Istilah neurodivergen semakin sering dibicarakan, terutama dalam konteks pendidikan dan pengasuhan anak. Istilah ini merujuk pada individu dengan cara kerja otak yang berbeda dari mayoritas, seperti pada Autism Spectrum Disorder, Attention Deficit Hyperactivity Disorder, disleksia, dan kondisi lainnya. Sayangnya, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat yang justru membuat anak neurodivergen disalahpahami.
Padahal, pemahaman yang tepat sangat penting agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Mitos yang keliru tidak hanya berdampak pada cara orang tua dan guru memperlakukan anak, tetapi juga pada kepercayaan diri dan perkembangan mereka. Berikut lima mitos yang perlu diluruskan beserta fakta sebenarnya.
