Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.
Nak, Sesibuk itu kah dirimu hingga berat untuk menanyakan kabarku?
Sesibuk itu kah dirimu hingga kau tak pernah membagi canda tawamu bersama kedua orang tuamu?
Masih teringat tatkala saat itu ibuku mengatakan kalimat itu. Sangat sakit apabila kukenang ketika kesibukanku telah mengesampingkan waktu bersama kedua orang tuaku. Tak kuasa aku menahan air mata bila teringat waktu yang telah aku sia-siakan karena melupakan mereka.
Sebut saja aku Muchsin. Aku hanyalah anak yang lugu. Kedua orang tua ku sangat protektif, dan aku sangat tidak suka dengan itu. Tetapi walaupun demikian, aku adalah anak yang berprestasi di sekolahku.
Saat umurku 15 tahun, aku memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamanku. Aku berhasil mendapatkan bangku di sebuah sekolah terfavorit di kota ini. Sekolahku sangat jauh dari rumahku, dan itulah salah satu alasan yang membuatku untuk memilihnya.
Sejak saat itulah kehidupanku berubah. Mulai dari gaya hidupku dan jadwalku yang semakin padat. Aku banyak mengisi waktu di sekolah, bahkan aku menghabiskan setengah hari untuk belajar dan berorganisasi. Waktu untuk keluarga? Ah, anggap saja aku melakukan semua ini sebagai pelarianku karena selama ini aku hanya hidup dalam dekapan bapak ibuku.
Nilai akademikku saat SMA juga lumayan. Aku harap ini adalah sebuah awal yang bagus untuk merintis karirku. Segalah keperluan telah aku siapkan dengan matang, termasuk menargentkan kampus yang selama ini aku kagumi. Aku ingin merantau untuk menjadi salah satu mahasiswa kampus terbaik di Bandung.
Dua tahun sudah aku menjalani kehidupan di sekolah ini bersama kesibukannya yang tak henti-hentinya hilang dariku. Tak lama lagi aku meninggalkan sekolah ini. Aku rasa inilah saatnya aku membutuhkan orang tua ku untuk mengizinkanku merantau menimba ilmu. Namun, apa yang terjadi ini diluar yang aku duga.
Setelah aku panjang lebar menjelaskan keinginan dan tujuan dalam hidupku, kedua orang tua ku pun mulai menjawabnya,
“Nak, Ibu tahu mimpi-mimpi mu sangat besar, aku telah membaca impian-impian mu yang telah engkau tempelkan di tembok kamarmu dan ibu juga berdoa semoga semua impianmu terwujud” kata ibuku, aku hanya diam.
“Nak, sebenarnya ibu mulai khawatir karena semenjak SMA perilakumu berubah menjadi menjadi seorang yang belum ibu kenal sebelumnya. Handphone mu yang sangat canggih pun tak sanggup untuk memberikan kabarmu, apalagi menanyakan kabar orang tuamu. Pesan yang ibu kekirim padamu bahkan kerap sekali tak terbalas. Ibu hanya melihat senyum, canda dan tawamu melalui akun media sosialmu, karena kau selalu berpaling kepada orang tua yang telah membesarkanmu ini. Nak, Sesibuk itu kah dirimu hingga berat untuk menanyakan kabarku? Sesibuk itu kah dirimu hingga kau tak pernah membagi canda tawamu bersama kedua orang tuamu?” Kata Ibuku yang semakin lirih, aku hanya bisa diam menunduk
“Nak, semenjak kakakmu merantau untuk bekerja, bapak dan ibu merasa kehilangan buah hati yang telah kami besarkan. Kami berharap tidak merasakan hal tersebut untuk yang terakhir kalinya.” Lanjut bapakku.
Kecewa, sesal dan haru menjadi satu saat itu. Mulai saat itu, aku sadar aku harus merubah mindset dan jalan pikiranku. Aku akan memberikan sebuah mahakarya yang tak ternilai harganya, bukanlah harta ataupun tahta yang aku persembahkan.
“Untukmu, kedua orang tuaku yang terus mengasihiku. Akulah mahakarya yang akan kupersembahkan untuk kalian. Akan aku dedikasikan segala sesuatu yang telah aku raih untuk kalian. Aku tidak akan meninggalkan kalian, meski terpaksa aku yang harus pindah dari kampung halaman, aku akan tetap pergi bersama kalian. Karena aku yakin, ridho kalianlah yang akan mengkokohkan pondasi jalan hidup ini. Akulah sang mahakarya itu, yang akan membuat diri kalian kokoh tak tertandingi”.
