Gimana sih rasanya jadi anak rantau yang dituntut harus lulus 3,5 tahun untuk jadi sarjana? Ya itulah tuntutan yang harus kupenuhi sekarang. Doa dari ibuku selalu menyertaiku, ya aku tau itu. Karena setiap hari bila aku pulang ke rumah, ibuku selalu bangun tengah malam dan mengambil rosarionya dan berdoa rosario tiga kali putaran hanya untuk mendoakanku dan terkadang dengan meneteskan air mata. Ya, aku tahu itu sesak, terkadang ingin kuakhiri hidupku ketika ibuku menjatuhkan air matanya karena dalam batinku aku merasa gagal belum bisa membahagiakannya.
Hidupku tidak semulus apa yang dikira orang-orang dan teman-temanku selama ini. Mereka hanya memandangku dari luar saja, mereka hanya memandang aku sebagai anak tunggal yang manja dan apa yang aku inginkan pasti akan dipenuhi oleh kedua orangtuaku. Namun semua itu salah, kedua orangtuaku sibuk bekerja dan aku sudah terbiasa untuk hidup sendiri ketika mereka sedang bekerja.
Mereka juga tidak tahu kesesakanku selama ini, mereka tidak tahu betapa sedihnya aku ketika mengetahui bahwa ayah kandungku terkena penyakit jantung koroner yang sewaktu-waktu bisa berpulang kapan saja. Ini semua menjadi tantangan untukku agar aku bisa lebih hidup mandiri, terkedang sempat terlintas dipikiranku untuk melakukan hal-hal yang bertentangan.
Namun aku selalu terbayang raut wajah orang tua ku yang sudah bekerja keras untukku. Tidak ada lagi waktuku untuk bermain-main. ini sudah waktuku untuk serius menjalani kehidupan ini. mereka kedua orang tuaku berharap besar padaku. karena aku tahu, segala pengorbanan dari kedua orang tuaku tidaklah kecil. Mereka rela dipermalukan hanya untuk kebahagiaanku. Ya, keluargaku pernah mengalami jatuh yang sangat dalam sampai aku sempat berpikir tidak akan bisa bangkit lagi.
Namun semua itu sudahlah menjadi masa lalu, yang lama-lama menjadi semu namun masih terpatri di ingatan. dimana segala keluh kesan dan kesusahan orangtuamu menjadi beban yang amat sangat berat untuk dipikul. Ya, aku harus berjuang untuk mengangkat derajat kedua orangtuaku. Aku tidak mau disepelekan lagi terutama bagi orang-orang yang pernah merendahkan keluarga kecilku ini. Dan teganya yang pernah menyepelekan keluargaku bukan hanya datang dari orang-orang luar namun juga dari sanak saudara terdekatku.
Aku sampai habis pikir kenapa mereka tega melakukan itu, di jaman keluargaku masih bisa dikatakan tercukupi, ayah dan ibuku selalu berusaha membantu sanak saudaraku itu. Namun kini semua sangat berbeda, ketika kami yang jatuh, mereka hanya bisa melipat tangan dan tidak mau mengetahui urusan keluargaku. Aku sempat bertanya-tanya apakah ini jalan-Mu, Tuhan?
Ibuku selalu mengatakan bila ini merupakan sebuah ujian dari Tuhan. dan tak lupa selalu menyuruhku untuk mendekatkan diri pada Dia. namun terkadang ketika dirimu berada di titik jenuh, tidak akan mungkin bisa melakukan hal tersebut. sampai aku benar-benar merasa sesak dan ingin putus asa dan mengakhiri hidupku saja. Namun banyak orang-orang di sekitarku yang masih bersikap baik dan mendukungku.
Aku bangkit kembali dan sampai sekarang masih berdiri dan mengharapkan suatu keajaiban di hidupku. Aku berjuang keras untuk segala usaha yang aku lakukan dan tak lupa aku selalu berdoa pada-Nya. Karena aku tahu semua ini akan berakhir dan menjadikan diriku tegar seperti baja. Serta aku yakin ini adalah jalanku untuk menjadi sukses, karena aku tahu segala usaha manusia tidak akan menghianati hasilnya. Biarkan peluhku ini menggantikan kesedihan orang tuaku, membuat mereka menjadi bangga terhadapku.
