Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Intinya sih...

  • Perempuan perlu mengubah mindset bahwa tidak ada ibu yang sempurna

  • Selalu menyempatkan diri untuk me time agar ibu bisa merawat dirinya sendiri

  • Coba terapkan metode STOP untuk meregulasi emosi dan berpikir lebih rasional

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perempuan kerap menghadapi tantangan demi tantangan. Ketika menjadi ibu, mereka dihadapkan oleh banyak pilihan hidup. Tak jarang, perempuan bisa mengalami baby blues atau Post Partum Depression.

Transisi peran, kurang tidur, serta kurangnya dukungan emosional dan sosial rentan membuat ibu mengalami kelelahan secara fisik dan mental. Bahkan, ibu bisa merasa seperti kehilangan diri sendiri. Lantas, apa yang sebenarnya harus dilakukan ibu supaya mereka gak kehilangan diri sendiri?

1. Mengubah mindset bahwa gak ada ibu yang sempurna

ilustrasi ibu dan anak berpelukan (pexels.com/Yan Krukau)

Seorang ibu perlu mengubah mindset terhadap dirinya sendiri. Founder Gerakan Binar Nani Nurhasanah kepada IDN Times sempat menceritakan pengalamannya mengalami baby blues. Hal ini membuatnya ingin memberikan ruang aman kepada ibu lewat komunitas-komunitas yang ia bangun.

Menurut Nani, ibu harus tahu bahwa mereka gak sendirian. Selama ini, banyak ibu merasa gagal karena kesulitan dalam merawat anak mereka.

"Yang harus disadari itu, semua pasti pernah melakukan kesalahan. Jadi, kegagalan adalah hal yang manusiawi. Jadi, ya udah, gak apa-apa," katanya pada Selasa (27/1/2026) secara daring.

Melalui komunitas yang ia bangun, Nani ingin memberikan dukungan sosial dan emosional kepada para ibu yang sedang belajar. Ia menekankan akan pentingnya mindset bahwa anak sulit makan, rumah berantakan, hal-hal seperti itu wajar terjadi.

"Jadi ini yang ingin kami tekankan, anak gak butuh ibu yang sempurna gitu ya, tapi ibu yang bahagia. Bagaimana ibu bisa berdamai dengan rumah yang berantakan," ucap Nani.

Ia menambahkan, "Jadi, itu mindset dulu yang ingin kami ubah, kalau semua ibu itu tidak ada ibu yang sempurna. Yang penting adalah ibu yang bahagia dan hadir untuk anak."

2. Selalu menyempatkan diri untuk me time

ilustrasi me time sebagai self reward (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Nani menyarankan agar setiap ibu memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Transisi menjadi ibu cukup menguras waktu dan tenaga. Maka dari itu, Nani kerap mengingatkan pada ibu agar menyediakan waktu untuk me-time.

"Kami coba pelan-pelan ajak ibunya untuk melakukan self care, self love," tuturnya.

Di Gerakan Binar, Nani membiasakan ibu untuk me-time. Ibu bisa meluangkan waktu me-time dengan cara sederhana seperti benar-benar mindful saat mandi. Untuk itu, ibu harus tahu me-time seperti apa yang mereka butuhkan dan bisa lakukan.

3. Coba terapkan metode STOP

ilustrasi ibu sedang bermain dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Salah satu bentuk self love adalah memvalidasi perasaan. Seorang ibu butuh yang namanya feeling tracker atau mengetahui dan memvalidasi perasaannya. Nani menganggap hal ini penting untuk menjaga regulasi emosi ibu.

"Kenapa ini penting? Kadang, kita misalnya riweuh (ribet) seharian, telat makan, dan segala macam. Akhirnya anak tantrum, kita (ibu) juga ikutan tantrum. Dengan ibu tahu perasaannya seperti apa, regulasi emosinya kayak gimana, menamai perasaan dan mengelolanya, ibu otomatis gak akan ikutan tantrum," jelasnya.

Nani menyebut metode STOP. Metode ini bisa digunakan ibu untuk meregulasi emosi sehingga bisa berpikir lebih rasional.

"Di Gerakan Binar, kami ajak ibu-ibu menggunakan teknik STOP. S-nya itu stop, berhenti. T-nya take a break, tarik napas. O-nya observasi apa yang sedang terjadi. P-nya proses, ini sebenarnya apa? Jangan-jangan kita marah itu karena lapar atau belum istirahat," sambungnya.

4. Buat jurnal syukur

ilustrasi me time dengan menulis jurnal (pexels.com/Mikhail Nilov)

Supaya gak merasa kehilangan dirinya sendiri, ibu bisa membekali dirinya dengan jurnal syukur. Sesederhana menuliskan tiga hal yang disyukuri hari ini sebelum tidur. Menurut Nani, kegiatan simpel ini sangat penting karena bisa membawa kebiasaan baik yang akan berdampak lebih besar lagi.

Kunci dari semuanya adalah ibu yang bahagia. Menurut Nani, seorang ibu harus mencari kebahagiaannya sendiri. Ketika ibu bisa bahagia, maka ia juga bisa membangun keluarga yang bahagia.

Nani juga menuturkan, "Kita jangan membandingkan diri dengan orang lain. Kita punya jalur bertumbuhnya masing-masing. Sekarang banyak ibu-ibu yang FOMO dengan capaian orang, lihat media sosial. Jadi, ketika kita yakin kalau semua ibu itu sedang berproses, punya jalur bertumbuhnya masing-masing, kita gak lagi FOMO dengan hal itu."

5. Ikut komunitas supaya gak merasa sendiri

ilustrasi ikut komunitas (pexels.com/Matheus Bertelli)

Terakhir, ibu butuh support system. Bukan dari keluarga atau pasangan saja, ibu bisa mencari dukungan sosial dengan mengikuti komunitas.

"Saya ikut komunitas dan di sana saya ngerasa ternyata saya gak sendirian gitu. Ada ibu lain juga yang pastinya di fase saya gitu. Dan ternyata, jadi ibu tuh gak harus sempurna ya. Kita gak harus bener-bener, misalnya, rumah rapi gitu," ceritanya.

Dari komunitas itu, Nani belajar banyak hal. Ia jadi tahu apa prioritas seorang ibu dan bentuk dukungan seperti apa yang ia butuhkan. Hal ini juga yang ia harapkan dari ibu-ibu lainnya supaya mereka gak merasa sendiri.

Di balik peran baru sebagai ibu, perempuan berhak punya ruang untuk tumbuh. Semoga lebih banyak ibu yang tahu bagaimana cara agar dirinya gak kehilangan diri.

Editorial Team