ilustrasi orangtua memarahi anak (freepik.com /pixelstudio)
Pola asuh yang terlalu menekankan aturan dan hukuman sering dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak. Namun, pendekatan ini bisa membuat anak patuh hanya karena merasa takut, bukan karena memahami. Hal ini pun bisa merusak hubungan emosional antara orangtua dan anak.
Psikolog anak Dr. Robyn Koslowitz, Ph.D., menjelaskan bahwa terkadang anak tantrum, gak sedikit orangtua yang hanya fokus pada perilakunya. Padahal ini adalah cara anak yang mencoba berkomunikasi melalui ledakan emosinya.
“Anak yang membanting pintu atau berteriak bukan mencoba untuk membangkang. Mereka mencoba untuk didengar. Mereka kewalahan dan belum memiliki alat untuk mengekspresikan diri dengan cara yang terkendali," tegas Dr. Koslowitz dikutip dari Parade.
Lebih lanjut, Dr. Koslowitz memberikan saran untuk memvalidasi emosinya. Orangtua bisa mengatakan seperti contoh berikut, “Aku mengerti kamu sangat kecewa. Kamu berharap mendapatkan lebih banyak waktu bermain gadget. Itu masuk akal. Jawabannya tetap tidak, tetapi aku mengerti mengapa kamu kesal.”
Selain itu, riset dari Psychology Today oleh psikolog klinis dan pelatih kehidupan Melanie Greenberg, Ph.D., menjelaskan bahwa pola asuh otoriter dapat menghambat kemampuan anak dalam mengatur emosi dan membangun hubungan yang sehat di masa depan. Anak mungkin terlihat 'baik', tetapi menyimpan tekanan emosional.