasa, kejadian itu mungkin cepat terlupakan. Namun bagi anak, momen tersebut bisa terasa besar dan menyakitkan. Anak juga biasanya mengingat siapa yang membantu menenangkan mereka setelah kejadian itu terjadi.

Masa kecil ternyata gak selalu diingat lewat pesta ulang tahun besar atau hadiah mahal. Justru hal-hal sederhana yang terjadi hampir setiap hari sering menjadi kenangan paling membekas bagi anak. Menurut penelitian dalam Journal of Experimental Psychology: General, ingatan autobiografis anak berkembang perlahan dan lebih mudah terbentuk dari pengalaman yang melibatkan emosi serta pengulangan. Karena itulah rutinitas kecil seperti perjalanan pulang, suasana rumah, atau cara orangtua bereaksi bisa tersimpan sangat lama dalam memori mereka.

Penelitian lain dalam International Journal of Psychology juga menjelaskan bahwa anak lebih gampang mengingat pengalaman yang sering dibicarakan dan memiliki keterikatan emosional. Robyn Fivush, profesor psikologi dari Emory University yang banyak meneliti memori masa kecil, menjelaskan bahwa anak-anak cenderung menyimpan “perasaan” dari sebuah momen dibanding detail kejadiannya secara utuh. Sementara Patricia Bauer dari Emory University menemukan bahwa pengalaman sehari-hari yang terus berulang punya peluang lebih besar untuk menetap dalam ingatan jangka panjang anak.

Karena itu, suasana kecil di rumah sebenarnya punya pengaruh besar terhadap cara anak mengenang masa kecilnya nanti. Senyuman sederhana, perhatian kecil, atau respons hangat saat mereka melakukan kesalahan bisa menjadi memori yang bertahan sampai dewasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team