Meski di poin 3 orangtua boleh berusaha menyelidiki pelan-pelan ketimbang tiba-tiba menuduh anak begini begitu, pastikan cara-cara yang diambil tetap bijaksana. Jangan malah mempermalukan anak sehingga membuatnya makin kesal.
Misal, terus menghubungi teman-temannya dan menanyakan kebenaran ucapan anak. Atau, selalu mengecek posisi anak dan kegiatannya dari orang-orang yang sedang bersamanya. Ini tak ubahnya memata-matai anak.
Seolah-olah ada kamera tak kasatmata yang selalu mengikuti anak. Pernahkah orangtua memikirkan bahwa mungkin saja anak akan diolok-olok oleh temannya karena tingkah orangtuanya? Penyelidikan bahkan cukup dilakukan dengan strategi wait and see.
Gak ada kebohongan yang akan bisa terus ditutupi. Sering kali bahkan terbuka dengan sendirinya. Kuncinya hanyalah kesabaran orangtua. Bila kemudian perilaku dan ucapan anak sering gak konsisten atau muncul bukti dan saksi yang cukup meyakinkan, mungkin dugaan orangtua benar.
Bila dua hal di atas gak muncul, orangtua harus berani mengakui kekeliruannya pada diri sendiri bahkan pada anak. Meminta maaf pada anak dan belajar mengurangi kecurigaan akan sangat baik untuk hubungan orangtua dan anak.