ilustrasi anak menangis (pexels.com/Yan Krukau)
Hal seperti jatuh di depan teman, dimarahi di tempat umum, atau ditertawakan orang lain bisa membekas sangat lama. Bagi orang dewasa, kejadian itu mungkin cepat terlupakan. Namun bagi anak, momen tersebut bisa terasa besar dan menyakitkan. Anak juga biasanya mengingat siapa yang membantu menenangkan mereka setelah kejadian itu terjadi.
Masa kecil ternyata gak selalu diingat lewat pesta ulang tahun besar atau hadiah mahal. Justru hal-hal sederhana yang terjadi hampir setiap hari sering menjadi kenangan paling membekas bagi anak. Menurut penelitian dalam Journal of Experimental Psychology: General, ingatan autobiografis anak berkembang perlahan dan lebih mudah terbentuk dari pengalaman yang melibatkan emosi serta pengulangan. Karena itulah rutinitas kecil seperti perjalanan pulang, suasana rumah, atau cara orangtua bereaksi bisa tersimpan sangat lama dalam memori mereka.
Penelitian lain dalam International Journal of Psychology juga menjelaskan bahwa anak lebih gampang mengingat pengalaman yang sering dibicarakan dan memiliki keterikatan emosional. Robyn Fivush, profesor psikologi dari Emory University yang banyak meneliti memori masa kecil, menjelaskan bahwa anak-anak cenderung menyimpan “perasaan” dari sebuah momen dibanding detail kejadiannya secara utuh. Sementara Patricia Bauer dari Emory University menemukan bahwa pengalaman sehari-hari yang terus berulang punya peluang lebih besar untuk menetap dalam ingatan jangka panjang anak.
Karena itu, suasana kecil di rumah sebenarnya punya pengaruh besar terhadap cara anak mengenang masa kecilnya nanti. Senyuman sederhana, perhatian kecil, atau respons hangat saat mereka melakukan kesalahan bisa menjadi memori yang bertahan sampai dewasa.