Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Pengalaman Masa Kecil Anak yang Dibawa sampai Dewasa
ilustrasi parenting (pexels.com/Brett Sayles)

Masa kecil sering dianggap hanya fase singkat sebelum anak tumbuh dewasa. Padahal, banyak pengalaman yang dialami anak justru tersimpan lama dan memengaruhi cara mereka berpikir, merasa, hingga menjalin hubungan ketika dewasa nanti. Hal-hal sederhana seperti cara orangtua bicara, suasana rumah, atau bagaimana anak diperlakukan saat sedih bisa meninggalkan dampak besar.

Banyak psikolog menjelaskan bahwa anak belajar memahami dirinya sendiri dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Karena itu, pengalaman masa kecil tidak selalu hilang begitu saja seiring bertambahnya usia.

1. Anak yang sering diremehkan bisa tumbuh tidak percaya diri

Ilustrasi pola asuh (pexels.com/Karolina Grabowska)

Ucapan yang terdengar sepele seperti “kalau gak bisa ya sudah,” “jangan cengeng,” atau “kamu selalu bikin masalah” ternyata bisa tersimpan lama di ingatan anak. Saat anak terus menerima kritik yang menjatuhkan, mereka perlahan membentuk pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Psikolog perkembangan Carol Dweck menjelaskan bahwa cara orang dewasa memberi respons kepada anak sangat memengaruhi pola pikir dan rasa percaya diri mereka.

"Pandangan yang kamu adopsi untuk diri sendiri sangat memengaruhi cara kamu menjalani hidup," ujar Carol Dweck, profesor psikologi dari Stanford University, dikutip dari laman Stanford Magazine.

Anak yang tumbuh dengan banyak kritik cenderung takut gagal saat dewasa. Mereka sering merasa tidak cukup baik, mudah cemas terhadap penilaian orang lain, dan sulit percaya pada kemampuan diri sendiri. Karena itu, kata-kata yang diucapkan kepada anak sering memiliki dampak lebih besar daripada yang dibayangkan orang dewasa.

2. Anak yang dikucilkan dan jarang didengar bisa sulit mengekspresikan perasaan

ilustrasi pola asuh (pexels.com/Monstera)

Sebagian anak tumbuh di lingkungan yang lebih banyak memerintah daripada mendengarkan. Ketika anak mencoba bercerita lalu dianggap berlebihan atau diabaikan, mereka bisa belajar bahwa perasaannya tidak penting. Terlebih ketika anak merasa selalu dikucilkan, ini bisa berdampak jangka panjang.

“Masa kanak-kanak adalah waktu paling penting bagi perkembangan kita, artinya apa yang terjadi selama tahun-tahun ini dapat berdampak signifikan pada kita selama sisa hidup kita,” kata psikolog Dr. Alexandra Stratyner, Ph.D. dikutip dari Parade.

“Dikucilkan saat masih kecil dapat menyebabkan perasaan kesepian, sedih, marah, ragu-ragu, dan cemas. Jika perasaan ini tidak ditangani, perasaan tersebut dapat berlanjut hingga dewasa, yang dapat merusak kesehatan mental seseorang,” lanjutnya.

3. Ketidakamanan rumah hingga sosial yang tidak dirasakan anak

ilustrasi orangtua bertengkar (pexels.com/cottonbro studio)

Anak sangat peka terhadap suasana rumah dan lingkungan sekitarnya. Ketika mereka merasa dikucilkan saat masih kecil, ternyata bisa membuat mereka merasa tidak aman secara sosial. Hal ini juga bisa dari kurangnya interaksi sosial.

“Kemungkinan ketidakamanan dalam situasi tertentu dapat berasal dari berkurangnya interaksi sosial, sehingga secara harfiah ada lebih sedikit ‘data’ yang bisa digunakan mengenai cara berinteraksi dengan orang lain,” kata Dr. Brandy Smith, Ph.D., psikolog berlisensi dikutip dari Parade.

Pengalaman interaksi sosial ini bisa dibawa anak hingga dewasa. Mungkin dia tidak memiliki ‘data’ cukup tentang bagaimana berinteraksi dengan orang terdekat dan lingkungan sekitarnya.

4. Anak yang dipaksa selalu sempurna bisa tumbuh mudah lelah mental

ilustrasi parenting (freepik.com/freepik)

Sebagian anak dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu berprestasi, selalu patuh, atau tidak boleh melakukan kesalahan. Walau terlihat baik dari luar, tekanan seperti ini bisa membuat anak merasa dicintai hanya ketika berhasil.

Akibatnya, anak mungkin melakukan apa pun hanya untuk mendapatkan perhatikan. Menurut Dr. Alexandra, saat dewasa pola pikir ini bisa bermanifestasi sebagai kecenderungan perfeksionis.

“Seseorang berupaya mencapai kesempurnaan atau melakukan hal-hal di luar batas, dalam situasi di mana tidak perlu mencoba membuktikan nilai dirinya. Mereka mungkin juga melakukan ini untuk mencoba agar diperhatikan,” jelasnya.

5. Anak yang merasa dicintai cenderung lebih aman secara emosional

Ilustrasi parenting kepada anak. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak semua pengalaman masa kecil meninggalkan luka. Anak yang tumbuh dengan rasa aman dan kasih sayang biasanya memiliki fondasi emosi yang lebih kuat ketika dewasa. Mereka merasa dirinya berharga dan lebih mudah membangun hubungan sehat.

Psikiater, peneliti, dan profesor psikiatri klinis UCLA Dr. Daniel Siegel menjelaskan, bahwa hubungan emosional yang hangat membantu perkembangan otak anak menjadi lebih sehat. Dalam lamannya Dr Dansiegel, mengatakan bahwa koneksi akan menciptakan integrasi.

Anak sebenarnya tidak membutuhkan orangtua yang sempurna. Mereka lebih membutuhkan kehadiran emosional yang konsisten, seperti dipeluk saat sedih, didengarkan ketika takut, dan merasa diterima apa adanya. Pengalaman kecil ini sering menjadi rasa aman yang terus mereka bawa hingga dewasa.

Pengalaman masa kecil ternyata tidak berhenti saat anak tumbuh besar. Cara anak diperlakukan, didengarkan, dicintai, atau bahkan dimarahi bisa terus membentuk kepribadian dan kondisi emosional mereka hingga dewasa nanti. Banyak luka maupun rasa aman yang dimiliki orang dewasa sebenarnya berakar dari pengalaman sederhana ketika mereka kecil.

 

Editorial Team