Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi anak
ilustrasi anak (pexels.com/Ivan Samkov)

Intinya sih...

  • Perhatikan kredibilitas sumber informasi parenting, termasuk latar belakang pendidikan dan pengalaman praktik.

  • Jangan langsung percaya pada klaim ekstrem, cari perspektif lain untuk gambaran yang lebih seimbang.

  • Sesuaikan informasi dengan nilai dan kondisi keluargamu sendiri, batasi konsumsi informasi agar tidak merasa kewalahan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era digital seperti sekarang, informasi seputar parenting bisa ditemukan di mana saja. Mulai dari media sosial, blog, podcast, hingga grup chat yang seolah tak pernah sepi dari diskusi tentang cara terbaik membesarkan anak. Namun, alih-alih merasa terbantu, banyak orangtua justru makin pusing karena satu sumber mengatakan A, sementara sumber lainnya justru menyarankan B.

Kebingungan semacam ini sebenarnya wajar terjadi. Kendati begitu, bila dibiarkan berlarut-larut, kamu bisa kehilangan kepercayaan diri dalam mengasuh buah hati sendiri. Supaya tidak terjebak dan stres, simak cara memfilter informasi parenting biar gak makin bingung saat mengasuh buah hati.

1. Perhatikan siapa yang menjadi sumber informasi tersebut

Ilustrasi anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengecek kredibilitas sumber. Apakah informasi itu berasal dari ahli yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang terkait, seperti psikolog anak, dokter spesialis anak, atau praktisi parenting bersertifikat? Ataukah sekadar opini pribadi seseorang yang viral di media sosial?

Tentu saja, pengalaman pribadi orangtua lain juga bisa menjadi referensi yang berharga. Namun, kamu perlu ingat bahwa setiap anak itu unik, sehingga apa yang berhasil untuk satu keluarga belum tentu cocok diterapkan di keluargamu. Informasi dari sumber yang kredibel biasanya lebih bisa dipertanggungjawabkan karena didasarkan pada penelitian atau praktik profesional yang sudah teruji.

2. Jangan langsung percaya pada klaim yang terdengar terlalu ekstrem

ilustrasi anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Pernah membaca artikel atau menonton video yang mengklaim bahwa ada satu metode ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah pengasuhan? Atau sebaliknya, ada peringatan keras bahwa bila kamu melakukan hal tertentu, anak pasti akan mengalami dampak buruk seumur hidupnya? Nah, klaim-klaim semacam ini patut dicurigai.

Dunia parenting itu penuh dengan nuansa dan kompleksitas. Jarang sekali ada solusi yang bersifat hitam-putih atau berlaku universal untuk semua anak. Bila suatu informasi terdengar terlalu menjanjikan atau terlalu menakut-nakuti, ada baiknya kamu mencari perspektif lain sebagai pembanding. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan seimbang.

3. Sesuaikan informasi dengan nilai dan kondisi keluargamu sendiri

Ilustrasi anak (pexels.com/Julia M Cameron)

Setiap keluarga memiliki latar belakang, nilai, budaya, dan kondisi yang berbeda-beda. Informasi parenting yang baik untuk keluarga urban dengan dua anak mungkin tidak sepenuhnya relevan untuk keluarga di pedesaan dengan lima anak dan tinggal bersama kakek-nenek. Begitu pula sebaliknya.

Oleh sebab itu, jangan merasa harus mengikuti semua saran yang kamu temui. Ambil yang sesuai dengan situasimu, modifikasi bila perlu, dan tinggalkan yang memang tidak cocok. Kamu adalah orang yang paling mengenal anakmu, sehingga kamu juga yang paling tahu pendekatan seperti apa yang kemungkinan besar akan berhasil. Percayalah pada intuisimu sebagai orangtua, tetapi tetap terbuka untuk belajar hal baru.

4. Batasi konsumsi informasi agar tidak merasa kewalahan

ilustrasi anak (pexels.com/Kampus Production)

Terkadang, masalahnya bukan pada kualitas informasi, melainkan pada kuantitasnya. Terlalu banyak membaca atau menonton konten parenting justru bisa membuatmu merasa tidak pernah cukup baik sebagai orangtua. Setiap hari ada saja standar baru yang seolah harus dipenuhi, dan ini sangat melelahkan.

Cobalah untuk membatasi waktu yang kamu habiskan untuk mengonsumsi konten parenting. Pilih beberapa sumber tepercaya saja dan ikuti secara konsisten, daripada terus-menerus mencari informasi baru dari berbagai platform. Ingat, menjadi orangtua yang hadir secara utuh untuk anak jauh lebih penting daripada menjadi orangtua yang tahu segalanya tetapi justru kelelahan secara mental.

5. Diskusikan dengan pasangan atau orang terdekat yang kamu percaya

Ilustrasi anak (pexels.com/Ksenia Chernaya)

Menyaring informasi tidak harus dilakukan sendirian. Kamu bisa mendiskusikan apa yang kamu baca atau tonton dengan pasangan, keluarga, atau teman yang juga sedang dalam fase pengasuhan. Dengan berdiskusi, kamu bisa mendapatkan sudut pandang berbeda yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

Selain itu, berbagi dengan orang terdekat juga bisa menjadi cara untuk melepaskan beban pikiran. Terkadang, yang kamu butuhkan bukan informasi baru, melainkan seseorang yang bisa mendengarkan dan mengingatkan bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik. Hasilnya, kamu bisa lebih tenang dan percaya diri dalam menjalani peran sebagai orangtua.

Menerapkan cara memfilter informasi parenting biar gak makin bingung memang membutuhkan usaha ekstra di tengah derasnya arus konten yang tersedia. Namun, dengan sikap kritis dan bijaksana, kamu bisa menemukan informasi yang benar-benar bermanfaat tanpa harus merasa terbebani. Ingat, tidak ada orangtua yang sempurna, dan itu sama sekali bukan masalah. Terpenting adalah kamu terus belajar dan berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu untuk buah hati tercinta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team