Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Tepat Mengenalkan Olahraga Tim ke Anak, biar Jadi Core Memory!
ilustrasi siswa kompak (pexels.com/kampus)

Olahraga tim sering jadi salah satu aktivitas yang dikenalkan orangtua sejak anak masih kecil. Bukan tanpa alasan, kegiatan ini bisa membantu anak lebih aktif sekaligus belajar banyak hal baru. Mulai dari bekerja sama, mengikuti aturan, sampai memahami cara menghadapi kemenangan dan kekalahan.

Meski terlihat sederhana, mengenalkan olahraga tim juga perlu pendekatan yang tepat. Setiap anak punya kesiapan, minat, dan kepercayaan diri yang berbeda. Kalau dilakukan dengan cara yang sesuai, olahraga tim bisa jadi pengalaman seru yang membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan mandiri. Yuk, simak cara mengenalkannya pada anak lewat artikel berikut!

1. Pastikan anak sudah siap secara perkembangan

ilustrasi anak minum dari botol air minum (pexels.com/lilianadrew)

Sebelum mendaftarkan anak ke olahraga tim, penting untuk melihat kesiapan mereka secara menyeluruh. Bukan hanya soal usia, tetapi juga kemampuan mengikuti instruksi, memahami aturan, dan mengoordinasikan gerakan tubuh. Kesiapan ini membantu anak merasa lebih nyaman saat mulai bermain dalam tim.

Biasanya, kesiapan ini mulai terlihat saat anak memasuki usia sekolah dasar. Di fase ini, anak sudah lebih mampu berkonsentrasi dan berinteraksi dengan orang lain. Memahami kesiapan anak sejak awal bisa membantu orangtua menghindari tekanan yang tidak perlu.

“Kuncinya adalah kesiapan perkembangan anak. Secara umum, banyak anak mulai mampu mengikuti olahraga tim terorganisir dengan baik sekitar usia 6 atau 7 tahun atau ketika mereka sudah memiliki koordinasi dan bisa mengikuti aturan dasar,” jelas Tokunbo Akande, dokter anak integratif, dikutip dari Parents.

2. Ikuti minat dan karakter anak

ilustrasi siswa kompak (pexels.com/kampus)

Anak cenderung lebih menikmati olahraga jika mereka memang tertarik melakukannya. Ketika minat datang dari diri sendiri, mereka akan lebih bersemangat dan tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan. Hal ini juga membuat pengalaman olahraga terasa lebih menyenangkan.

Sebaliknya, memaksa anak mengikuti olahraga tertentu bisa membuat mereka cepat kehilangan minat. Setiap anak punya karakter yang berbeda, jadi penting untuk memahami apa yang membuat mereka nyaman. Dengan begitu, olahraga bisa menjadi aktivitas yang mereka nantikan, bukan hindari.

“Selalu ikuti minat dan temperamen anak Anda,” ujar Anita Cleare, pakar parenting, dikutip dari Parents. “Jika mereka merasa tidak nyaman dalam kelompok besar, orangtua bisa mempertimbangkan pilihan yang lebih individual.”

3. Mulai secara perlahan dan jangan terlalu banyak sekaligus

ilustrasi anak-anak bermain di lapangan (pexels.com/goumbik)

Memperkenalkan terlalu banyak aktivitas sekaligus bisa membuat anak merasa kewalahan. Mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, aturan, dan rutinitas latihan. Memulai dari satu olahraga membantu anak fokus dan menikmati prosesnya.

Selain itu, jadwal yang terlalu padat juga bisa membuat anak cepat lelah. Waktu istirahat, bermain, dan belajar tetap perlu dijaga keseimbangannya. Dengan ritme yang lebih santai, anak bisa menjalani olahraga tanpa merasa tertekan.

4. Tetap beri ruang untuk bermain bebas

ilustrasi siswa berolahraga (pexels.com/yankrukov)

Di tengah aktivitas olahraga tim, anak tetap membutuhkan waktu bermain bebas. Momen ini penting untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan rasa percaya diri mereka. Anak juga bisa mengeksplorasi kemampuan tanpa tekanan aturan yang ketat.

Bermain bebas membantu anak mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik. Mereka belajar bergerak sesuai keinginan dan menikmati prosesnya. Hal ini membuat olahraga tim terasa sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan kewajiban.

5. Jaga komunikasi dan perhatikan respons emosional anak

ilustrasi siswa kompak (pexels.com/kampus)

Orangtua perlu memperhatikan bagaimana perasaan anak terhadap olahraga yang mereka jalani. Jika anak terlihat tidak bersemangat, mudah lelah, atau mulai enggan berlatih, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan jeda. Memahami perasaan anak adalah kunci agar olahraga tetap menjadi pengalaman positif.

Ajak anak berbicara secara santai tentang pengalaman mereka. Dengarkan apa yang mereka rasakan tanpa menghakimi. Dukungan dari orangtua akan membuat anak merasa lebih percaya diri dan dihargai.

Mengenalkan olahraga tim sebaiknya dilakukan dengan memahami kesiapan dan perasaan anak, bukan sekadar mengikuti ekspektasi orangtua. Dengan pendekatan yang tepat, olahraga tim bisa menjadi pengalaman berharga yang membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan bahagia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team