ilustrasi sibuk (vecteezy.com/Myron Standret)
Selama Lebaran, banyak hal terasa berbeda karena semua orang berada dalam suasana yang sama dan waktu yang lebih longgar. Aktivitas bersama membuat komunikasi terasa lebih intens, meski hanya sementara. Namun, setelah kembali ke rutinitas masing-masing, kebiasaan lama ikut kembali tanpa disadari.
Misalnya saja, yang sebelumnya sering bertukar cerita saat berkumpul, kembali jarang saling menghubungi setelah pulang. Kesibukan masing-masing membuat hubungan kembali seperti sebelum Lebaran. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, tetapi bisa terasa kontras dibanding suasana sebelumnya. Dari situ muncul kesan bahwa hubungan berubah, padahal yang terjadi adalah kembali ke kebiasaan semula.
Lebaran memang bisa memperlihatkan sisi hangat dari sebuah keluarga, tetapi tidak selalu mencerminkan kondisi yang berlangsung sepanjang waktu. Perasaan bahwa hubungan berubah sering muncul karena perbedaan antara momen singkat dan kenyataan setelahnya. Lalu, apakah yang berubah itu benar hubungan keluarganya, atau hanya cara melihatnya setelah suasana ramai itu berakhir?