ilustrasi orangtua anak (pexels.com/ August de Richelieu)
Banyak orangtua berpikir bahwa semakin panjang penjelasan, anak semakin paham. Faktanya, anak justru bisa kehilangan fokus dan merasa tertekan. Menurut penelitian Psychology Today, otak manusia hanya mampu menampung sekitar empat 'chunk/potongan' informasi dalam satu waktu, atau sekitar 30 detik pembicaraan. Ini berarti ceramah panjang justru tidak efektif.
"Ketika orangtua terus berbicara tanpa henti, anak-anak akan mengabaikannya. Para peneliti telah menunjukkan bahwa otak manusia hanya dapat menyimpan empat 'potongan' informasi atau ide unik dalam memori jangka pendek (aktif) sekaligus. Ini setara dengan sekitar 30 detik (atau 1 atau 2 kalimat) berbicara," jelas Melanie Greenberg.
Komunikasi yang terlalu dominan dari orangtua bisa mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengungkapkan pikirannya sendiri. Melanie pun memberikan contoh agar komunikasi dengan anak menjadi lebih efektif.
Contoh yang tidak efektif:
“Ibu tidak yakin apa yang harus kita lakukan tentang les balet dan renang semester ini. Ibu tahu, Ibu mungkin tidak bisa melakukan keduanya karena les renang diadakan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 4 sore. Jadi itu tidak akan cukup waktu, kecuali Ibu mengemas semua perlengkapan balet di Senin malam, yang berarti harus dicuci pada hari Minggu…”
Di sini Melanie menjelaskan ada begitu banyak ide berbeda dalam pesan ini, sehingga anak lebih bingung dan mengabaikan orangtua. Pesan tersebut juga memiliki nada negatif dan cemas secara keseluruhan yang dapat menyebabkan anak bereaksi dengan keraguan dan kecemasan. Lebih baik coba contoh sebagai berikut.
Contoh efektif:
“Jika kamu mengikuti les balet dan renang semester ini, kamu harus langsung pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam beberapa malam. Jadi, ayo kita duduk dan cari tahu apakah ini masuk akal untukmu dan Ibu.”
Dalam contoh ini, orangtua membatasi percakapan hanya pada dua kalimat, yang memudahkan anak untuk menyerap informasi. Ia juga menjelaskan tujuan keseluruhan (agar bisa berjalan untuk keduanya), dan langkah selanjutnya yang dimintanya (duduk dan membahas masalah tersebut). Terakhir, ia mengkomunikasikan kesediaan untuk berkolaborasi dan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak serta kebutuhannya sendiri.