Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.
Terlahir disebuah keluarga yang memberi kecukupan dalam banyak kebutuhan membuatku menjadi pribadi yang selalu merasa bahwa semua masih berjalan dengan baik-baik saja. Apapun yang saya butuhkan selalu terpenuhi. Tidak perlu muluk-muluk, semua akan tersedia dengan sendirinya.
Dilahirkan kedunia ini 19 tahun yang lalu dan saya menjadi perempuan satu-satunya dalam keluarga, setelah ibu. Tiga manusia terdahulu yang dilahirkan dari rahim Ibu adalah laki-laki. Kurang lebih selama 4 tahun dalam penantian mereka mendambakan seorang anak perempuan. Karena filosofinya begini, perempuan harus ada dalam sebuah keluarga batak.
Mengetahui bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyak hal yang mereka tunggu-tunggu, membuat saya menyandang predikat menjadi anak yang paling diperhatikan, yang paling dipenuhi kebutuhannya dan yang paling disayang. Saya tumbuh menjadi anak yang suka meminta banyak hal dan cenderung manja. Hingga sekarang, setelah memasuki usia mandiri dalam berpikir dan produktif dalam bekerja saya mulai menyadari bahwa saya berbeda.
Saya berbeda dengan ‘mereka’ yang saya temui di sini, di tempat baru ini. Tempatku membangun masa depanku sendiri. Kami berbeda dalam hal memperjuangkan sesuatu, berbeda dalam hal memaknai sebuah kejadian, bahkan berbeda dalam menghargai sebuah hal kecil. Maka ketika dihadapkan dalam sebuah kesempatan atau sebuah kompetisi saya kerap tak terlalu mau ambil pusing, membuatku menjadi pribadi yang pesimis dan berpikir ketika aku kalah, aku akan selalu dicukupkan dengan mereka.
Apapun yang saya lakukan tidak pernah menjadi masalah. Segala pikiran dan tenaga mereka upayakan untuk semua hal yang saya geluti. Saya selalu merasa semua masih berjalan dengan baik, dan tidak ada gangguan sama sekali. Sampai tidak sadar beberapa hal yang harus dicapai kadang terlewat begitu saja. Tersadarkan oleh beberapa kejadian membuatku merasa malu terhadap pencapaian orang lain, bahkan malu terhadap diri sendiri.
“Bapak, saya belum bisa membelikanmu hadiah ulang tahun seperti yang sudah pernah saya janjikan, saya belum punya uang”, ucapku kala itu. “Bahagia tidak selalu dengan barang, hadiah dan uang. Saya beruntung memiliki kamu, Terima kasih sudah hadir disini” begitu jawabnya sembari menyeduh kopi hitam dan sebatang rokok tembakau pagi kesukaannya. Saya tidak melakukan apa-apa, namun mereka selalu membanggakan ketidak-adaan yang saya hasilkan itu.
Mereka menjadi support atas segala sikap pesimis yang saya alami selama ini. Mereka selalu menceritakan kebanggaannya akanku pada semua orang. Seolah-olah saya adalah pemberian paling berharga yang pernah mereka dapatkan dari Tuhan. Mereka mengajarkan saya banyak hal, bahwa bahagia dunia dan akhirat mereka adalah aku, kakak-kakakku, kami anak-anaknya.
Ketidak ada tuntutan dari ayah dan ibu membuatku merasa bahwa seperti ini saja sudah cukup, tanpa pernah ada rencana untuk memberi lebih. Namun saya tahu, itu adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya.
Sekarang, saya yakin semua akan berubah. Saya tidak akan meminta lagi. Saya akan memberi apa yang yang seharusnya saya beri. Tidak ada kata terlambat untuk berusaha. Belum terlambat untuk memberi. Belum terlambat untuk menciptakan sesuatu yang indah hasil jerih payaku sendiri. Belum terlambat untuk mencapai sebuah masa depan yang kokoh tak tertandingi.
Saya tahu, mereka tak pernah pandai meminta. Sebab mereka paham betul siapa dirinya. Mereka tidak tahu bagaimana caranya bermimpi yang indah, sebab mereka takut semua akan lenyap ketika kakinya mulai menyentuh bumi. Mereka tak pandai meminta banyak hal. Di sisinya menyeduh secangkir teh hangat dalam sebuah mahakarya kehidupanku, menyaksikan mentari perlahan menyelami danau, hanya itu yang mereka mau.
